Oleh:
Oryz Setiawan
Koordinator Bidang Advokasi Persakmi Cabang Bojonegoro
Siklus hidup manusia adalah serangkaian tahapan perkembangan yang dialami manusia mulai dari pembuahan, kelahiran, hingga lanjut usia. Setiap fase dalam siklus tersebut juga ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial yang bersifat khas. Siklus tersebut juga merupakan satu kesatuan perjalanan perkembangan manusia sepanjang hayat. Ibarat periode waktu, fase lansia merupakan tahap akhir kehidupan yang pada umumnya ditandai dengan penurunan fungsi fisik seperti kulit keriput, penurunan masa otot, serta perubahan sistem kardiovaskular serta berfokus pada refleksi diri dan menjaga kesehatan. Masa lansia juga menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, produktif dan bermartabat, selain tetap sehat dan mandiri. Oleh karena itu Tema Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) tahun 2026 ini adalah “Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia yang Berdaya”.
Peringatan yang setiap tahun dilaksanakan setiap tanggal 29 Mei, merupakan momentum strategis dan titik balik dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghormati, merawat, dan menciptakan lingkungan yang inklusif serta ramah bagi lansia. Upaya mendorong dan menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental agar lansia (60+ tahun) tetap aktif, produktif, dan mandiri serta menciptakan lingkungan ramah lansia untuk mendukung pemberdayaan mereka, memastikan mereka tetap bermartabat dan berperan aktif. Sejak tahun 2021, Indonesia telah memasuki era aging population, yang ditandai dengan jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas yang mencapai lebih dari 10 persen dari total populasi. Berdasarkan survei, proporsi lansia di Indonesia kini mencapai sekitar 12 persen atau sekitar 34 juta jiwa, dan diperkirakan akan meningkat menjadi tajam menjadi 20 persen pada tahun 2045.
Baca Juga: Opini: Kenapa Harkitnas Masih Relevan Hari Ini?
Hal ini bermakna bahwa dalam struktur demografi penduduk Indonesia, indikator struktural yang sangat tajam, yang menandakan Indonesia resmi bertransformasi menjadi negara dengan struktur penduduk tua (aging population). Kondisi ini membawa implikasi dan dampak besar berupa penurunan jumlah angkatan kerja, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan beban rasio ketergantungan. Fenomena ini menuntut penyesuaian sistem kesehatan, sosial, serta perencanaan keuangan untuk mengatasi risiko kemiskinan lansia. Dalam konteks kesehatan, peningkatan jumlah lansia ini diiringi dengan berbagai tantangan kesehatan yang muncul akibat proses penuaan, seperti penurunan kapasitas fisik, mental, dan sosial, serta meningkatnya risiko penyakit tidak menular dan sindrom geriatri. Problem penuaan secara massal dan skala masif dapat menyebabkan masalah gizi, gangguan mental emosional, hingga penurunan kapasitas fungsional yang berujung pada disabilitas dan ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari.
Optimalisasi Posyandu Lansia
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tidak hanya terfokus pada bayi, balita dan anak-anak, namun kelompok lanjut usia juga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus yang disebut dengan Posyandu Lansia. Posyandu Lansia adalah meningkatkan kesejahteraan para lanjut usia. Ini dicapai dengan menyediakan pelayanan kesehatan terpadu yang mencakup upaya promotif (peningkatan kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif (pemulihan fungsi tubuh). Posyandu Lansia juga merupakan sebuah wadah pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang ditujukan khusus bagi individu berusia 45 tahun ke atas (pra-lansia dan lansia) untuk memantau, meningkatkan kesehatan, dan kualitas hidup secara berkala. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan fisik (tensi, berat badan, darah), penyuluhan, hingga senam ringan. Dengan demikian, lansia dapat tetap sehat, aktif, mandiri, dan bahagia.
Posyandu ini berperan sebagai wadah yang mendekatkan layanan kesehatan, mendorong partisipasi masyarakat, serta menjadi sarana interaksi sosial yang berharga bagi lansia. Tentu kita ingin menjadi lansia yang sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat. Menjadi lansia adalah bagian siklus kehidupan alamiah manusia dan bukanlah sebuah cita-cita namun kesemuanya harus dipersiapkan, dipahami dan dijalani, minimal tidak menggantungkan atau merepotkan kepada keluarga dan orang lain. Secara filosofi bahwa Tuhan memberikan usia kepada siapapun manusia sebagai salah satu jalan hidup dalam mengarungi “sisa atau jatah” usia. Terkadang tidak semua kita mengalami masa lansia dan sebagian atas Kehendak-Nya tidak bisa menikmati masa lansia karena telah terburu “dipanggil menghadap” Yang Maha Kuasa dengan segala sebab. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana