RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sebanyak 101 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) difokuskan di dua kecamatan. Bupati Blora meminta mahasiswa untuk petakan potensi desa hingga anak tidak sekolah (ATS).
Rencananya, mahasiswa yang kampusnya bakal membangun gedung PSDKU di Blora tersebut akan melaksanakan KKN di dua kecamatan, yakni Blora Kota dan Jepon. Untuk lokasi desa/kelurahannya, masing-masing di Kelurahan Bangkle, Kelurahan Kedungjenar, Kelurahan Jepon, Desa Jepangrejo, dan Desa Plantungan.
Bupati Blora Arief Rohman mendorong para mahasiswa untuk menggali potensi lokal dari masing-masing desa lokasi KKN. Ia mencontohkan, di Jepangrejo terdapat produk kopi santan yang khas, di Plantungan terdapat sumur minyak rakyat serta limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan, di Bangkle dikenal dengan seni barongan, sementara di Jepon berkembang berbagai UMKM dan sebagainya.
“Kenali potensi itu, dampingi masyarakat dalam mengembangkan inovasi berbasis lokal. Ini bisa menjadi ruang kontribusi adik-adik untuk menguatkan ekonomi desa melalui teknologi tepat guna, pengelolaan usaha kecil, pendidikan lingkungan, sampai literasi digital,” jelasnya.
Setelah memetakan kondisi lapangan, mahasiswa diharapkan turut mendampingi warga dalam merancang dan melahirkan inovasi.
Bupati menekankan agar ilmu yang didapat dari kampus dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat desa, baik dalam bentuk teknologi tepat guna, pengembangan usaha kecil, hingga promosi digital.
“Potensinya apa, dari situ akan muncul ide-ide dan gagasan. Misalnya ada warga yang punya usaha tapi masih konvensional, belum punya sumber modal, belum punya strategi pemasaran. Maka adik-adik bisa bantu memetakan masalah dan memberi alternatif solusi. Ini jadi ruang belajar untuk berdaya guna,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bupati juga mengajak mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam isu strategis yang tengah menjadi fokus pemerintah daerah, seperti penguatan UMKM dan koperasi, terlebih dengan adanya Koperasi Desa Merah Putih diharapkan mahasiswa bisa ikut belajar terkait pengembangannya di desanya, edukasi lingkungan, ketahanan pangan, hingga pendidikan untuk anak tidak sekolah (ATS).
Ia secara khusus mendorong mahasiswa untuk menyentuh isu anak tidak sekolah (ATS), yang masih menjadi tantangan di beberapa desa. “Saya harap adik-adik bisa memetakan, di desa itu anak tidak sekolahnya ada berapa. Kenapa mereka tidak sekolah, karena ekonomi, sosial, atau faktor lain, nanti dari data itu, adik-adik bisa memberi rekomendasi konkret.
Kita ingin angka ATS itu bisa ditekan, bahkan kalau bisa zero,” ungkapnya. Bupati juga meminta agar mahasiswa menjalin komunikasi aktif dan kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga pemuda setempat.
Dari interaksi dan kerja lapangan tersebut, diharapkan lahir inovasi-inovasi kreatif yang nantinya bisa dipromosikan ke publik, termasuk di ajang Car Free Day (CFD) sebagai salah satu wadah menampilkan hasil dan potensi desa binaan. (luk/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko