RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bulan April 2026 telah tiba, dan transisi cuaca mulai terasa begitu kentara. Sisa-sisa rintik hujan yang masih membasahi tanah hingga akhir Maret lalu kini perlahan menghilang, digantikan oleh sengatan matahari yang lebih terik dari biasanya. Bagi warga di kawasan selatan ekuator, khususnya wilayah agraris di Jawa Timur seperti Bojonegoro dan sekitarnya, inilah saatnya membunyikan alarm kewaspadaan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini merilis peringatan mengenai fenomena anomali iklim berskala masif yang dijuluki sebagai "Godzilla El Nino". Bukan sekadar musim kemarau biasa, fenomena ini membawa potensi kekeringan ekstrem yang dampaknya tak bisa dipandang sebelah mata.
1. Mengapa Dijuluki 'Godzilla' El Nino?
Secara ilmiah, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Namun, modifikasi cuaca tahun ini memiliki anomali kekuatan yang jauh lebih masif, sehingga BRIN menggunakan istilah "Godzilla" untuk menggambarkan daya rusaknya.
Baca Juga: BMKG Ramal Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Berpotensi Muncul Fenomena El Nino
Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, melalui keterangan resminya mengungkapkan bahwa penguatan fenomena ini berpotensi mendongkrak suhu udara hingga 1,5 hingga 2°C. Kenaikan suhu ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan akan terasa semakin menyengat seiring berjalannya waktu mulai April ini.
Pemusatan awan yang tertarik ke arah Samudra Pasifik membuat wilayah Indonesia mengalami defisit curah hujan yang sangat parah.
2. Pukulan Ganda: Hadirnya IOD Positif
Kondisi kemarau ekstrem panjang ini diperparah oleh fenomena penyerta yang tak kalah destruktif, yakni Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.
Baca Juga: Intensitas Hujan Tak Menentu di Lamongan Dipengaruhi Peralihan dari El Nino ke La Nina
Prof. Erma menjelaskan bahwa IOD positif memicu pendinginan suhu permukaan laut di wilayah perairan barat Indonesia (dekat Sumatra dan Jawa). Efek berantainya? Proses penguapan dan pembentukan awan hujan di langit Jawa dan Sumatra menurun drastis. Kombinasi "mematikan" antara Godzilla El Nino yang kuat dan IOD Positif inilah yang menjadi resep utama terciptanya musim kemarau yang lebih panjang, lebih kering, dan jauh lebih panas dibandingkan siklus tahun-tahun sebelumnya.
Siklus Iklim dan Ancaman Ketahanan Pangan
Menambahkan konteks saintifik dari World Meteorological Organization (WMO), kombinasi antara fase El Nino kuat dan pemanasan global struktural dapat memecahkan rekor suhu di tingkat regional. Bagi daerah lumbung pangan di Pulau Jawa, defisit air tanah akibat El Nino dan IOD Positif secara historis selalu berkorelasi lurus dengan risiko gagal panen (puso) dan penurunan debit air waduk secara drastis. Mitigasi pengelolaan sumber daya air harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum puncak kemarau melanda.
3. Dampak Terpolarisasi: Selatan Kekeringan, Utara Kebanjiran
Uniknya, "amukan" cuaca ini tidak dirasakan secara merata di seluruh bentang Nusantara. Terdapat polarisasi dampak yang sangat kontras berdasarkan garis ekuator:
Baca Juga: Dampak El Nino, Proyeksi Luas Tanam Tetap
-
Selatan Ekuator (Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sebagian Sumatra): Akan menjadi wilayah yang paling menderita akibat dominasi cuaca kering. Ancaman krisis air bersih, cuaca panas ekstrem di siang hari, hingga peningkatan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mengintai kawasan ini.
-
Utara Ekuator (Sebagian Kalimantan, Sumatra Bagian Utara): Berbanding terbalik, wilayah utara justru berpeluang menerima limpahan awan hujan dengan intensitas tinggi, yang dalam beberapa skenario berpotensi memicu bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor.
Waktunya Mitigasi, Bukan Sekadar Menunggu
Memasuki pertengahan April 2026, intensitas curah hujan dipastikan akan terjun bebas. Oleh karena itu, baik pemerintah daerah maupun masyarakat di Jawa Timur diharapkan segera mengambil langkah mitigasi, mulai dari efisiensi penggunaan air bersih, perlindungan area pertanian dengan sistem irigasi hemat air, hingga mewaspadai titik-titik rawan karhutla. Cuaca kemarau ekstrem tidak bisa dicegah, namun kesiapsiagaan dapat meminimalisir kerugian yang ditimbulkan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko