Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Radar History: Ketika Bojonegoro Digegerkan dengan Dugaan Kasus Virus SARS pada 2003

M
Penulis: M. Irvan Romadhon❯
HEBOH: Dokumen Jawa Pos Radar Bojonegoro terbitan 21 Mei 2003 tentang warga yang diduga terjangkit SARS. (DOKUMEN RADAR BOJONEGORO)
HEBOH: Dokumen Jawa Pos Radar Bojonegoro terbitan 21 Mei 2003 tentang warga yang diduga terjangkit SARS. (DOKUMEN RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Masyarakat Bojonegoro sempat digemparkan oleh kasus seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) di Singapura yang diduga terjangkit virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada Mei 2003. TKI bernama Kasih tersebut harus menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro.

SARS dan COVID-19 memang berasal dari keluarga virus yang sama, yakni coronavirus. Namun, keduanya merupakan penyakit yang berbeda dengan tingkat penularan dan keparahan yang tidak sama. Perbedaan utamanya terletak pada jenis virus penyebab, tingkat penyebaran, hingga angka kematian (case fatality rate/CFR).

Advertisement


Dokumen Jawa Pos Radar Bojonegoro 21 Mei 2003 menyebutkan ada warga Desa Kuniran Kecamatan Kasiman Bernama Kasih yang baru pulang dari Singapura. Lima hari setelah tiba di kampung halamannya, perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) itu mengalami demam dan pilek. Untuk memastikan kondisi kesehatannya, ia memeriksakan diri ke Puskesmas Gaplok, Kecamatan Purwosari.

“Menurut pemerintah Singapura, dia dinyatakan sehat. Namun, surat tersebut bukan berarti pemegangnya pasti bebas dari virus SARS,” ujar Ucik, bidan yang memeriksa Kasih di Puskesmas Gaplok saat itu.

Di puskesmas tersebut, Kasih sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro karena keterbatasan peralatan medis untuk menangani kasus yang diduga SARS.

“Di sini dia akan diperiksa darahnya dan dirontgen. Jika positif terjangkit SARS, akan dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya,” kata seorang petugas RSUD Bojonegoro yang enggan disebutkan namanya.

Menurut petugas tersebut, peralatan yang dimiliki rumah sakit milik Pemkab Bojonegoro saat itu juga belum memadai untuk mendeteksi maupun menangani SARS secara optimal.

Setiap TKI yang pulang dari luar negeri, terutama dari negara yang saat itu terdampak wabah SARS seperti China, Hong Kong, Singapura, Kanada (Toronto), dan Taiwan, diwajibkan membawa surat keterangan dari Departemen Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM-PL). Surat tersebut diberikan setibanya mereka di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Surat keterangan itu harus diserahkan kepada petugas kesehatan setempat dan menjadi dasar pemantauan kesehatan terhadap TKI yang baru kembali dari luar negeri.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Radar History: Ketika Pertamina Izinkan Warga Jepon Kelola Sumur Minyak Tua Semanggi Pada 2003 Lalu

Radar History: Ketika Pertamina Izinkan Warga Jepon Kelola Sumur Minyak Tua Semanggi Pada 2003 Lalu

Pada awal Mei 2003, tepatnya 3 Mei di 23 tahun silam, Pertamina Daerah Operasi Hulu (DOH) Jawa Bagian Timur (Jabati) Cepu memberi lampu hijau kepada warga Desa Semanggi, Kecamatan Jepon, Blora untuk mengelola sumur minya

Radar History: Kala DPRD Blora Sorot Kontibusi Pertamina ke Pemkab Pada 2003 Silam

Radar History: Kala DPRD Blora Sorot Kontibusi Pertamina ke Pemkab Pada 2003 Silam

Terkait upaya memerjuangkan peningkatan kontribusi minyak bagi daerah penghasil, DPRD Blora mengagendakan studi banding ke Riau, pada Mei 2003 silam.  Tujuan studi banding tersebut mencari informasi cara Riau bisa mendap

Radar History: Saat Rapat Pembahasan Nota Perhitungan Sisa APBD Bojonegoro 2002 Silam Dibacakan Tanpa PA F-PDIP

Radar History: Saat Rapat Pembahasan Nota Perhitungan Sisa APBD Bojonegoro 2002 Silam Dibacakan Tanpa PA F-PDIP

Berdasarkan dokumen Radar Bojonegoro, Ali mengirim surat permohonan pergantian pimpinan dan anggota FPDIP kepada pimpinan dewan. Untuk jajaran pimpinan, Ali mengusulkan Oni diganti Tri Yulisętyowati atau Ety dan Sekretar

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer