RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Minimnya jumlah industri dinilai menjadi salah satu penyebab sulitnya mencari pekerjaan di Kabupaten Bojonegoro. Kondisi tersebut membuat persaingan antarpencari kerja semakin ketat, bahkan mendorong sebagian warga memilih merantau ke luar daerah hingga luar negeri.
Khoyrul Anam, pencari kerja asal Kecamatan Temayang mengatakan, terbatasnya sektor industri membuat peluang kerja di Bojonegoro belum mampu menampung banyak pencari kerja lokal.
“Mencari kerja semakin susah, terutama di wilayah Bojonegoro. Sedikitnya jumlah industri dan kurangnya minat konsumsi membuat industri yang ada di Bojonegoro sulit berkembang,” ujarnya.
Lulusan salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Surabaya itu menilai kondisi tersebut diperparah dengan akses transportasi dan konektivitas Bojonegoro yang belum optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi maupun mobilitas pekerja. “Bojonegoro tidak punya jalan tol, kendaraan besar juga lebih memilih lewat pantura atau jalur selatan,” katanya.
Baca Juga: Kuota Pelatihan Pencaker Disperinaker Bojonegoro Minim untuk Periode 2026
Selain itu, menurut Anam, layanan transportasi kereta api juga belum sepenuhnya mendukung mobilitas pekerja harian. “Kereta yang ada aksesnya terbatas dan sangat tidak mendukung kalau digunakan pulangpergi bekerja di Bojonegoro,” ucapnya.
Akibat terbatasnya lapangan kerja, persaingan antarpencari kerja disebut semakin tinggi. Bahkan di lingkungan tempat tinggalnya, ia melihat tren masyarakat yang mulai memilih bekerja di luar negeri.
“Sekarang makin banyak orang yang merantau ke luar negeri karena melihat peluang dan jaminan kerja,” ungkapnya.
Generasi Z itu berharap, pemerintah maupun investor dapat memperbanyak lowongan kerja melalui pembangunan industri baru di Bojonegoro. Menurutnya, tenaga kerja lokal memiliki kemampuan yang tidak kalah bersaing.
“Kalaupun ada industri atau pabrik besar, semoga mayoritas pekerjanya bisa diisi pencari kerja lokal. Karena sejatinya masyarakat Bojonegoro sendiri tidak kalah mumpuni dengan daerah lain,” pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana