RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah dianggap sebagai hal sepele, bullying atau perundungan ternyata dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi korbannya. Tidak sedikit kasus menunjukkan bahwa korban yang terus-menerus mengalami intimidasi tanpa mendapatkan bantuan akhirnya menyimpan kemarahan, dendam, hingga mengambil tindakan nekat sebagai bentuk pelampiasan.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa mengabaikan bullying bukanlah solusi. Justru sikap acuh dari lingkungan sekitar dapat memperparah kondisi korban dan meningkatkan risiko munculnya perilaku agresif di kemudian hari.
Bullying dapat terjadi di sekolah, tempat kerja, lingkungan pertemanan, hingga media sosial. Bentuknya pun beragam, mulai dari ejekan, penghinaan, pengucilan, ancaman, hingga kekerasan fisik.
Baca Juga: Pelaku Bullying di SMPN 1 Blora Dipastikan Dapat Sekolah Baru, Segera Pindah Sekolah
Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap tindakan tersebut sebagai candaan atau bagian dari proses "pendewasaan". Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi, korban bullying yang tidak mendapatkan dukungan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, gangguan kecemasan, bahkan keinginan untuk membalas perlakuan yang diterimanya.
Berikut beberapa kebiasaan yang tanpa disadari dapat memperburuk dampak bullying.
1. Menganggap Bullying Hanya Candaan
Kalimat seperti "cuma bercanda", "jangan baper", atau "biasalah anak-anak" sering kali membuat korban merasa perasaannya tidak dihargai.
Ketika pengalaman menyakitkan dianggap lelucon, korban akan cenderung memendam emosi dan kehilangan kepercayaan untuk mencari pertolongan.
2. Menyalahkan Korban
Masih banyak orang yang justru mempertanyakan sikap korban, misalnya dengan mengatakan mereka terlalu sensitif atau memancing perlakuan buruk dari pelaku.
Sikap victim blaming ini dapat membuat korban merasa bersalah atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya.
3. Membiarkan Pelaku Tanpa Konsekuensi
Ketika pelaku tidak mendapatkan teguran atau hukuman yang sesuai, mereka bisa merasa tindakannya dapat diterima.
Di sisi lain, korban akan menganggap tidak ada pihak yang mampu melindungi dirinya sehingga rasa frustrasi dan marah semakin menumpuk.
4. Tidak Mendengarkan Cerita Korban
Korban bullying sering kali membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Mengabaikan cerita mereka atau langsung menyuruh "lupakan saja" justru dapat membuat korban merasa sendirian dan kehilangan tempat untuk mencari dukungan.
5. Menganggap Korban Harus Kuat Sendiri
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi tekanan psikologis.
Harapan agar korban selalu kuat tanpa memberikan bantuan emosional maupun profesional hanya akan memperburuk kondisi mental mereka.
Baca Juga: Ketahuan Terlibat Aksi Bullying, Pemkab Blora Restui Pemindahan Empat Siswa SMPN 1 Blora
6. Menormalisasi Budaya Senioritas
Di beberapa lingkungan, tindakan merendahkan junior masih dianggap sebagai tradisi.
Jika budaya seperti ini terus dipertahankan, bullying akan terus berulang dan menciptakan korban-korban baru yang berpotensi mengalami trauma berkepanjangan.
7. Mengabaikan Tanda-Tanda Gangguan Mental
Korban bullying dapat menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi pendiam, mudah marah, prestasi menurun, menarik diri dari pergaulan, hingga mengalami gangguan tidur.
Apabila tanda-tanda ini diabaikan, kondisi psikologis korban bisa semakin memburuk dan meningkatkan risiko munculnya tindakan impulsif, termasuk keinginan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Mengapa Korban Bisa Memiliki Keinginan Membalas Dendam?
Tidak semua korban bullying akan melakukan aksi balas dendam. Namun, sebagian korban yang mengalami tekanan berat dalam waktu lama tanpa dukungan dapat menyimpan rasa marah yang terus menumpuk.
Perasaan dipermalukan, tidak dihargai, dan tidak mendapatkan keadilan dapat memicu munculnya fantasi untuk membalas perlakuan yang mereka alami. Faktor lain seperti depresi, trauma, isolasi sosial, serta minimnya dukungan keluarga dan lingkungan juga dapat meningkatkan risiko tersebut.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa perilaku balas dendam bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan sering kali merupakan hasil dari akumulasi tekanan psikologis yang tidak tertangani.
Cara Mencegah Dampak Buruk Bullying
Pencegahan bullying membutuhkan peran semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga masyarakat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-
Menciptakan lingkungan yang aman untuk korban bercerita.
-
Menindak pelaku secara tegas dan edukatif.
-
Mengajarkan empati sejak dini kepada anak.
-
Tidak menormalisasi ejekan atau penghinaan sebagai candaan.
-
Memberikan akses kepada korban untuk mendapatkan bantuan psikolog atau konselor jika diperlukan.
-
Mengajak saksi bullying (bystander) untuk berani melapor atau membantu korban dengan cara yang aman.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Timothy Anugrah: 7 Cara Agar Tidak Menjadi Target Bullying Menurut Psikologi
Kesimpulan
Bullying bukan sekadar candaan atau masalah sepele. Dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental korban dalam jangka panjang, terutama jika lingkungan memilih untuk diam dan mengabaikannya.
Meski tidak semua korban akan membalas dendam, membiarkan perundungan terus terjadi tanpa penanganan dapat meningkatkan risiko munculnya kemarahan, trauma, dan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, membangun budaya saling menghormati, mendengarkan korban, serta memberikan dukungan yang tepat merupakan langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius di masa depan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko