Oleh:
MUNDZAR FAHMAN
Mantan Wartawan Jawa Pos, Tinggal di Bojonegoro
Ada beda gaya antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto di awal-awal masa jabatannya sebagai presiden. Gaya Jokowi polos, lugu, koyok wong ndeso, merakyat, dan suka blusukan ke pasar-pasar. Sedangkan gaya Prabowo, pidatonya menggelegar, tegas, dan garang.
Jokowi menampilkan gayanya tersebut terutama pada tahun-tahun pertama menjadi presiden RI periode pertama (2014-2019). Sedangkan Prabowo menampilkan gayanya tersebut sejak awal dia dilantik sebagai presiden Oktober 2024 lalu.
Dua gaya yang berbeda tersebut membentuk reaksi pasar (rakyat) yang berbeda pula. Jokowi mendapatkan banyak pujian dari masyarakat. Terutama, dari para pendukung setianya. Banyak di antara mereka ini tergabung sebagai buzzer untuk Jokowi. Belakangan mereka ini dijuluki sebagai termul (Ternak Mulyono). Mereka mati-matian untuk citra kesuksesan Jokowi. Bagi termul, Jokowi adalah the best of the best.
Gaya Prabowo di awal-awal menjabat, juga direaksi sangat positif oleh banyak warga. Pidato Prabowo yang berapi-api bahwa dia akan mengejar para koruptor hingga ke ujung dunia, mendapatkan acungan jempol dari banyak warga. Begitu pula pidato Prabowo yang begitu garang, yang menyatakan bahwa dia sebagai prajurit rela mati demi tanah air. Demi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) harga mati.
Baca Juga: Opini: Tender Tanpa Pemenang
Tapi, sayang seribu sayang. Acungan jempol, ataupun pujian-pujian nitizen untuk Jokowi maupun Prabowo itu tidak bertahan lama. Jokowi di periode kedua (2019-2024) sudah banyak dihujat nitizen. Itu karena kerakusan Jokowi pada kekuasaan semakin terang benderang. Belum lagi soal tuduhan ijazah palsunya yang hingga kini masih terus bikin masyarakat gaduh.
Nasib Prabowo lebih ironis lagi. Nitizen yang sempat memberikan pujian di awal, kini sudah banyak yang mengkritiknya. Belum genap dua tahun menjabat, nitizen kini sudah berubah. Mereka kini banyak mengkritik, menilai isi pidato itu hanya sebagai omon-omon.
Sedikitnya ada tiga pidato Prabowo yang banyak dikritik nitizen. Kritik-kritik itu dikemas dalam aneka bentuk. Dalam bentuk video dengan gambar yang lucu-lucu, dengan narasi-narasi yang sangat menggelikan. Mudah-mudahan Prabowo mau menjadikan kritik-kritik tersebut sebagai bahan evaluasi.
Tiga pidato itu adalah tentang kemerosotan nilai rupiah terhadap dolar, tentang pembangunan puluhan ribu KDMP (Koperasi Desa Merah Putih), dan tentang program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sangat dibangga-banggakan Prabowo.
Presiden Prabowo dalam suatu kesempatan, dia mengomentari kenaikan nilai dolar, dan merosotnya harga rupiah. Kata dia, dolar naik tidak masalah. Karena, rakyat di desa belanja kebutuhan tidak pakai dolar. Warga desa belanja pakai rupiah. Dolar naik hanya berpengaruh terhadap mereka yang sering bepergian keluar negeri.
Pidato Pabowo itu langsung dikritik nitizen. Kata mereka, memang betul wong deso tidak belanja pakai dolar. Tetapi, barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat, yang harus diimpor, harganya menjadi naik seiring dengan naiknya dolar. Dan, celakanya, penghasilan rakyat dalam bentuk rupiah, tetap. Bahkan, banyak yang menurun. Banyak video yang lucu-lucu beredar yang isinya mengkritik pidato Prabowo tersebut.
Pidato Prabowo yang membangga-banggakan pembangunan KDMP, juga mengundang kritik pedas dari masyarakat. Dalam sebuah kesempatan, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tidak lama lagi akan memiliki puluhan ribu unit KDMP yang tersebar di seluruh Nusantara.
Saat ini, sebagian besar KDMP itu belum operasional. Umumnya baru sebatas ada bangunan fisik yang terdiri atas beberapa ruangan/bilik. Ruangan masih kosong, belum ada sarana prasarana untuk operasionalnya.
Menurut saya, keberadaan KDMP itu saat ini belum layak untuk dibanggakan. Masih terlalu sangat prematur. Apalagi, banyak warga yang mempertanyakan sumber dana untuk pengadaan tanahnya, status tanahnya seperti apa, dan proses pengadaan tanahnya bagaimananya.
Baca Juga: Opini: Kenapa Harkitnas Masih Relevan Hari Ini?
Belum lagi banyak hal yang masih gelap terkait operasional KDMP itu nanti. Misal, barang-barang yang akan dijual di KDMP itu nanti apa saja. Apakah tidak sama dengan yang dijual dengan toko-toko di desa yang selama ini sudah ada. Juga, managemen keuangannya nanti seperti apa.
Ada satu lagi program yang dibanggakan Prabowo tapi banyak dikritik warga. Yaitu, program MBG (Makan Bergizi Gratis). Prabowo bangga karena program MBG setiap hari sudah mampu memberikan makan gratis bergizi kepada puluhan juta anak didik. Sejak dilaksanakan tahun lalu, sudah ada sekian miliar porsi makanan yang diberikan kepada siswa melalui program MBG.
Menurut saya, Prabowo tidak salah jika membanggakan MBG, jika hanya melihat dari sisi kuantitas siswa yang sudah terlayani selama ini. Tetapi, harusnya, program MBG itu dilihat secara menyeluruh. Besaran anggarannya berapa, dan apakah kualitas menu yang diterima siswa sudah sesuai dengan dana yang dianggarkan. Apakah betul bahwa menu yang selama ini diberikan itu akan mampu mendongkrak gizi siswa penerima MBG?
Semoga Prabowo bisa lebih baik di sisa masa jabatannya, dan mampu merealisasikan janji-janjinya untuk memperbaiki negeri ini. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana