
Oleh:
Munawar
Wakil Ketua PC GP Ansor Bojonegoro
Setiap 20 Mei, Indonesia memeringati Hari Kebangkitan Nasional. Sebagian orang mungkin menganggap peringatan ini hanyalah agenda seremonial tahunan: upacara, poster bertema nasionalisme, dan ucapan formal di media sosial.
Namun jika dipahami lebih dalam, Hari Kebangkitan Nasional sebenarnya bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit dari keterbelakangan, perpecahan, dan rasa tidak percaya diri. Dan ironisnya, tantangan yang dihadapi Indonesia hari ini memiliki kemiripan dengan kondisi masa lalu, hanya bentuknya yang berbeda.
Hari Kebangkitan Nasional merujuk pada lahirnya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Saat itu, Indonesia belum menjadi negara merdeka. Rakyat hidup di bawah penjajahan, pendidikan hanya dinikmati segelintir orang, dan masyarakat pribumi diposisikan sebagai kelas bawah. Dalam situasi tersebut, muncul kesadaran baru bahwa perjuangan tidak cukup hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan, organisasi, dan persatuan.
Kesadaran itulah yang menjadi inti dari kebangkitan nasional. Bukan sekadar “bangkit” dalam arti emosional, melainkan perubahan cara berpikir masyarakat. Dari yang sebelumnya merasa terpecah sebagai kelompok-kelompok daerah, mulai tumbuh kesadaran sebagai satu bangsa yang memiliki tujuan bersama. Pertanyaannya, apakah semangat itu masih relevan hari ini? Jawabannya: sangat relevan.
Baca Juga: Opini: Saling Kritik Pejabat-Rakyat
Indonesia memang sudah merdeka secara politik, tetapi tantangan bangsa saat ini jauh lebih kompleks. Kita hidup di era digital, di mana informasi bergerak begitu cepat. Ironisnya, kemajuan teknologi tidak selalu membuat masyarakat semakin bijak. Justru di tengah arus informasi yang besar, masyarakat mudah terpecah karena hoaks, propaganda, fanatisme politik, dan perang identitas.
Media sosial sering kali menjadi ruang pertengkaran tanpa akhir. Orang lebih mudah membenci daripada memahami. Perbedaan pilihan politik bisa merusak pertemanan. Perbedaan agama, suku, bahkan pandangan sosial bisa memicu konflik yang tidak perlu. Dalam situasi seperti ini, semangat kebangkitan nasional menjadi penting kembali: bagaimana masyarakat belajar menempatkan kepentingan bangsa di atas ego kelompok.
Kebangkitan nasional juga relevan karena Indonesia masih menghadapi masalah kualitas sumber daya manusia. Dulu, kaum pergerakan percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Hari ini, pendidikan tetap menjadi kunci. Namun tantangannya berbeda. Banyak anak muda memiliki akses internet dan teknologi, tetapi tidak semuanya memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, literasi digital, atau kesempatan ekonomi yang adil.
Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa terkenal dalam semalam, tetapi juga kehilangan arah dalam waktu singkat. Banyak anak muda tumbuh dengan tekanan sosial yang tinggi: harus sukses cepat, harus terlihat kaya, harus viral. Akibatnya, sebagian generasi muda lebih sibuk mengejar validasi daripada membangun kapasitas diri. Di sinilah semangat Hari Kebangkitan Nasional perlu dimaknai ulang. Kebangkitan hari ini bukan lagi melawan penjajah fisik, tetapi melawan kemalasan berpikir, budaya instan, dan mentalitas konsumtif.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




