Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Adaptasi Akal Imitasi

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Seorang guru peserta Pelatihan AI Jawa Pos Radar Bojonegoro menganalisis hasil praktek penggunaan AI olehnya. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
Seorang guru peserta Pelatihan AI Jawa Pos Radar Bojonegoro menganalisis hasil praktek penggunaan AI olehnya. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Oleh:
Choirul Anam
Ketua PAC Ansor Balen

 

Advertisement

SUATU sore saya duduk di beranda rumah sambil memandangi anak-anak yang sedang bermain di halaman. Sebagian dari mereka tidak lagi membawa bola plastik seperti dulu. Yang terlihat justru layar ponsel kecil di tangan mereka. Ada yang menonton video, ada yang bermain gim, ada pula yang bertanya sesuatu kepada aplikasi yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan.

Saya tersenyum kecil. Dunia yang mereka hadapi jelas berbeda dengan dunia masa kecil kita dulu.

Dulu, jika ingin tahu sesuatu, kita harus membuka buku, bertanya kepada guru, atau berdiskusi dengan teman. Kadang jawaban tidak langsung ditemukan. Kita harus sabar mencari, membaca, dan berpikir. Proses itu memang melelahkan, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Pengetahuan terasa seperti perjalanan panjang yang penuh petualangan.

Advertisement

Sekarang, pengetahuan sering datang hanya dalam hitungan detik.

Cukup mengetik satu pertanyaan, lalu muncul berbagai jawaban. Teknologi yang sering disebut sebagai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Ia mampu menulis, menggambar, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu manusia membuat keputusan.

Sebagian orang menyebut fenomena ini sebagai lahirnya akal imitasi—sebuah sistem yang mampu meniru cara berpikir manusia.

Istilah ini menarik sekaligus sedikit menggelitik. Mesin sebenarnya tidak benar-benar berpikir seperti manusia. Ia tidak memiliki perasaan, pengalaman hidup, atau kegelisahan batin. Namun ia mampu meniru pola berpikir manusia melalui data yang sangat besar. Dari jutaan tulisan, percakapan, dan informasi yang dikumpulkan, mesin belajar mengenali pola, lalu menyusun jawaban yang terlihat seolah-olah lahir dari pemikiran.

Di titik inilah kehidupan manusia memasuki babak baru: masa adaptasi. Adaptasi bukan sekadar soal menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana kita hidup bersama teknologi itu.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kebiasaan Kecil Menjelang Tidur yang Membantu Perkembangan Otak Anak, Ternyata Bukan Sekadar Membacakan Dongeng

Kebiasaan Kecil Menjelang Tidur yang Membantu Perkembangan Otak Anak, Ternyata Bukan Sekadar Membacakan Dongeng

Kebanyakan orang tua mengira kecerdasan anak terutama dibentuk oleh sekolah, les, atau mainan edukatif. Padahal, para ilmuwan menemukan bahwa kebiasaan yang dilakukan beberapa puluh menit sebelum tidur juga memiliki peng

Bocoran Soal Psikotes atau CAT Psikologi Polri: Cek Tahapan Seleksi Polri 2026

Bocoran Soal Psikotes atau CAT Psikologi Polri: Cek Tahapan Seleksi Polri 2026

Persaingan masuk Polri semakin ketat! Pahami 15 tahapan seleksi sistem gugur, kisi-kisi CAT Psikologi, hingga contoh soal HOTS agar peluang lolos seleksi Polri 2026 meningkat.

Ancaman Keamanan Siber PHP2Shell, Celah Kritis yang Bisa Membuat Server Diretas Tanpa Login

Ancaman Keamanan Siber PHP2Shell, Celah Kritis yang Bisa Membuat Server Diretas Tanpa Login

Dengan demikian, ancaman tidak hanya berkaitan dengan kelemahan aplikasi atau sistem pengelolaan konten, tetapi juga dapat berasal dari lingkungan pemrograman yang menjadi fondasi sebuah situs web.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer