Akibat ruang kelas SDN 1 Donan, Kecamatan Purwosari ambruk, siswa yang sebelumnya menempati ruangan terpaksa pindah tempat. Pagi itu, anak-anak TK Dharma Wanita Mekar, Desa Donan, Kecamatan Purwosari tampak diam. Mereka kelihatan mendengarkan dengan saksama semua perkataan yang disampaikan Nursiaman, gurunya. Hanya, namanya anak-anak, sesekali mereka memang juga bercanda dengan sesamanya.
Bocah-bocah yang saat itu mengenakan seragamnya, baju putih seolah tidak menghiraukan kondisi dengan celana atau rok biru, itu tak lazim yang ada di sekitarnya. Lazimnya sebuah sekolah, belajar dan anak-anak duduk di kursi lengkap dengan mejanya. Namun, saat itu mereka belajar dengan lesehan.
"Mau bagaimana lagi? Kalau diberi bangku, tidak akan cukup (tempatnya)," kata Nursiaman, guru TK itu.
Tempat belajar anak-anak tersebut memang darurat. Biasanya, mereka belajar di salah satu ruang kelas SDN 2 Donan. Namun, sejak tiga hari lalu mereka tak lagi bisa menempati ruang tersebut. Sebab, ruangan berukuran 9x7 meter itu kini dipakai belajar siswa kelas tiga dan lima SDN 1 Donan yang bangunan kelasnya ambruk Jumat petang akhir Mei 2005 lalu.
Agar tetap bisa melangsungkan kegiatan belajar mengajar, anak-anak itu terpaksa belajar dengan fasilitas yang terbatas. Yakni, di atas sebuah terpal biru berukuran sekitar 8x8 meter, di ruang tamu rumah Nur, panggilan akrab Nursiaman. Mereka terpaksa menggunakan terpal karena ruang tamu rumah itu berlantai tanah. Terpal biru itu diharapkan bisa menggantikan bangku sekolah yang tak akan mampu dibawa ke sekolah darurat tersebut.
Bisa jadi, satu-satunya fasilitas sekolah yang masih bisa dibawa untuk kegiatan belajar itu papan tulis berukuran sekitar 1x0,5 meter. Hanya, pemasangan papan tulis itu pun terkesan darurat. Yakni, tidak dipasang menempel di dinding rumah Nur, tapi hanya disandarkan di dinding rumah yang terbuat dari kayu yang warna catnya sudah mulai kusam tersebut.
Meski fasilitas serba terbatas, kata Nur, semangat belajar anak didiknya tetap tinggi. Bahkan, menurut wanita yang mengaku sudah tiga tahun menjadi guru TK itu jam tersebut tetap normal, yakni mulai belajar mengajar ke-18 anak TK tersebut dengan normal, yakni mulai pukul 07.00-10.00. "Nyaris tidak ada yang berubah, meski belajar di rumah," jelasnya.
Nur mengaku, terkadang dirinya merasa geli mendengar pengakuan sejumlah murid-muridnya menyikapi perubahan suasana tempat belajar tersebut. Mereka merasa lebih bebas di tempat sekolahnya sekarang. "Katanya lebih enak bisa sambil duduk (lesehan, red)," katanya sembari tersenyum.
Namun, Nur sangat berharap kondisi seperti itu segera m berakhir, sehingga proses belajar mengajar bisa kembali berjalan normal. Bukan hanya anak-anak TK yang merasakan "dunia lain" di tempat belajar mereka kini. Siswa kelas tiga dan lima SDN I Donan yang sejak sekolahnya ambruk, akhirnya menempati salah satu ruangan milik SDN 2 Donan.
Hanya, kondisi seperti itu sering mengganggu kegiatan belajar mengajar. Menurut kepala SDN 1 Donan, Kecamatan Purwosari Endang Sawitri, tidak mungkin setiap proses belajar kelas tiga dan lima selalu gabung di satu ruangan. Sebab, ada kalanya seorang guru memberikan tugas kepada siswa salah satu kelas yang untuk mengerjakan tugas itu butuh ketenangan.
Jika mereka berada dalam satu ruang dengan kelas lainnya, tentu mereka tidak bisa tenang atau konsentrasi. "Untuk mengantisipasi hal-hal kelas lain diajak belajar di luar seperti itu, biasanya anak-anak ruangan oleh guru kelasnya. Selain karena memang terbatasnya ruangan, ya itung-itung cari suasana lain," katanya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana