RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bulan Ramadan sering kali kita awali dengan mendengar kutipan ayat suci Al-Baqarah 183: "Ya ayyuhalladzina amanu...". Namun, pernahkah Anda merenungkan mengapa Allah memanggil kita dengan sebutan "orang yang beriman" (alladzina amanu) dan bukan "orang mukmin"?
Dalam tayangan kultum Subuh Ramadan Mutiara Hati SCTV, pakar tafsir terkemuka Prof. Dr. M. Quraish Shihab membedah rahasia di balik pilihan kata Tuhan tersebut. Penjelasan beliau tidak hanya menyentuh aspek bahasa, tapi juga menjadi panduan bagi kita untuk "naik kelas" secara spiritual selama bulan suci ini.
Analogi "Penyanyi" vs "Orang yang Menyanyi"
Quraish Shihab memberikan perumpamaan yang sangat sederhana namun cerdas. Bayangkan perbedaan antara seorang "Penyanyi" dengan "Orang yang sedang menyanyi".
Seorang "Penyanyi" adalah profesional; ia menguasai teknik, nada, dan liku-liku musik. Sementara "orang yang menyanyi" bisa siapa saja, bahkan seorang pemula yang suaranya pas-pasan atau anak kecil yang baru belajar nada.
Baca Juga: Kebersihan Sebagian dari Iman: Bukti Sains dan Psikologi di Balik Ajaran Islam
Begitu pula dengan iman. Allah memanggil "orang-orang yang beriman", mereka yang mungkin imannya baru setetes atau masih pemula, untuk ikut berpuasa. Tujuannya apa? Agar melalui madrasah puasa ini, mereka yang "baru belajar beriman" bisa berkembang dan mencapai derajat Mukmin, yakni mereka yang sudah ahli dan kokoh dalam imannya.
Iman: Ketika Hati Membenarkan, Bukan Sekadar Akal
Apa sebenarnya definisi iman? Menurut para ulama, iman adalah pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga. Quraish Shihab menekankan perbedaan tajam antara akal dan hati:
-
Pembenaran Akal: Menghasilkan ilmu pengetahuan. Kita tahu sesuatu itu benar secara logika.
-
Pembenaran Hati: Menghasilkan iman. Hati kita tenang dan yakin sepenuhnya.
Iman bukan sekadar angka atau data, melainkan rasa percaya yang meresap ke dalam jiwa.
Baca Juga: Tips Puasa Sehat untuk Ibu Hamil
Tiga Level Iman: Dari Abu Bakar hingga Umar bin Khattab
Keimanan seseorang ternyata bertingkat-tingkat. Quraish Shihab membaginya menjadi tiga pola utama:
-
Iman Berdasarkan Keinginan: Kita cenderung mudah percaya pada sesuatu yang memang kita inginkan. Seperti seseorang yang jatuh cinta, ia akan langsung percaya jika mendengar orang yang dicintainya juga menaruh rasa, meski tanpa bukti.
-
Iman Berdasarkan Sosok (Pola Abu Bakar): Percaya karena melihat kejujuran pada pembawanya. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak perlu logika rumit untuk percaya peristiwa Isra Mikraj; beliau cukup tahu bahwa yang berbicara adalah Muhammad SAW, sosok yang mustahil berbohong.
-
Iman Berdasarkan Kandungan (Pola Umar bin Khattab): Percaya setelah memahami makna dan kebenaran ajarannya. Umar bin Khattab luluh dan beriman setelah membaca keindahan serta kebenaran ayat-ayat dalam surat Thaha.
Tadarus: Jembatan Menuju Derajat Mukmin
Di akhir pesannya, Quraish Shihab mengingatkan bahwa kegiatan tadarus di bulan Ramadan jangan sampai hanya menjadi ajang kejar target khatam bacaan.
Baca Juga: Metode 20-20-20 Bisa Diterapkan agar Mata Tetap Sehat, Tadarus Lancar
Tujuan utama tadarus adalah memahami isi dan kandungan Al-Qur'an. Dengan memahami maknanya, kita tidak lagi sekadar "orang yang menyanyi" (beriman pemula), melainkan mulai melangkah menjadi "penyanyi" (mukmin sejati) yang paham akan jalan hidup yang digariskan Tuhan.
Kesimpulan Puasa adalah undangan terbuka bagi siapa pun yang punya niat baik, meski imannya masih turun-naik. Mari manfaatkan sisa Ramadan ini untuk tidak sekadar menahan lapar, tapi juga memberi nutrisi pada hati agar iman kita naik level.
Sudahkah tadarus Anda hari ini disertai dengan memahami maknanya? Yuk, mari kita mulai perlahan dari satu ayat yang kita pahami dalam-dalam. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko