Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Opini: Kenapa Harkitnas Masih Relevan Hari Ini?

Muhammad Suaeb • Minggu, 24 Mei 2026 | 10:30 WIB
Museum Kebangkitan Nasional.
Museum Kebangkitan Nasional.

 

Oleh:
Munawar
Wakil Ketua PC GP Ansor Bojonegoro

 

Setiap 20 Mei, Indonesia memeringati Hari Kebangkitan Nasional. Sebagian orang mungkin menganggap peringatan ini hanyalah agenda seremonial tahunan: upacara, poster bertema nasionalisme, dan ucapan formal di media sosial.

Namun jika dipahami lebih dalam, Hari Kebangkitan Nasional sebenarnya bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit dari keterbelakangan, perpecahan, dan rasa tidak percaya diri. Dan ironisnya, tantangan yang dihadapi Indonesia hari ini memiliki kemiripan dengan kondisi masa lalu, hanya bentuknya yang berbeda.

Hari Kebangkitan Nasional merujuk pada lahirnya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Saat itu, Indonesia belum menjadi negara merdeka. Rakyat hidup di bawah penjajahan, pendidikan hanya dinikmati segelintir orang, dan masyarakat pribumi diposisikan sebagai kelas bawah. Dalam situasi tersebut, muncul kesadaran baru bahwa perjuangan tidak cukup hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan, organisasi, dan persatuan.

Kesadaran itulah yang menjadi inti dari kebangkitan nasional. Bukan sekadar “bangkit” dalam arti emosional, melainkan perubahan cara berpikir masyarakat. Dari yang sebelumnya merasa terpecah sebagai kelompok-kelompok daerah, mulai tumbuh kesadaran sebagai satu bangsa yang memiliki tujuan bersama. Pertanyaannya, apakah semangat itu masih relevan hari ini? Jawabannya: sangat relevan.

Baca Juga: Opini: Saling Kritik Pejabat-Rakyat

Indonesia memang sudah merdeka secara politik, tetapi tantangan bangsa saat ini jauh lebih kompleks. Kita hidup di era digital, di mana informasi bergerak begitu cepat. Ironisnya, kemajuan teknologi tidak selalu membuat masyarakat semakin bijak. Justru di tengah arus informasi yang besar, masyarakat mudah terpecah karena hoaks, propaganda, fanatisme politik, dan perang identitas.

Media sosial sering kali menjadi ruang pertengkaran tanpa akhir. Orang lebih mudah membenci daripada memahami. Perbedaan pilihan politik bisa merusak pertemanan. Perbedaan agama, suku, bahkan pandangan sosial bisa memicu konflik yang tidak perlu. Dalam situasi seperti ini, semangat kebangkitan nasional menjadi penting kembali: bagaimana masyarakat belajar menempatkan kepentingan bangsa di atas ego kelompok.

Kebangkitan nasional juga relevan karena Indonesia masih menghadapi masalah kualitas sumber daya manusia. Dulu, kaum pergerakan percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Hari ini, pendidikan tetap menjadi kunci. Namun tantangannya berbeda. Banyak anak muda memiliki akses internet dan teknologi, tetapi tidak semuanya memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, literasi digital, atau kesempatan ekonomi yang adil.

Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa terkenal dalam semalam, tetapi juga kehilangan arah dalam waktu singkat. Banyak anak muda tumbuh dengan tekanan sosial yang tinggi: harus sukses cepat, harus terlihat kaya, harus viral. Akibatnya, sebagian generasi muda lebih sibuk mengejar validasi daripada membangun kapasitas diri. Di sinilah semangat Hari Kebangkitan Nasional perlu dimaknai ulang. Kebangkitan hari ini bukan lagi melawan penjajah fisik, tetapi melawan kemalasan berpikir, budaya instan, dan mentalitas konsumtif.

Selain itu, Hari Kebangkitan Nasional penting untuk mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak datang secara otomatis. Indonesia memiliki bonus demografi besar, sumber daya alam melimpah, dan populasi muda yang dominan. Namun semua potensi itu bisa sia-sia jika masyarakat tidak memiliki kesadaran kolektif untuk maju bersama.

Kita bisa melihat banyak negara yang berhasil bukan karena kekayaan alamnya, tetapi karena disiplin, pendidikan, dan persatuan masyarakatnya. Sebaliknya, ada juga negara kaya sumber daya tetapi tertinggal karena rakyatnya mudah dipecah, elitnya sibuk berebut kekuasaan, dan generasi mudanya kehilangan visi.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momen refleksi: apakah Indonesia benar-benar sedang bergerak maju, atau justru berjalan di tempat? Apakah masyarakat semakin dewasa dalam berpikir, atau justru semakin mudah diprovokasi? Apakah generasi muda memiliki cita-cita besar untuk membangun negeri, atau hanya bercita-cita menjadi terkenal?

Tentu saja, nasionalisme hari ini tidak harus diwujudkan dengan cara yang sama seperti masa lalu. Anak muda tidak harus turun ke medan perang untuk membuktikan cinta kepada bangsa. Hari ini, nasionalisme bisa diwujudkan dalam bentuk yang lebih sederhana tetapi nyata: belajar dengan serius, membangun usaha yang jujur, menciptakan karya, menjaga toleransi, melawan hoaks, dan menggunakan media sosial secara bijak.

Baca Juga: Opini: Menjanjikan di Atas Kertas, Meragukan di Lapangan

Kebangkitan nasional modern bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena masyarakatnya kehilangan arah dari dalam.

Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional masih relevan karena Indonesia masih membutuhkan “kebangkitan” itu sendiri. Bukan kebangkitan simbolik yang hanya hadir dalam slogan, melainkan kebangkitan pola pikir, karakter, dan kesadaran kolektif sebagai bangsa.

Lebih dari seratus tahun lalu, para pendiri pergerakan nasional percaya bahwa bangsa ini bisa bangkit jika rakyatnya bersatu dan berilmu. Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah generasi hari ini masih memiliki semangat yang sama?

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi refleksi bagi bangsa yang masih menghadapi perpecahan, hoaks, dan krisis kualitas generasi muda. Di tengah era digital yang serba cepat, semangat persatuan, pendidikan, dan kesadaran kolektif tetap menjadi kunci agar Indonesia tidak kehilangan arah menuju masa depan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#harkitnas #hari kebangkitan nasional #indonesia #media sosial #kemajuan bangsa