Semangat Agus Urip Wijianto terus menggema. Di desa yang jauh dari kota, nyala api perjuangannya tak pernah padam. Berawal dari rasa prihatin keterbatasan biaya sekolah seni Agus mendirikan Sanggar Dort Art.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
Cahaya keemasan pagi menyelinap di sela dedaunan. Tas-tas ransel menggantung di pundak kecil, menemani langkah dan senyum anak-anak yang berangkat sekolah. Namun, ada satu hal lain yang juga mereka tunggu selain pelajaran di kelas: menggambar dan melukis.
Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, di Desa Blimbinggede, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, semangat anak-anak untuk belajar seni tumbuh dalam ruang sederhana. Jarak sekitar 49 kilometer dari Alun-Alun Bojonegoro ternyata tak menjadi penghalang untuk merawat mimpi.
Di tempat itulah berdiri Sanggar Lukis Dort Art, sebuah ruang belajar yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keresahan dan harapan seorang pria bernama Agus Urip Wijianto.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru honorer di salah satu yayasan pendidikan itu menyimpan kisah yang cukup sederhana, namun membekas. Dulu, ia memiliki impian menempuh pendidikan seni. Namun, keadaan membuat mimpinya tak sempat terwujud.
"Sanggar ini ada karena saya terdorong rasa prihatin. Dulu saya ingin sekolah seni, tetapi tidak tercapai. Akhirnya saya mendirikan Sanggar Lukis Dort Art," ujar Agus.
Bagi Agus, sanggar bukan sekadar tempat anak-anak belajar menggambar. Lebih dari itu, ia ingin menciptakan ruang tumbuh bagi mereka. Tempat anak-anak belajar tanpa dibebani persoalan biaya, sekaligus mengasah kemampuan motorik, melatih disiplin, membangun tanggung jawab, hingga menumbuhkan rasa percaya diri.
Perjalanan sanggar itu dimulai sejak 2015. Seiring perkembangan zaman, Agus menilai seni juga memiliki peran baru di tengah kehidupan anak-anak.
"Sekarang teknologi berkembang sangat cepat. Melukis bisa menjadi media yang tepat agar frekuensi penggunaan gawai berkurang," tuturnya.
Namun, perjalanan hampir satu dekade itu belum sepenuhnya berjalan mulus. Keterbatasan sarana masih menjadi tantangan yang terus dihadapi. Di dalam sanggar, fasilitas yang tersedia masih sangat sederhana. Hanya ada beberapa meja belajar, stand kanvas, serta persediaan oil pastel yang disiapkan khusus bagi murid yang tidak mampu membeli peralatan gambar.
Meski demikian, Agus tak pernah menghentikan langkahnya. Selama ini, ia mengandalkan penghasilannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan sanggar sedikit demi sedikit.
"Alhamdulillah, sanggar ini berdiri secara mandiri dan belum pernah mendapatkan bantuan dari siapa pun. Saya menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit untuk melengkapi alat yang masih terbatas," katanya.
Di balik kesederhanaannya, Sanggar Lukis Dort Art menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar cat dan kanvas.
Sanggar itu juga menjadi rumah belajar bagi anak-anak tunarungu. Di sana, keterbatasan tak menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Tangan-tangan kecil terus menciptakan gambar, lukisan, hingga karya batik dengan warna-warni yang menyimpan cerita masing-masing.
Kini, sekitar 700 peserta dari berbagai usia tercatat belajar di sana, baik melalui kelas daring maupun luring. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun ikut bergabung.
Kegiatan yang diajarkan pun beragam. Fokus utama tetap pada seni lukis, sementara hari Minggu digunakan untuk kelas batik, dan Jumat diisi dengan kelas Speaking English.
Agus berharap suatu saat pemerintah dapat membantu sanggar yang dirintisnya. Mulai dari legalitas berbadan hukum hingga dukungan alat pembelajaran yang lebih memadai.
Baginya, sanggar bukan sekadar tempat belajar seni. Di tempat sederhana itu, ia sedang menanam karakter, membentuk kepercayaan diri, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya.
"Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya," tegas Agus.
Di sudut Bojonegoro bagian barat itu, warna-warni cat tak hanya melukis gambar di atas kanvas. Namun, juga melukis mimpi anak-anak yang perlahan menemukan jalannya. (*/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana