Oleh: Anggalih Bayu Muh Kamim
PAGI-pagi buta sudah asyik sendiri. Selepas sholat shubuh ditatanya berbagai peralatan di meja. Berharap rezekinya tidak dipatok ayam. Dia berdoa hari ini pelanggan bakal datang tidak seperti sebelum-sebelumnya. Debu-debu dan kotoran di lantai disapu dan dihempaskan ke luar rumahnya. Debu-debu di meja dan kursi tidak lupa dibersihkan. Sehabis sholat tahajud, dia sudah mandi. Rajin betul bagi orang yang sudah berumur seperti dia.
Dia tinggal hidup sendirian. Dia harus menyiapkan segalanya lebih awal. Makanan pun belum sempat dia untal. Biasanya selepas bersih-bersih akan datang tukang sayur keliling langganannya. Kebetulan tukang sayur itu juga menjual makanan untuk sarapan. Ada nasi kuning, bubur, nasi goreng, dan masih banyak lagi. Makanan itu titipan dari orang lain. Sembari menunggu datangnya si tukang sayur, tubuhnya yang renta membersihkan ruangan praktiknya.
Mbah Ranto hampir separuh hidupnya mengantungkan hidupnya menjadi tukang sunat. Pelanggannya memang tidak sebanyak dahulu, tetapi dia tetap setia dengan pekerjaannya. Habis mau bagaimana lagi? Dia tidak punya modal lain untuk membuka usaha. Dia juga tidak punya tenaga cukup untuk mengambil pekerjaan lain. Apalagi pendidikannya pas-pasan, mana mungkin dia mendapat pekerjaan yang lebih layak. Mungkin pekerjaan kasar lah yang akan didapatnya, apabila berganti pekerjaan. Upah pekerjaan kasar pun dipikirnya tidak seberapa dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dia tetap setia dengan pekerjaan turun temurun itu. Bapaknya pernah berpesan untuk terus merawat dan melestarikan warisan keluarganya itu. Sejak remaja, Mbah Ranto memang sudah dipersiapkan dan biasa membantu bapaknya melayani pelanggan. Dia dalam hati dan pikirannya sudah tertanam kesadaran bahwa bekerja harus sabar dan untuk menjemput rezeki semestinya diikuti dengan sikap ikhlas. Mbah Ranto tetap teguh di tengah kondisi pelanggannya yang tidak seramai dulu. Dia tak pernah berburuk sangka bahwa seolah-olah orang lain telah mengambil sumber penghidupannya. Mbah Ranto memiliki keyakinan bahwa Allah sudah memberi bagian rezeki bagi hamba-hamba-Nya.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Bukan Kursi Kami oleh Suharsono
Dia sebenarnya sudah mendapatkan banyak saran dari tetangga-tetangganya, agar berganti pekerjaan. Dia pernah diberi penjelasan oleh tetangganya, kalau menjadi tukang sunat tradisional sepertinya sudah bukan zamannya. Tetangga-tetangganya menganggap bahwa Mbah Ranto tidak mungkin bisa bertahan dan bersaing dengan para mantri, dokter, dan klinik yang sudah menggunakan cara-cara modern. Tetangga-tetangganya melihat rumah Mbah Ranto setiap hari selalu sepi. Jarang sekali dalam satu minggu ada satu atau dua pelanggan yang datang. Tetangga-tetangganya bahkan menyarankan Mbah Ranto untuk tidak lagi bekerja dan lebih baik istirahat dengan menumpang hidup dengan salah satu anggota keluarga besar yang mau menampungnya.
Mbah Ranto tidak terlalu memperdulikan bisikan kanan-kiri yang dianggap tak perlu. Baginya apapun pekerjaan dan ada tidaknya pelanggan tidak masalah. Dia menganggap bahwa bekerja itu yang penting diawali dengan niat baik dan dijadikan sebagai bentuk ibadah. Mbah Ranto menjadikan pekerjaannya sebagai cara untuk menjaga kesehatan tubuhnya yang semakin renta pula. Mbah Ranto juga tidak ingin mengantungkan hidup kepada orang lain, meskipun dia hidup sendirian. Mbah Ranto memiliki kebanggan tersendiri untuk melestarikan warisan pekerjaan dari leluhurnya.
Mbah Ranto memang sulit untuk mendapatkan penerus dari pekerjaan turun temurun itu. Tidak ada satupun dari anggota keluarga besarnya mau meneruskan pekerjaan menjadi tukang sunat. Anggota keluarga besarnya memilih mencari pekerjaan yang dianggap lebih menguntungkan. Mbah Ranto tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah. Dia tidak pernah memaksa anggota keluarga besarnya untuk mau meneruskan pekerjaan turun temurun itu. Dia justru senang dan memiliki kebanggaan luar biasa, karena menjadi generasi terakhir tukang sunat di keluarganya.
Mbah Ranto tidak pernah mempermasalahkan pula munculnya mantri dan dokter dengan alat-alat modern lebih dinikmati untuk memberikan pelayanan sunat. Mbah Ranto justru bangga dengan munculnya pelayanan sunat yang lebih modern dan menganggapnya sebagai penerus dari pekerjaannya. Mbah Ranto selalu berusaha mengambil prasangka positif terhadap setiap keadaan. Mbah Ranto tidak ingin terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain. Mbah Ranto menganggap bahwa tanggungjawab hidupnya sendiri sudah berat untuk apa memikirkan urusan orang lain. Sembari membersihkan tempat praktiknya, dari luar rumah terdengar suara motor berhenti.
“Mbah……. Mbah, udah waktunya, Mbah. Ayo sarapan, ini lho aku udah datang,” teriak tukang sayur dari luar rumah Mbah Ranto.
“Oalah, kok gasik temen, tumben jam segini udah datang, kok kayaknya pagi ini dagangannya enggak sebanyak biasanya, Gon,” kata Mbah Ranto sembari mengenakan sandal jepitnya.
“Enggak juga, Mbah, tadi habis dari pasar langsung diborong warga kampung sebelah, tapi ini makanannya masih ada soto, nasi goreng ama capcay,” tukang sayur memberi penjelasan mengenai dagangan yang tersisa dan menunjukannya.
“Oh ngono to, ya wis, aku beli itu nasi goreng ama capcay. Minumannya enggak usah.”
“Lho kok tumben belinya dua, Mbah, lagi banyak langganan, to?” goda tukang sayur.
“Ya….. enggak, ini buat penglarismu pagi ini biar sekalian.”
“Saya tanya boleh, Mbah? Jarang-jarang lho aku tanya ke simbah.”
“Arep tanya apa, Gon? Kok tumben tanya-tanya udah kayak wartawan, aku ini bukan selebriti.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura
“Ya enggak gitu, Mbah, penasaran wae. Kok sampeyan itu masih betah jadi calak ini lho, padahal yang pakai jasamu aja udah jarang banget.”
“Lho ya gapapa, kok. Ini kan pekerjaanku, aku bangga kok kerja kaya ngene.”
“Ya kerja tu ya mestinya yang menghasilkan uang, Mbah. Sampeyan jadi calak udah enggak laku. Cara sampeyan itu udah kolot beda sama mantri-mantri itu.”
“Ah aku enggak urusan sama triman, aku seneng kok jadi tukang sunat. Masalah rezeki wis ana sing ngatur,” jawab Mbah Ranto dengan tegas.
“Bukan triman, tapi mantri, Mbah. Kerja tu ya enggak cukup seneng, Mbah, tapi butuh duit buat bayar listrik, beli makanan, sama kebutuhan lain.”
“Y aitu urusanku, Gon, kan kalau lagi enggak punya duit masih bisa ngutang ke tetangga….. Itu bagus sesama manusia saling bantu.”
“Loh….. simbah tu gimana to? Kok bagus gimana? Memberi bantuan itu memang bagus, Mbah, tetapi ya tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Lebih baik kalau simbah yang ngasih bantuan, katanya simbah enggak suka hidup ngerepotin orang lain?”
“Lho lha iya, aku memang enggak mau ngerepotin orang lain, makanya aku tetap kerja gini. Nah….. tapi aku juga suka mendorong orang lain berbuat kebaikan, makanya aku jadikan diriku ini jadi ladang pahala. Tujuannya tetanggaku biar bisa bersedekah ke aku. Kalau gin ikan saling menguntungkan. Ngono wae kok enggak ngerti to, Gon?”
“Simbah ki piye to? Maksudnya gimana aku kok tambah bingung? Katanya simbah enggak mau nyusahin orang lain, tetapi kok malah bangga jadi objek sedekah orang lain?” tukang sayur menjadi tambah bingung dengan penjelasan Mbah Ranto.
“Ah, pokoknya aku bangga sama pekerjaanku. Kamu enggak usah mikirin hidup orang lain, mending kamu itu mikirin hidup kamu sendiri. Udah bisa berbuat kebaikan kayak aku belum, Gon?”
“Lho berbuat kebaikan gimana to, Mbah? Hutang itu bisa jadi beban setelah sampeyan meninggal lho kalau terus ditumpuk dan enggak dicicil. Simbah itu perlu pekerjaan yang lebih menghasilkan biar bisa nyicil dan ngelunasi hutang-hutang iku?”
“Gimana to, Gon? Kamu kok enggak paham-paham, itu tetangga ngasih hutang ke aku dengan ikhlas kok. Mereka kagak minta aku untuk bayar atau balikin uangnya. Itu bukan pinjaman kok,” Mbah Ranto berusaha kembali menjelaskan.
“Oalah berarti memang sedekah to, Mbah? Tapi ya enggak bagus, Mbah, kalau sampeyan hidup dari sedekah orang lain gitu. Bukannya katanya simbah enggak mau mengantungkan hidup sama orang lain?”
“Ah…… udah…… udah…… pokoknya aku senang sama pekerjaanku ini, kamu enggak usah ikut campur…. Ni bayaran buat nasi goreng dan capcaynya,” kata Mbah Ranto dengan ketus sembari menyerahkan uang kepada tukang sayur.
Mbah Ranto meninggalkan tukang sayur itu begitu saja. Tidak biasanya Mbah Ranto marah kepada tukang sayur keliling langganannya. Mbah Ranto merasa jengkel pagi itu, sudah ada yang ikut campur dengan kehidupannya. Mbah Ranto tidak tahu harus berkata apalagi. Mbah Ranto menjadi merasa kesal, karena sudah menjawab pertanyaan dari tukang sayur itu. Dia tetap kukuh dengan pendirian untuk mempertahankan pekerjaannya sebagai tukang sunat. Dia tak senang, apabila ada orang yang turut campur dengan pilihan hidupnya. Dia menjadi tidak mengerti dan bertanya dalam hatinya mengapa tukang sayur itu ikut-ikutan mencampuri kehidupannya.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono
Di lain sisi, tukang sayur keliling menjadi bingung dengan sikap Mbah Ranto pagi itu. Tidak biasanya Mbah Ranto menjadi mudah marah dan tersinggung, kala diajak berbicara. Tukang sayur keliling itu menjadi bertanya-tanya apa selama ini, tetangga-tetangga Mbah Ranto juga biasa mendorongnya untuk berganti pekerjaan. Tukang sayur itu segera pergi dari rumah Mbah Ranto. Dari balik jendela, ada mata yang melihat situasi di luar rumah. Mbah Ranto masih heran dengan sikap tukang sayur yang tidak seperti biasanya. Mbah Ranto menduga bahwa tetangga-tetangganya lah yang telah memengaruhi tukang sayur untuk bertanya yang aneh-aneh terhadap dirinya. Mbah Ranto menjadi semakin tidak senang dengan segala bentuk sikap yang berusaha mengurusi hidup orang lain, karena kejadian pagi itu.
Editor : Bhagas Dani Purwoko