RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Daging kambing sering kali menjadi primadona dalam berbagai perayaan, termasuk perayaan Idul Adha seiring dengan status kambing sebagai salah satu pilihan hewan kurban. Namun, di balik kelezatan rasa dan kandungan protein hewani yang tinggi, banyak pula yang khawatir mengenai dampaknya terhadap kesehatan, terutama kaitannya dengan kolesterol dan hipertensi.
Sebenarnya dibanding dengan hewan ternak lain, termasuk sesama hewan kurban seperti sapi dan domba, daging kambing tergolong salah satu yang lebih sehat dari sisi kandungan lemak. Menurut data Kementerian Agrikultur Amerika Serikat (USDA), daging kambing memiliki kandungan protein tinggi serta lemak jenuh yang lebih rendah dibanding sesama daging merah dari hewan ternak, teurtama daging sapi.
Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, yang menjadi problem utama dalam konsumsi daging kambing sebenarnya bukan dagingnya, namun cara mengolahnya. Karena sering kali kambing dimasak dengan bahan-bahan lain yang menambah kandungan lemak jenuh tersebut, terutama santan.
Selain itu karena dimasak dalam jumlah besar, daging kambing juga sering dimasak dengan berbagai bumbu penyedap dalam jumlah besar. Sehingga bumbu-bumbu ini dapat memengaruhi keadaan tubuh konsumen daging tersebut.
Baca Juga: 5 Trik Cerdas Santap Daging Kurban Tanpa Takut Kolesterol Melonjak
“Yang salah bukan si kambing, yang salah adalah cara masaknya. Daging kambing sebenarnya sudah sehat, tapi saat dimasak ditambah santan, jeroan, garam berlebih, dan gula tinggi,” jelas Budi dalam media sosial pribadinya Rabu (27/5), sebagaimana dikutipd ari Jawa Pos.
Menurut catatan Budi, dalam setiap 100 gram daging kambing terkandung 0,8 gram lemak jenuh. Jumlah ini kurang lebih hanya setengah hingga sepertiga kandungan lemak yang dimiliki daging sapi, yang dapat mencapai 3 gram lemak per 100 gram daging.
Selain itu, setiap 100 gram daging kambing mengandung 64 mg kolestrol. Jumlah tersebut lebih rendah dibanding daging sapi yang mengandung 73 mg kolestrol per 100 gram, bahkan juga lebih rendah dari daging ayam yang mengandung 78 mg kolestrol per 100 gram.
Berkaca pada faktor-faktor tersebut, berikut adalah cara mengolah daging kambing dengan aman untuk kesehatan:
Pilih bagian daging dengan lemak sedikit
Potongan paha atau has dalam biasanya memiliki kandungan lemak lebih rendah dibanding bagian berlemak, terutama yang terletak di dekat tulang iga. Jangan lupa juga untuk memotong lemak-lemak putih yang masih menempel di daging.
Rebus daging terlebih dahulu
Berkaitan dengan langkah sebelumnya, biasanya masih ada berbagai lemak jenuh yang terkandung di dalam daging. Sehingga disarankan agar daging direbus terlebih dahulu selama kurang lebih 10 menit dalam air mendidih agar lemak dapat terangkat dan larut. Setelahnya, air rebusan dapat langsung dibuang, atau bisa disaring jika ingin dijadikan kaldu.
Kurangi lemak, jauhi santan
Untuk pengolahan makanan berkuah, santan dapat diganti dengan susu kedelai untuk mengurangi kandungan lemak dan kolestrol dalam kuah dan daging kambing. Jangan khawatir, karena tektur dan cita rasanya serupa.
Selain itu, kuah dapat juga dikurangi lemaknya dengan cara direduksi, yakni dengan dipisahkan dagingnya terlebih dahulu, kemudian disaring dan dipanaskan lagi sebentar. Jika punya waktu luang, kuah juga dapat dipisah dan dibekukan di freezer agar lemak dalam kuah terangkat dan membeku, sehingga lebih mudah untuk disaring dan direduksi. Dalam waktu ini, daging kambing dapat tetap dipanaskan dengan cara dikukus.
Gunakan sayuran kaldu
Sebagaimana telah disebutkan, terlalu banyak garam dapat menyebabkan hipertensi atau darah tinggi. Untuk memperbaiki cita rasa tanpa perlu menggunakan banyak garam, berbagai sayuran kaldu seperti bawang, jahe, kunyit, ketumbar, merica dan wortel dapat diperbanyak untuk menguatkan rasa.
Jangan sampai gosong!
Sate kambing sangat populer sebagai masakan Idul Adha karena cara masaknya yang sangat simpel, yakni tinggal dibakar. Meskipun demikian usahakan jangan terlalu lama membakar kambing hingga gosong, karena selain merusak cita rasa dan kandungan protein, juga berpotensi menyebabkan kanker, terutama jika arang terlalu dekat dengan daging.
Agar lebih cepat matang dan menghindari gosong, jika sempat sesekali daging yang disate dibalik lebih dari satu atau dua kali. Selain itu, penggunaan bumbu marinasi, baik dalam bentuk bubuk maupun cair seperti kecap, juga disarankan untuk membentuk lapisan pelindung daging dari bara api.
Pada akhirnya, satu hal yang tak kalah pentingnya adalah makan secukupnya untuk mengurangi potensi gangguan kesehatan. Selain itu, menyeimbangkan asupan makanan dengan sayuran dan buah-buahan juga tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana