RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah arus deras modernisasi dan budaya instan, tren kuliner terus bertransformasi mengikuti zaman.
Setelah era kopi kekinian, dessert Korea, hingga street food ala Jepang, kini muncul fenomena menarik yang tidak bisa diabaikan: kebangkitan “comfort food nostalgia”, alias kecintaan baru terhadap kuliner jadul Indonesia yang akrab dan membumi.
Bukan restoran mewah atau makanan viral yang berhiaskan emas, melainkan masakan rumahan ala nenek, jajanan pasar khas Indonesia, dan makanan tradisional yang kaya rempah dan cerita—justru menjadi primadona baru, terutama di kalangan Gen Z.
Generasi muda ini kini mulai merindukan kembali masakan otentik khas Indonesia yang sederhana namun sarat makna.
Lebih dari Sekadar Lezat: Comfort Food Sebagai Penghubung Emosi dan Identitas
Fenomena comfort food nostalgia bukan sekadar soal rasa yang lezat atau tampilan menggoda, melainkan tentang kenyamanan emosional.
Makanan seperti opor ayam, rawon, kue apem, klepon, bubur sumsum, dan makanan rebus hasil bumi kini memiliki makna baru: pengingat pada rumah, masa kecil, dan kasih sayang keluarga—khususnya figur nenek yang sering jadi ikon kuliner dalam keluarga.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, kuliner nostalgia Indonesia memberikan semacam “pelarian” yang menyentuh hati. Rasa kuah sayur asem yang asam segar atau aroma sambal terasi yang khas, seolah mampu menyatukan kembali kenangan akan masa-masa damai, penuh tawa, dan kehangatan rumah.
Gen Z, yang selama ini hidup di tengah maraknya makanan instan dan fast food global, mulai menemukan nilai emosional dan kultural dari makanan tradisional Indonesia. Ini bukan sekadar makan, melainkan cara untuk menyambung kembali identitas budaya dan akar sejarah keluarga.
Modern Capek, Jadul Menarik: Autentisitas Jadi Daya Tarik
Salah satu faktor yang membuat kuliner jadul atau makanan tradisional Indonesia kembali digandrungi adalah rasa jenuh terhadap makanan modern yang terlalu artifisial. Estetika tanpa rasa, visual tanpa cerita—banyak dari makanan kekinian terasa kurang “jiwa”.
Sebaliknya, masakan jadul ala nenek, seperti semur jengkol, sambal goreng kentang ati, atau lontong sayur, membawa kembali rasa genuine yang sulit ditemukan di dapur modern.
Proses memasaknya pun kerap menggunakan teknik warisan turun-temurun, tanpa bumbu instan atau bahan sintetis—justru hal ini yang dicari generasi sekarang: keaslian dan nilai sejarah dalam setiap suapan.
Autentisitas ini menjadi nilai lebih di era sekarang. Bukan hanya sekadar rasa, tapi juga cerita di balik makanan, dari siapa resep itu diturunkan, hingga filosofi di balik setiap bumbu dan teknik pengolahannya.
Peran Media Sosial: Dari Viral Makanan Korea ke Nostalgia Masakan Nenek
Tidak bisa dipungkiri, media sosial menjadi katalis utama kebangkitan kuliner nostalgia ini. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini dipenuhi oleh video tutorial membuat resep masakan nenek, eksplorasi kuliner khas daerah, hingga review jajanan pasar jadul yang kini kembali naik daun.
Influencer kuliner dan content creator kini tidak lagi hanya mempromosikan cafe modern, tapi juga mengeksplorasi warung legendaris, pasar tradisional, hingga dapur rumahan yang penuh dengan kekayaan rasa Indonesia.
Video pembuatan serabi, kue pancong, wedang ronde, cenil, lupis, hingga es goyobod tak hanya menggoda selera, tapi juga memicu rasa ingin tahu generasi muda akan budaya kuliner lokal yang selama ini luput dari perhatian.
Jajanan Pasar: Dulu Murah, Kini Bernilai Nostalgia
Satu bagian penting dari fenomena ini adalah kembalinya popularitas jajanan pasar Indonesia. Dulu dianggap makanan rakyat jelata, kini klepon, lupis, nagasari, cenil, dan getuk tampil kembali sebagai bintang di berbagai festival kuliner dan konten viral.
Estetika “jadul” dan rasa autentik yang ditawarkan justru memberikan daya tarik tersendiri, terutama bagi Gen Z yang mencari pengalaman unik dan berbeda.
Menariknya, banyak dari mereka bahkan mencoba membuat sendiri jajanan pasar di rumah, sebagai bentuk eksplorasi kuliner dan upaya melestarikan resep tradisional yang hampir punah.
Melestarikan Budaya Lewat Dapur: Masakan Nenek Adalah Warisan
Lebih dari sekadar tren, comfort food nostalgia adalah bentuk pelestarian budaya yang konkret. Ketika kita memasak resep lawas dari nenek atau membeli makanan khas dari pedagang kaki lima yang sudah puluhan tahun berjualan, kita tidak hanya menikmati makanan—kita sedang ikut menjaga identitas kuliner Nusantara agar tetap hidup dan berkembang.
Menghidupkan kembali resep masakan tradisional Indonesia di dapur rumah, membagikannya lewat media sosial, atau sekadar menceritakan kisah di balik makanan tersebut adalah langkah kecil tapi penting untuk memastikan bahwa warisan kuliner Indonesia tidak hilang ditelan globalisasi.
Kuliner Nostalgia, Jembatan Masa Lalu dan Masa Kini
Fenomena comfort food nostalgia di kalangan Gen Z bukan sekadar tren makanan sementara. Ini adalah pergerakan budaya yang mencerminkan kebutuhan emosional, pencarian identitas, dan rasa rindu akan sesuatu yang asli dan membumi. Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh distraksi, kuliner jadul Indonesia memberikan rasa pulang—baik secara fisik maupun emosional.
Jadi, mungkin sekaranglah saatnya membuka kembali buku resep tua milik ibu atau nenek, menyusuri pasar tradisional yang mulai terlupakan, dan merayakan kekayaan rasa serta makna yang hanya bisa ditemukan dalam makanan tradisional Indonesia.
Karena dalam setiap suapan masakan nenek, tersimpan lebih dari sekadar rasa—ada cinta, kenangan, dan warisan yang tak ternilai harganya. (kam)
Editor : Hakam Alghivari