Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

7 Tipe Orang yang Sebaiknya Tidak Terlalu Banyak Diberi Akses ke Kehidupan Kita Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Minggu, 17 Mei 2026 | 20:58 WIB
Ilustrasi pertemanan dewasa. (MAGNIFIC)
Ilustrasi pertemanan dewasa. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak semua orang layak mengetahui seluruh sisi kehidupan kita. Dalam hubungan sosial, kedekatan memang penting, tetapi memberi terlalu banyak akses kepada orang yang salah sering kali justru menjadi sumber tekanan emosional yang tidak disadari.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan dan hubungan interpersonal memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental, rasa aman emosional, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Karena itu, menjaga batas dalam hubungan bukan berarti menjadi dingin atau antisosial, melainkan bentuk perlindungan psikologis yang sehat.

Masalahnya, sebagian orang baru menyadari pentingnya batas emosional setelah terlalu banyak bercerita, terlalu terbuka, atau terlalu memberi ruang kepada individu yang ternyata membawa pengaruh negatif dalam hidupnya.

Baca Juga: Kata Psikologi, Inilah Kenapa Beberapa Orang Selalu Terlihat Berwibawa tanpa Banyak Bicara

Menariknya, tipe orang seperti ini tidak selalu terlihat buruk di permukaan. Ada yang tampak peduli, terlihat suportif, bahkan terasa menyenangkan saat diajak berinteraksi. Namun dalam jangka panjang, mereka justru bisa menguras energi mental, memengaruhi emosi, atau perlahan menciptakan hubungan yang tidak sehat.

Dilansir dari berbagai studi psikologi sosial dan perilaku interpersonal, terdapat beberapa tipe orang yang sebaiknya tidak terlalu banyak diberi akses ke kehidupan pribadi kita.

1. Orang yang Suka Membocorkan Cerita Orang Lain

Jika seseorang sering menceritakan rahasia atau kehidupan pribadi orang lain kepada kita, ada kemungkinan besar mereka juga melakukan hal yang sama terhadap kita di tempat berbeda.

Tipe ini biasanya menikmati sensasi mengetahui informasi personal orang lain dan menjadikannya bahan percakapan sosial.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Membuat Mental Seseorang Semakin Lelah Menurut Psikologi

Dalam psikologi sosial, perilaku seperti ini berkaitan dengan social gossip reinforcement, yaitu kecenderungan mencari validasi atau kedekatan sosial melalui informasi pribadi orang lain.

Karena itu, terlalu terbuka kepada orang seperti ini sering berisiko membuat privasi perlahan hilang tanpa disadari.

2. Orang yang Senang Melihat Orang Lain Gagal

Tidak semua orang benar-benar ikut bahagia melihat orang lain berkembang.

Sebagian terlihat mendukung di permukaan, tetapi diam-diam merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain berhasil, lebih bahagia, atau mulai berkembang secara sosial maupun finansial.

Biasanya, sikap ini muncul lewat komentar sinis, candaan meremehkan, atau usaha mengecilkan pencapaian orang lain secara halus.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai social comparison insecurity, yaitu rasa tidak aman yang muncul ketika membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Jika terlalu dekat dengan tipe seperti ini, seseorang sering perlahan kehilangan rasa nyaman untuk berkembang secara bebas.

Baca Juga: 7 Ciri Orang yang Punya Aura Kuat Menurut Psikologi, Kehadirannya Sering Langsung Terasa

3. Orang yang Selalu Ingin Mengontrol Kehidupan Orang Lain

Tipe ini sering merasa paling tahu apa yang terbaik untuk orang lain.

Mereka terlalu ikut campur terhadap keputusan pribadi, hubungan, pilihan hidup, bahkan cara seseorang menjalani kehidupannya sendiri.

Sekilas perilaku tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk perhatian. Namun jika dilakukan terus-menerus, hubungan seperti ini dapat membuat seseorang kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam psikologi interpersonal, kondisi ini berkaitan dengan controlling behavior, yaitu kebutuhan mengendalikan lingkungan sosial demi menciptakan rasa aman bagi dirinya sendiri.

4. Orang yang Hadir Hanya Saat Membutuhkan Sesuatu

Hubungan sosial yang sehat biasanya memiliki keseimbangan emosional.

Namun ada orang yang hanya muncul ketika membutuhkan bantuan, dukungan, akses, atau perhatian tertentu. Ketika kebutuhannya selesai, kedekatan itu perlahan menghilang.

Psikologi menyebut pola ini sebagai utilitarian relationship, yaitu hubungan yang lebih didasarkan pada manfaat dibanding ketulusan emosional.

Jika terus dipertahankan, hubungan seperti ini sering membuat seseorang merasa dimanfaatkan tanpa benar-benar dihargai sebagai pribadi.

Baca Juga: Ketahui Ini! 7 Tipe Orang yang Diam-Diam Bisa Menghambat Kesuksesan Kita Menurut Psikologi

5. Orang yang Membuat Kita Selalu Merasa Bersalah

Ada individu yang sangat pandai memainkan rasa kasihan, rasa tidak enak, atau tekanan emosional agar orang lain mengikuti keinginannya.

Mereka membuat seseorang merasa egois ketika mulai menjaga batas diri, menolak permintaan tertentu, atau memilih memprioritaskan kebutuhan pribadinya sendiri.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai guilt manipulation, yaitu bentuk manipulasi emosional melalui rasa bersalah.

Hubungan seperti ini sering sangat melelahkan karena seseorang terus merasa bertanggung jawab terhadap emosi orang lain.

Baca Juga: Jangan Tertipu Penampilan! Psikologi Ungkap 6 Kebiasaan 'Old Money' yang Tak Pernah Pamer

6. Orang yang Terlalu Menikmati Drama dan Konflik

Sebagian orang selalu hidup di tengah konflik.

Setiap hubungan terasa rumit, setiap percakapan dipenuhi drama, dan hampir selalu ada masalah baru yang muncul di sekitarnya. Menariknya, mereka sering membawa energi emosional tersebut ke dalam hubungan dengan orang lain.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan emotional volatility, yaitu ketidakstabilan emosi yang memengaruhi lingkungan sosial di sekitarnya.

Jika terlalu banyak memberi akses kepada tipe seperti ini, hidup seseorang bisa ikut dipenuhi tekanan emosional yang sebenarnya tidak perlu.

7. Orang yang Membuat Kita Tidak Bisa Menjadi Diri Sendiri

Ini salah satu tanda hubungan sosial yang paling tidak sehat.

Ketika berada di dekat seseorang, kita justru merasa harus terus berhati-hati, takut dihakimi, takut diremehkan, atau merasa tidak cukup baik menjadi diri sendiri.

Psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang sehat seharusnya menciptakan psychological safety, yaitu rasa aman untuk menjadi diri sendiri tanpa tekanan emosional berlebihan.

Karena itu, jika seseorang terus membuat kita merasa tertekan secara emosional hanya untuk diterima, hubungan tersebut mungkin sudah terlalu banyak mengambil ruang dalam kehidupan kita.

Baca Juga: Orang yang Benar-Benar Kaya Biasanya Memiliki Pola Kebiasaan Tertentu, Menurut Psikologi

Tidak semua orang perlu mengetahui seluruh sisi kehidupan kita. Psikologi sosial menunjukkan bahwa menjaga batas emosional merupakan bagian penting dari kesehatan mental dan hubungan interpersonal yang sehat.

Karena itu, membatasi akses terhadap orang-orang tertentu bukan berarti membenci atau menjauhi semua orang, melainkan memahami bahwa tidak setiap hubungan layak diberi ruang terlalu dalam dalam kehidupan pribadi kita. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#tipe orang #psikologi #Kehidupan