Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sejarah Perkembangan Wheelchair Tennis Atau Tenis Kursi Roda: Dari Terapi Cedera Menjadi Olahraga Dunia di Paralimpiade

Hakam Alghivari • Rabu, 8 Oktober 2025 | 22:18 WIB

 

Ilustrasi atlet wheelchair tennis atau tenis kursi roda.
Ilustrasi atlet wheelchair tennis atau tenis kursi roda.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Olahraga tak selalu lahir di stadion besar atau akademi megah. Kadang, ia bermula dari keinginan seseorang untuk bangkit dari keterpurukan.

Begitulah kisah lahirnya wheelchair tennis atau tenis kursi roda, salah satu cabang olahraga yang kini menjadi simbol inklusi dan semangat tanpa batas di dunia.

Dua roda kecil di bawah kursi logam itu dulu hanyalah alat bantu mobilitas. Namun di tangan seorang mantan atlet ski asal Amerika Serikat bernama Brad Parks, roda itu berubah menjadi simbol perjuangan, permainan, dan akhirnya—prestasi dunia.

Dari ruang rehabilitasi sederhana pada pertengahan 1970-an, kini tenis kursi roda berdiri sejajar dengan cabang olahraga bergengsi di setiap Paralimpiade dan turnamen Grand Slam.

Sejarah Panjang Wheelchair Tennis atau Tennis Kursi ROda: Lahir dari Semangat Rehabilitasi

Menurut catatan yang dihimpun dari TennisFame.com, kisah tenis kursi roda berawal pada tahun 1976, saat Brad Parks mengalami cedera tulang belakang setelah kecelakaan dalam latihan ski akrobatik.

Dalam masa pemulihan, ia mencari cara agar tetap bisa aktif berolahraga. Dari situlah, ia menemukan ide untuk memainkan tenis di atas kursi roda.

Pertemuannya dengan Jeff Minnebraker, atlet kursi roda lainnya, menjadi titik balik penting. Keduanya bukan sekadar bermain, tetapi mulai memikirkan bagaimana tenis bisa diadaptasi bagi penyandang disabilitas.

Setahun kemudian, mereka mulai memperkenalkan konsep “wheelchair tennis” ke publik, dan pada 1977 digelar turnamen pertama di Amerika Serikat.

Tak butuh waktu lama hingga olahraga ini menarik perhatian. Pada 1980, mereka membentuk National Foundation of Wheelchair Tennis (NFWT) untuk mengatur kompetisi dan pelatihan.

Tahun itu juga menjadi sejarah baru: Brad Parks menjuarai US Open Wheelchair Tennis Championships perdana—membuktikan bahwa ide sederhana bisa tumbuh menjadi sesuatu yang besar.

Menyeberang ke Eropa dan Dunia

Laman Paralympic Heritage mencatat bahwa pada awal 1980-an, semangat tenis kursi roda menular hingga ke Eropa.

Prancis menjadi negara pertama di benua itu yang mengembangkan program resmi pada tahun 1982, diikuti pembentukan European Wheelchair Tennis Federation (EWTF) tiga tahun kemudian.

Momentum makin besar ketika International Wheelchair Tennis Federation (IWTF) berdiri pada 1988. Organisasi ini membawa struktur kompetisi global dan menjalin kerja sama dengan International Tennis Federation (ITF), federasi utama tenis dunia.

Integrasi penuh IWTF ke dalam ITF terjadi pada 1998, menjadikan tenis kursi roda satu-satunya olahraga adaptif yang sepenuhnya diakui di bawah payung federasi olahraga global.

Resmi Menjadi Cabang Paralimpiade

Tenis kursi roda pertama kali tampil di Paralimpiade Seoul 1988 sebagai olahraga demonstrasi. Empat tahun kemudian, di Barcelona 1992, olahraga ini resmi dipertandingkan. Sejak saat itu, tenis kursi roda tak pernah absen dari setiap gelaran Paralimpiade.

Kategori quad, yang diperuntukkan bagi atlet dengan keterbatasan pada tiga atau empat anggota tubuh, mulai dipertandingkan di Athena 2004. Uniknya, kategori ini bersifat campuran gender, sehingga pria dan wanita bisa bertanding dalam satu nomor.

Kini, tenis kursi roda tidak hanya menjadi cabang tetap Paralimpiade, tetapi juga bagian dari semua turnamen Grand Slam—mulai dari Australia Open hingga Wimbledon. Pencapaian ini menegaskan posisi tenis kursi roda sebagai olahraga profesional yang diakui dunia.

Evolusi Teknologi dan Profesionalisme

Seiring berkembangnya zaman, teknologi ikut mengubah wajah olahraga ini. Kursi roda khusus tenis kini didesain dari bahan ringan seperti titanium, dengan roda miring agar mudah berputar cepat.

Bagi atlet di kategori quad, sebagian menggunakan kursi roda elektrik yang dirancang untuk tetap responsif di lapangan.

Paralympic Heritage juga mencatat bahwa sejak tahun 2000, ITF menerapkan program anti-doping dan sistem klasifikasi resmi untuk memastikan keadilan kompetisi.

Langkah ini memperkuat citra tenis kursi roda sebagai olahraga profesional sejati, bukan sekadar olahraga adaptif.

Aturan yang Menjaga Esensi Permainan

Meski dimainkan dengan kursi roda, aturan tenis kursi roda tak banyak berbeda dari tenis konvensional.

Ukuran lapangan, bola, dan sistem skor sama. Perbedaan utamanya hanya satu: bola boleh memantul dua kali, dan pantulan kedua tidak wajib berada di dalam garis permainan.

Pemain juga harus dalam posisi diam sebelum melakukan servis, namun diperbolehkan satu kali dorongan kursi sebelum memukul bola.

Pertandingan tetap berlangsung dalam format best of three sets, mempertahankan esensi kompetisi dan ketegangan khas tenis profesional.

Lebih dari Sekadar Olahraga

Tenis kursi roda bukan hanya tentang kemenangan di lapangan, tapi juga tentang kemenangan melawan keterbatasan.

Nama-nama besar seperti Peter Norfolk, Esther Vergeer, dan Shingo Kunieda menjadi simbol inspirasi global. Mereka menunjukkan bahwa olahraga ini adalah ruang bagi keberanian, ketekunan, dan solidaritas antar-atlet.

Sebagaimana ditulis Paralympic Heritage, tenis kursi roda berkembang bukan hanya karena peraturan atau teknologi, tetapi karena keyakinan bahwa olahraga bisa menjadi sarana pemulihan martabat dan semangat hidup.

Dari ruang rehabilitasi kecil di California hingga podium Paralimpiade di Paris, roda itu terus berputar—membawa pesan bahwa batas sejati bukan pada tubuh, melainkan pada kemauan untuk terus bergerak. (kam/bgs)

Rujukan: Paralympic Heritage dan Tennis Fame.

Editor : Hakam Alghivari
#tenis kursi roda #paralimpiade #sejarah #Wheelchair tennis #asal usul