
Oleh: Suharsono
GERBANG kampus itu menjulang menyerupai rahang raksasa, siap mengunyah masa depan, atau sekadar memuntahkannya kembali ke jalanan sebagai rongsokan. Di hadapannya, ribuan pasang kaki melangkah dengan keyakinan penuh yang habis dibeli oleh angka-angka di rekening bank orang tua mereka. Sementara aku? Aku hanya berdiri terpaku di batas garis aspal, memandangi selembar kertas bermaterai di tangan, sebuah surat pengunduran diri. Aku tidak sedang diusir; akulah yang memilih untuk melangkah mundur dari takdir yang sebenarnya sudah sah menjadi milikku.
Padahal, seminggu yang lalu, namaku terukir indah di lembar pengumuman nasional sebagai salah satu calon mahasiswa yang diterima di kampus favorit ini. Kebahagiaan sempat meledak di rumah kami yang atapnya sudah mulai lapuk, layaknya pesta kembang api di tengah malam sunyi. Ibuku menangis sujud, mengira bahwa kutukan kemiskinan yang mengikat leher keluarga kami selama turun-temurun akhirnya akan putus melalui selembar kertas pengumuman itu. Namun, kami keliru membedakan antara tiket masuk dan biaya sewa kursi di gedung mewah itu.
Ketika rincian biaya pendidikan itu datang, kegembiraan kami langsung menguap berganti menjadi sketsa horor mengerikan. Angka-angka nominal di lembar tagihan itu mendadak menjelma menjadi monster menuntut tumbal. Kami menghitung segala kemungkinan, menjumlahkan sisa tabungan, hingga menghitung harga jual satu-satunya petak sawah warisan yang tersisa. Hasilnya tetap sama: kenyataan hantamannya jauh lebih konkret daripada sekadar mimpi mulia tentang gelar sarjana.
"Kurang Tiga Puluh Juta," bisik ibuku malam itu dengan suara nyaris habis, matanya menatap nanar tumpukan koin dan lembaran uang lusuh di atas tikar pandan. Tiga puluh juta rupiah adalah sisa kekurangan dari komponen biaya paling akhir yang harus dibayarkan besok pagi. Angka yang teramat sepele bagi mereka yang mengendarai mobil mengkilap menuju gedung rektorat, namun bagi kami, uang segitu adalah harga diri yang sudah tidak memiliki tempat lagi untuk digadaikan.
Pagi ini, aku sengaja datang lebih awal bukan untuk mengemis kelonggaran waktu kepada birokrasi yang terkenal dingin. Aku datang membawa ketetapan hati yang paling getir: menyerah secara terhormat sebelum sistem itu sendiri menendangku keluar. Langkah kakiku terasa sangat berat di atas selasar gedung rektorat megah dan berarsitektur mahal ini, seolah setiap jengkal lantai marmer mengkilap bersih itu sedang menolak kehadiran sepasang sepatu murahku.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura
"Mau menyerahkan berkas daftar ulang, Dek?" tanya seorang petugas administrasi di balik kaca loket dengan senyum profesional yang kaku. Wajahnya necis, sewarna dengan parfum mahal yang memenuhi ruangan ber-AC itu, menguarkan aroma peradaban berbau uang. Aku tidak segera menjawab; jemariku justru menyodorkan selembar kertas pengunduran diri yang sudah kutandatangani di atas materai sepuluh ribu rupiah.
Perempuan itu mengernyitkan dahi, matanya membaca baris demi baris surat tersebut dengan kilatan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu yakin? Kamu ini masuk lewat jalur prestasi yang diperebutkan puluhan ribu orang, lho. Sayang sekali kalau dilepas begitu saja hanya karena masalah administratif," ujarnya, nadanya datar tanpa riak emosi sejati, seolah dia sedang mengomentari pelanggan yang membatalkan pesanan baju di toko kelontong.
"Saya sangat yakin, Bu," jawabku mantap, meski ada sesuatu yang patah secara paksa di dalam dadaku. "Pendidikan di sini terlalu mewah untuk ukuran isi dompet ibu saya yang hanya buruh tani. Kampus ini mungkin tempat yang tepat untuk menanam kecerdasan, tetapi sistem di dalamnya terlalu mahal untuk memelihara kemanusiaan kami."
Ia menghela napas panjang, lalu jemarinya mulai menari di atas papan ketik komputer dengan kecepatan mekanis. Angka digital di layar monitor di belakangnya berkedip-kedip, memproses pembatalan status kemahasiswaanku seolah-olah namaku hanyalah deretan kode biner yang tidak memiliki nyawa. Hanya dengan sekali tekan pada tombol 'Enter', seluruh perjuangan belajarku selama tiga tahun di sekolah menengah langsung lumat tak berbekas.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




