Pagi di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, sering dimulai dengan langkah kecil yang berulang. Jalan desa yang sunyi menjadi saksi rutinitas Andika Adi Saputra, berlari untuk melawan rasa malas dan menjaga janji pada diri sendiri.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
TAHUN 2025 menjadi catatan penting dalam perjalanan lari Andika Adi Saputra. Bukan tahun yang spektakuler dengan podium demi podium, tetapi tahun yang penuh konsistensi, kata yang sering terdengar sederhana, namun sulit dijaga.
"Ternyata, selama kita mau konsisten dan terus berlari, progres itu pasti ada, entah kecil atau besar," ungkap pria yang akrab disapa Andika itu.
Sepanjang tahun, Andika tercatat mengikuti 15 event race dan fun run. Mulai dari kategori 5 kilometer hingga full marathon. Ia berlari di Surabaya, Yogyakarta, Bojonegoro, hingga Jakarta. Setiap kota menghadirkan cerita berbeda, namun lintasannya sama: menuntut disiplin dan mental kuat.
Bagi Andika, mengikuti lomba bukan sekadar soal waktu finish. Di sejumlah event, ia justru mengambil peran sebagai pacer—orang yang bertugas menjaga ritme lari peserta lain agar mencapai target waktu.
"Menjadi pacer itu tanggung jawab. Harus menjaga tempo dan mental pelari lain,” terangnya.
Ia memandu pelari di kategori 5K hingga 10K, bahkan dipercaya menjadi personal pacer dengan pace cukup agresif. Peran ini membuat Andika belajar, bahwa lari bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menemani dan memberi rasa aman di lintasan.
Dari sisi latihan, angka-angka yang tercatat cukup mencerminkan kerja panjang tersebut. Sepanjang 2025, total jarak lari Andika mencapai 2.093,4 kilometer. Sebuah jarak yang ditempuh perlahan, hari demi hari.
Catatan personal best pun ikut membaik. Lari 5 kilometer ia selesaikan dalam 19 menit 24 detik, 10 kilometer 42 menit 59 detik, half marathon 1 jam 42 menit 1 detik, dan full marathon 4 jam 27 menit 9 detik.
Perjalanan di lintasan turut membuka pintu kolaborasi. Beberapa brand dan event mempercayakan kerja sama kepada Andika, mulai dari perlengkapan lari hingga kegiatan fun run. Namun baginya, pengakuan tersebut bukan tujuan akhir.
Menutup 2025, Andika memilih berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu melangkah ke depan dengan rencana baru. Ia terbuka pada kritik dan saran, serta siap menjalin kolaborasi positif di 2026. “Yang penting tetap bergerak, tetap belajar, dan tetap berlari,” tegasnya.
Dari desa kecil di Sukosewu, Andika Adi Saputra membuktikan bahwa jarak terjauh dalam lari bukan selalu soal kilometer, melainkan keberanian untuk tetap konsisten, meski tak selalu terlihat oleh sorotan. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana