Baru terbentuk sekitar satu bulan, Inspirasi Akademisi & Periset Bojonegoro (Inspira Risbo) telah mencetuskan 100 ide untuk mengatasi permasalahan pedidikan Bojonegoro. Terutama berkaitan permasalahan anak tidak sekolah (ATS) yang kini menjadi perhatian.
M. IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
MASALAH pendidikan di Bojonegoro terutama ATS yang mencapai lebih dari 5.000 menjadi motivasi bagi Inspira Risbo untuk ikut andil dalam melakukan penanganan.
Organisasi yang berisikan akademisi dan periset tersebut memberikan rekomendasi 100 ide pendidikan ke pemerintah kabupaten (pemkab).
Penyerahan rekomendasi tersebut berlangsung di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro kemarin (29/5) dalam acara Diseminasi Crowdsourcing 100 Ide Pendidikan untuk Bojonegoro.
Rekomendasi tersebut menjadi kontribusi Inspira Risbo untuk membangun pendidikan lebih baik. Walau baru terbentuk sekitar satu bulan lalu.
‘’Pekerjaan rumah (PR) Bojonegoro di bidang pendidikan banyak. Semua organisasi komunitas bertanggung jawab dan bersinergi untuk membuat porgram demi menyelesaikan PR tersebut,” ungkap Ketua Inspira Risbo Ima Isnaini.
ATS sebagai permasalahan di dunia pendidikan yang harus bisa terselesaikan. Namun, pemerintah tak bisa sendiri harus ada sinergitas antara semua stakeholder. Mulai dari dinas pendidikan, hingga pemdes.
‘’Inspira Risbo hadir dari gerakan bersama akademisi di Bojonegoro serta periset, guru, dosen, hingga, mahasiswa. Termasuk untuk mengawal program ATS,” jelas Wakil Rektor IKIP PGRI Bojonegoro.
Inspira Risbo melakukan pengumpulan ide pada 2 Mei hingga 16 Mei. Terdapat 280 penulis turut menyumbangkan gagasannya untuk mengatasi permasalahan pendidikan.
Mulai dari inovasi pembelajaran, literasi dan numerasi, teknologi pendidikan, pengembangan karir siswa, manajemen sekolah, pendidikan inklusif, penguatan kapasitas, hingga Bojonegoro Zero ATS.
‘’Menangani permasalahan pendidikan,” terangnya.
Terdapat dua ide besar yang menjadi fokus dalam penanganan ATS. Program tersebut berupa Gerakan JEMARI ATS dengan BERES. Jemari adalah jemput, edukasi, mediasi, advokasi, reintegrasi, dan inklusif ATS.
Sementara BERES akronim dari Bojonegoro Education Rescue System, merupakan wadah kolaborasi atau sinergi antara stakholder. Mulai dari akademisi, dinas, hingga pemdes.
‘’Program tersebut bakal diangkat, dikawal, dan diadvokasi ke pemkab sebagai soluasi bersama,” ungkapnya.
BERES menjadi sarana untuk mementukan target harus diselesaikan terlebih dulu. Terlebih penyebab ATS tidak hanya dari ketidakmampuan secara ekonomi namun tidak memilik keinginan untuk sekolah.
Kemudian ketika target sudah diketahui program JEMARI ATS akan dilaksanakan. Tentu dengan aksi langsung menjangkau ATS. Sehingga jumlah ATS di Bojonegoro bisa turun secara siginifikan dan berkelanjutan.
‘’Agar tercapai Bojonegoro Zero ATS,” ujarnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana