Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bisnis Dropship Tak Seterang Dulu: Pelaku Beradaptasi Lewat Branding dan Pasar Global, Persaingan Harga Semakin Ketat

Hakam Alghivari • Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:15 WIB
PENJUALAN MOTOR: Staf penjualan MPM Motor sedang melayani konsumen yang hendak membeli sepeda motor.
PENJUALAN MOTOR: Staf penjualan MPM Motor sedang melayani konsumen yang hendak membeli sepeda motor.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Model bisnis dropshipping yang sempat menjadi primadona satu dekade lalu, kini menghadapi tantangan serius. Pasar yang semakin padat, perubahan perilaku konsumen, hingga persaingan harga membuat skema ini tak lagi mudah dijalankan.

Terlebih, bisnis tersebut mulai tenggelam sejak muncul program affiliasi dari marketplace. Selain itu, adaptasi bisa menjadi salah satu kunci. Salah satunya membidik pasar global melalui platform Etsy.

Muhammad Mahmud Zain, pelaku dropship yang mulai menekuni pasar Amerika Serikat, menilai dropshipping masih relevan jika dijalankan dengan pendekatan yang berbeda. Menurutnya, fokus utama saat ini bukan lagi pada produk semata, melainkan pada cara membangun brand dan menyampaikan cerita di balik produk.

“Produk bisa saja sama, tetapi cara menjual dan mengomunikasikannya harus berubah karena market selalu berubah,” ujarnya. Dia menambahkan, dropshipping tetap cocok bagi pebisnis yang ingin mencari produk market fit tanpa modal besar di awal.

Fleksibilitas ini membuat pelaku lebih mudah bergeser mengikuti tren. Karena itu, ia memilih tidak fokus pada pasar lokal. “Saya hampir tidak pernah menjual produk di Indonesia karena persaingan harga yang terlalu ketat dan daya beli yang kurang sehat untuk pelaku usaha baru,” katanya.

Menurut Zain, sapaan akrabnya, pasar Amerika Serikat dinilai lebih ramah bagi dropshipper. Dari sisi logistik, pengiriman produk relatif cepat, rata-rata lima hingga tujuh hari, serta tingkat komplain konsumen yang lebih rendah dibanding pasar lokal.

Dalam praktiknya, dirinya mengaku tidak cuma menjual produk, melainkan menjual cerita di setiap barang yang dipasarkan. Pendekatan ini memungkinkan harga jual lebih tinggi karena menyasar segmen konsumen yang lebih spesifik atau niche.

“Margin di market US cukup baik, apalagi jika dikonversi ke rupiah. Ini juga sehat untuk pengembangan ke produk lain,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi korporasi, peran dropshipper juga masih dinilai memiliki kontribusi. Kepala Cabang MPM Motor Bojonegoro, M. Irvan Rosyadi mengatakan, pihaknya melihat peran pihak ketiga masih relevan dalam menjangkau segmen pasar tertentu.

“Masih ada kontribusinya, karena masih banyak celah yang perusahaan belum bisa masuk dan harus lewat orang ketiga,” katanya.

Dia menambahkan, meski bekerja secara mandiri di luar sistem internal perusahaan, peran tersebut tetap membantu dalam memperluas jangkauan pasar.

Meski pamornya tak lagi seterang dulu, dropshipping belum sepenuhnya ditinggalkan. Model bisnis ini masih bertahan, namun menuntut perubahan pendekatan, terutama dalam hal branding, pemahaman pasar, dan strategi komunikasi produk agar mampu bersaing di tengah lanskap digital yang terus berubah. (kam/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#dropshipping #amerika serikat #marketplace #persaingan harga #pasar #dropship #Bisnis #pasar amerika serikat #konsumen #bojonegoro #produk #dropshipper