RADAR BOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika teknologi makin canggih dan akses internet ada di genggaman, ancaman konten negatif untuk anak-anak pun meningkat tajam. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah kecanduan konten pornografi yang kini mudah diakses melalui handphone.
Kisah ini dialami langsung oleh Ibu Ratna, seorang ibu rumah tangga di Lamongan. Ia terkejut saat mendapati putra sulungnya, Rian (12), membuka situs dewasa di ponsel. “Saya pikir dia cuma nonton YouTube atau main game. Tapi ternyata, ada celah yang lolos dari pantauan saya,” ujarnya dengan nada sedih.
Fenomena seperti ini bukanlah kasus tunggal. Berdasarkan data KPAI 2024, sekitar 36% anak usia 10-17 tahun pernah mengakses konten pornografi, dengan mayoritas menggunakan smartphone pribadi. Bahkan, lebih dari 60% kasus kekerasan seksual anak dipicu oleh paparan konten dewasa yang dikonsumsi secara diam-diam.
Konten dewasa kini tidak hanya bersembunyi di situs khusus. Mereka juga menyusup lewat media sosial, pop-up dalam game, hingga iklan aplikasi. Banyak anak bahkan “tidak sengaja” menemukannya saat bermain atau mencari sesuatu di internet.
Namun, bukan berarti orang tua tak bisa berbuat apa-apa. Pak Arif, ayah dua anak di Gresik, justru memetik pelajaran dan mengambil langkah tegas. “Saya tidak langsung marah. Tapi saya pasang aplikasi kontrol orang tua, dan lebih rajin ngobrol sama anak soal apa saja yang mereka lihat di internet,” tuturnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Berdasarkan teori psikologi keterlibatan aktif orang tua lebih penting daripada sekadar melarang anak menggunakan gadget.
Harus dibangun komunikasi terbuka. Bahas isu sensitif seperti seksualitas sesuai usia mereka. Karena, kalau anak tidak mendapat jawaban dari orang tua, mereka akan mencarinya di internet.
Berikut ini 5 cara jitu menangkal anak dari kecanduan konten porno lewat gadget:
- Pasang aplikasi parental control seperti Google Family Link atau Safe Kids.
- Batasi waktu penggunaan gadget, maksimal 2 jam sehari di luar kegiatan belajar.
- Temani anak saat menggunakan handphone, terutama saat menjelajah internet.
- Arahkan anak ke konten positif dan edukatif, seperti video sains, dokumenter, dan game berbasis pembelajaran.
- Jalin komunikasi terbuka tentang seksualitas, sesuai tahapan usia anak.
Kini, Ibu Ratna punya rutinitas baru dengan anaknya: membaca buku bersama sebelum tidur dan membuat kontrak digital tentang aturan penggunaan HP. “Awalnya susah, tapi lama-lama jadi kebiasaan baik,” ujarnya tersenyum.
Jangan biarkan anak sendirian menghadapi derasnya informasi digital. Sebab di balik layar kecil itu, bisa saja tersimpan bahaya besar yang mengintai masa depan mereka. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana