RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel akhirnya mulai mengarah ke titik terang pada Rabu pagi (8/4). Namun, nampaknya peperangan antara kedua belah pihak masih belum akan segera berakhir.
Setelah merasa frustrasi dengan ditutupnya Selat Hormuz imbas dari peperangan tersebut, akhirnya Presiden AS, Donald Trump mengajukan gencatan senjata pada Rabu dinihari. Diketahui dari pernyataan Trump di media sosial, Pakistan berhasil menengahi kedua negara tersebut.
“Setelah berbincang dengan PM Shebbaz Sharif dan (KSAD) Marsekal Asin Munir dari Pakistan saat mereka meminta pengehntian serangan ke Iran, dan dengan syarat Iran mau membuka Selat Hormuz segera dan sepenuhnya, saya nyatakan setuju untuk menangguhkan serangan ke Iran selama dua minggu. Gencatan senjata berlaku untuk kedua belah pihak,” bunyi pernyataan Trump sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera.
Iran menyambut baik niatan gencatan senjata tersebut dan juga bersedia membuka Selat Hormuz. Hanya saja, Iran berekspektasi untuk melakukan diplomasi perdamaian dengan AS di Pakistan.
Kebetulan, kesepakatan gencatan senjata tiba menjelang haul 40 hari meninggalnya pemimpin utama Iran sebelumnya, Ali Khamenei. Almarhum Khamanei menjadi salah satu korban pertama peperangan Iran dan AS-Israel setelah menerima serangan rudal Israel langsung di kediamannya di awal peperangan.
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, maka kami juga akan menarik pasukan kami. Selama dua minggu, Selat Hormuz dapat dilintasi dengan aman setelah berkoordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran,” bunyi pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Agarchi.
Nantinya, diplomasi antara Iran dan AS bakal dilaksanakan selama masa gencatan senjata, dengan perpanjangan waktu jika diperlukan. Baik Iran dan AS menyebut ada sepuluh pokok pembicaraan yang bakal dibahas dalam diplomasi tersebut, yakni:
- Perizinan melintasi Selat Hormuz
- Pemberian kuasa kepada Iran mengenai perlintasan Selat Hormuz
- Penghentian perang secara total di wilayah Iran tanpa terkecuali
- Pengentian konflik bersenjata terkait di Irak, Yaman dan Lebanon
- Penarikan pasukan AS dari wilayah Iran dan sekitarnya
- Ganti rugi perang dan pembiayaan pembagunan pasca perang untuk pemerintah Iran
- Penangguhan semua sanksi internasional untuk Iran, termasuk dari DK PBB
- Pembebasan seluruh aset luar negeri Iran yang saat ini dibekukan
- Perjanjian agar Iran tidak mengembangkan persenjataan nuklir (namun masih boleh melakukan penelitian dan pengayaan nuklir)
- Ratifikasi seluruh keputusan di atas melalui DK PBB
Berkaitan hal tersebut, di saat bersamaan DK PBB juga gagal merumuskan pengajuan pembukaan kembali Selat Hormuz melalui rapat majelis pada Selasa dinihari. Sebab, Rusia dan Tiongkok mem-veto keputusan tersebut.
Yang agak mengejutkan, Israel turut menyambut baik gencatan senjata tersebut. Pun demikian, negeri zionis tersebut kini mengalihkan pandangan ke arah tetangga mereka sendiri, Lebanon, meskipun kesepakatan gencatan senjata juga melibatkan Lebanon.
“Kami mendukung usaha Presiden Trump untuk memastikan Iran tidak memiliki kekuatan nuklir yangd apat mengancam Amerika, Israel, para tetangga Iran, dan seluruh dunia. Namun gencatan senjata tersebut tidak berlaku di Lebanon,” jelas Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera.
Berkaitan hal tersebut, Indonesia melalui Kemlu RI turut menyambut gembira gencatan senjata antara Iran dan AS. Namun Kemlu juga mengingatkan agar PBB mengusut tuntas insiden tewasnya prajurit TNI yang bertugas dalam satuan pasukan pengaja perdamaian PBB di Lebanon.
"Tentunya pemerintah Indonesia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran.Perkembangan ini tentunya mencerminkan adanya upaya dari pihak-pihak terkait untuk tetap membuka ruang diplomasi guna mendorong deeskalasi," ujar Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang dalam pernyataan resmi kementerian pada Rabu siang. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana