Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Menjanjikan di Atas Kertas, Meragukan di Lapangan

B
Penulis: Bachtiar Febrianto❯
BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Oleh:
Bachtiar Febrianto
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

 

Advertisement

Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mewajibkan ekspor komoditas strategis seperti batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy melalui BUMN khusus di bawah Danantara merupakan salah satu langkah ekonomi paling berani sejak era reformasi. Pemerintah menyebut kebijakan ini sebagai upaya melaksanakan amanat Pasal 33 UUD 1945, yakni memastikan cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikelola untuk sebesar-besar oleh negara untuk kemakmuran rakyat.

Secara konsep, gagasan tersebut patut diapresiasi. Selama puluhan tahun Indonesia dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam, tetapi manfaat ekonominya sering kali tidak sebanding dengan kekayaan yang diekspor. Pemerintah menilai praktik under invoicing, transfer pricing, dan kebocoran devisa menyebabkan negara kehilangan potensi pendapatan sangat besar. Bahkan Prabowo menyebut Indonesia kehilangan ratusan miliar dolar akibat tata kelola SDA yang tidak optimal selama puluhan tahun.

Dengan menjadikan PT Danantara Sumber Daya Indonesia sebagai pintu ekspor tunggal, pemerintah berharap posisi tawar Indonesia meningkat, harga ekspor lebih terkendali, penerimaan negara bertambah, dan devisa tidak lagi banyak parkir di luar negeri.

Advertisement

Namun persoalannya bukan terletak pada konsep. Persoalan utama justru pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang mengelola dan bagaimana pengawasannya?

Dalam teori ekonomi kelembagaan (institutional economics) yang dikembangkan oleh Douglass North, keberhasilan suatu kebijakan tidak ditentukan oleh bagusnya aturan semata, melainkan oleh kualitas institusi/personal yang menjalankannya. Negara dengan institusi kuat mampu menghasilkan tata kelola yang efektif. Sebaliknya, institusi yang lemah akan mengubah kebijakan ideal menjadi ladang rente baru.

Di sinilah keraguan publik akan muncul. Indonesia masih menghadapi persoalan kronis berupa korupsi, kolusi, dan nepotisme. Data Transparency International dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan skor persepsi korupsi Indonesia masih berada pada level menengah ke bawah dibanding banyak negara maju. Berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat BUMN maupun kementerian juga terus bermunculan. Karena itu, tidak sedikit masyarakat yang bertanya: apakah kebocoran yang sebelumnya terjadi di perusahaan swasta tidak akan berpindah ke BUMN?

Logikanya sederhana. Jika sebelumnya ada seratus pintu kebocoran, pemerintah kini ingin menyatukannya menjadi satu pintu. Secara teoritis pengawasan memang menjadi lebih mudah. Tetapi jika pintu tunggal tersebut justru dikuasai oleh orang-orang yang tidak akuntabel, maka kebocoran dapat menjadi lebih besar dan lebih terpusat.

Pengalaman internasional memberikan pelajaran berharga. Negara seperti Norwegia berhasil mengelola kekayaan minyak melalui negara karena didukung transparansi tinggi, lembaga audit independen, sistem hukum yang kuat, dan budaya antikorupsi yang mapan. Sebaliknya sejumlah negara kaya sumber daya di Afrika dan Amerika Latin mengalami apa yang disebut resource curse atau kutukan sumber daya: kekayaan alam melimpah justru melahirkan oligarki, korupsi, dan ketimpangan karena lemahnya institusi pengawas.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Opini: Saling Kritik Pejabat-Rakyat

Opini: Saling Kritik Pejabat-Rakyat

Di negara yang menganut faham demokrasi, adanya saling kritik antara pejabat dan rakyat adalah hal yang wajar. Bukan hal aneh. Apalagi, tabu. Setiap individu punya hak untuk berpendapat. Untuk mengoreksi. Karena, pejabat

Opini: Adu Kuat Tender Pasar Kota Bojonegoro

Opini: Adu Kuat Tender Pasar Kota Bojonegoro

Lima perusahaan peserta tender itu memiliki rekam jejak masing-masing dalam pengerjaan proyek konstruksi, baik di Bojonegoro maupun luar daerah. Sebagian besar juga tergolong perusahaan bonafide yang berpengalaman menang

Opini: Harga Beras Naik, Salah Petani, Kebijakan, atau Pasar Global?

Opini: Harga Beras Naik, Salah Petani, Kebijakan, atau Pasar Global?

Ketika harga beras naik, yang pertama kali merasakan dampaknya bukanlah pemerintah, melainkan masyarakat. Dapur menjadi lebih mahal, pengeluaran meningkat, dan daya beli perlahan tertekan. Namun, pertanyaan yang jarang

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer