Tiga Poin Inti:
Sumber dan Cara Penularan: Hantavirus dibawa oleh tikus dan umumnya menular ke manusia melalui paparan urine, air liur, atau kotorannya (terutama saat partikel debunya terhirup). Penularan virus ini antarmanusia sangat jarang terjadi.
Gejala Infeksi: Gejala awal paparan Hantavirus mirip dengan flu biasa seperti demam, mual, dan nyeri otot, namun pada kasus yang parah dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga masalah pada ginjal.
Langkah Pencegahan Utama: Risiko infeksi dapat ditekan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Langkah praktisnya meliputi menutup akses masuk tikus ke rumah, menyemprotkan disinfektan sebelum membersihkan area yang terpapar kotoran tikus, dan rajin mencuci tangan dengan sabun.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Belakangan ini istilah hantavirus mulai ramai diperbincangkan di media sosial dan berbagai pemberitaan internasional.
Banyak masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah virus ini berbahaya? Apakah bisa menjadi pandemi baru? Dan sebenarnya seberapa besar risiko bagi masyarakat umum?
Kekhawatiran masyarakat tentu wajar. Apalagi nama virus baru sering kali langsung mengingatkan orang pada pengalaman pandemi beberapa tahun lalu.
Namun, di tengah derasnya informasi yang beredar, masyarakat perlu memahami hantavirus dengan tenang dan berdasarkan sumber kesehatan yang terpercaya.
Menurut World Health Organization (WHO), hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.
Baca Juga: Kasus Hantavirus Meledak 200% di Argentina, Apa yang Terjadi?
Penularan pada manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
Virus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Hantavirus telah lama dikenal di beberapa negara di kawasan Amerika, Eropa, dan Asia.
Namun, kemunculan berita terkait kasus hantavirus belakangan ini membuat masyarakat kembali memberikan perhatian terhadap penyakit yang berasal dari hewan pengerat tersebut.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Hingga saat ini, penularan hantavirus pada manusia sebagian besar tetap berkaitan dengan paparan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi.
WHO juga menjelaskan bahwa penularan antarmanusia sangat jarang terjadi dan hanya ditemukan pada jenis tertentu dengan kontak yang sangat dekat.
Gejala hantavirus pada awalnya sering menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, tubuh terasa lemas, hingga batuk.
Pada beberapa kasus yang berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius atau gangguan ginjal.
Karena gejalanya cukup umum, masyarakat sering kali tidak menyadari risiko dari lingkungan sekitar. Inilah sebabnya kebersihan rumah dan lingkungan menjadi sangat penting sebagai langkah pencegahan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), risiko terbesar berasal dari debu atau udara yang terkontaminasi kotoran tikus, terutama saat membersihkan gudang, loteng, atau ruangan tertutup yang lama tidak digunakan.
Baca Juga: Hantavirus Sudah Menyebar di 9 Provinsi Indonesia, Ini Bedanya dengan COVID-19
Oleh karena itu, menjaga kebersihan rumah perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Sampah rumah tangga sebaiknya tidak menumpuk, makanan disimpan dalam wadah tertutup, serta ventilasi rumah dijaga agar tetap baik. Lubang atau celah yang memungkinkan tikus masuk ke rumah juga perlu ditutup.
Saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, masyarakat disarankan tidak langsung menyapu dalam kondisi kering karena debu dapat beterbangan dan berisiko terhirup. Area tersebut sebaiknya disemprot terlebih dahulu menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun juga penting dilakukan.
Terutama setelah membersihkan rumah, memegang benda di area yang kotor, atau sebelum makan dan mengolah makanan. Kebiasaan ini membantu menurunkan risiko berbagai penyakit menular yang berasal dari lingkungan sekitar.
Dalam konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kebiasaan mencuci tangan memang menjadi salah satu langkah dasar pencegahan penyakit infeksi. Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini memiliki manfaat besar dalam melindungi kesehatan diri dan keluarga.
Baca Juga: Pandemi Hantavirus 2026 Ternyata Sudah Diramal Sejak 5 Tahun Lalu!
Di tengah maraknya informasi di media sosial, masyarakat juga perlu bijak menyaring berita kesehatan. Tidak semua informasi yang viral berarti benar. Informasi yang tidak lengkap justru dapat memicu kecemasan berlebihan.
Karena itu, langkah terbaik saat menghadapi isu kesehatan adalah mencari informasi dari sumber terpercaya, tetap menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Waspada tentu penting, tetapi panik bukan solusi. Dengan pengetahuan yang benar, masyarakat dapat melindungi diri dan keluarga melalui langkah-langkah sederhana yang mudah diterapkan setiap hari. (*)
Evita Muslima Isnanda Putri, S.Kep., Ns., M.Kep
Ketua STIKes Rajekwesi Bojonegoro
Anggota Divisi Kesehatan dan Lingkungan Hidup
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
Editor : Bhagas Dani Purwoko