Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

6 Sifat Kepribadian Ini Menempel pada Orang yang Sulit Mengakui Kesalahan, Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Minggu, 18 Januari 2026 | 22:30 WIB

 

Ilustrasi perdebatan.
Ilustrasi perdebatan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Interaksi di kehidupan sehari-hari, ada orang yang tampak tenang dan percaya diri, tetapi selalu menemukan alasan ketika terjadi kesalahan.

Bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan seolah refleks membela diri. Klarifikasi panjang muncul lebih cepat daripada pengakuan sederhana.

Situasi seperti ini sering dianggap wajar. Tidak semua orang mudah berkata, “Aku salah.” Namun psikologi melihat bahwa ketika sikap ini terjadi berulang, ada pola pengelolaan diri yang patut dipahami lebih dalam.

Mengakui kesalahan bukan hanya soal keberanian, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memandang diri, harga diri, dan rasa aman emosionalnya.

Lalu, pola seperti apa yang biasanya dimiliki orang yang sulit mengakui kesalahan?

1. Harga Diri yang Terlalu Bergantung pada Citra Diri

Dalam psikologi, harga diri yang sehat bersifat fleksibel. Seseorang bisa mengakui kekeliruan tanpa merasa dirinya runtuh.

Sebaliknya, orang yang sulit mengakui kesalahan sering kali memiliki harga diri yang sangat melekat pada citra diri sebagai “orang yang benar”. Ketika kesalahan muncul, yang terasa terancam bukan hanya situasi, tetapi identitas dirinya.

Akibatnya, pengakuan terasa terlalu mahal secara emosional.

2. Mengaitkan Kesalahan dengan Kelemahan Pribadi

Sebagian individu tumbuh dengan keyakinan bahwa salah berarti lemah. Dalam pola pikir seperti ini, kesalahan bukan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, melainkan sebagai bukti kegagalan diri.

Psikologi menyebut pola ini sebagai fixed mindset, di mana kemampuan dan karakter dianggap statis. Mengakui kesalahan berarti mengakui kekurangan yang sulit diterima.

Karena itu, pembelaan diri sering muncul lebih dulu.

3. Terbiasa Melindungi Diri sejak Dini

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa cara seseorang merespons kesalahan sering terbentuk sejak awal kehidupan. Lingkungan yang tidak memberi ruang aman untuk berbuat salah dapat melatih seseorang untuk selalu bersikap defensif.

Bagi mereka, mengakui kesalahan pernah berujung pada hukuman, rasa malu, atau penolakan. Maka, membela diri menjadi mekanisme bertahan yang terbawa hingga dewasa.

Pola ini sering berjalan otomatis, tanpa disadari.

4. Lebih Fokus pada Pembenaran daripada Perbaikan

Ketika kesalahan terjadi, perhatian sebagian orang langsung tertuju pada bagaimana menjelaskan diri, bukan pada apa yang bisa diperbaiki.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan orientasi ego, di mana energi mental dihabiskan untuk menjaga posisi diri tetap aman. Padahal, relasi yang sehat justru tumbuh dari kemampuan mengevaluasi dan memperbaiki, bukan sekadar membenarkan.

Lama-kelamaan, sikap ini bisa menghambat pertumbuhan emosional.

5. Kesulitan Menerima Umpan Balik

Orang yang sulit mengakui kesalahan sering kali juga sulit menerima kritik, meski disampaikan dengan cara halus.

Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai feedback tolerance. Tanpa toleransi yang cukup, setiap masukan terasa seperti serangan, bukan bantuan.

Akibatnya, komunikasi menjadi tidak seimbang: satu pihak berusaha memahami, pihak lain sibuk melindungi diri.

6. Tidak Selalu Disengaja atau Disadari

Penting dipahami bahwa kesulitan mengakui kesalahan tidak selalu berasal dari niat buruk atau keinginan mendominasi. Dalam banyak kasus, ini adalah pola lama yang belum pernah disadari atau diproses.

Psikologi menekankan bahwa kesadaran diri (self-awareness) adalah langkah awal yang memungkinkan perubahan. Tanpa itu, pola defensif akan terus berulang, terutama dalam hubungan yang lebih dekat.

Orang yang sulit mengakui kesalahan bukan berarti tidak mampu berubah atau tidak memiliki kualitas baik lainnya. Namun psikologi menunjukkan bahwa kemampuan menerima kekeliruan dengan tenang merupakan tanda penting dari kematangan emosional.

Bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang cukup aman dengan dirinya sendiri untuk belajar dan bertumbuh. (kam/bgs)

 

Editor : Hakam Alghivari
#sifat #psikologi #sulit mengakui kesalahan #kepribadian