RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah protes di Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM), petani tebu di Blora mengirimkan hasil panen ke PG Kebun Tebu Mas (KTM) Lamongan, Jawa Timur.
Pengiriman tebu dilakukan secara rutin setiap hari, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik selama masa produksi gula. Salah seorang pemilik lahan tebu, Saiful Zaini mengatakan, pengiriman tebu yang dilakukannya ke PG KTM Lamongan, telah berlangsung lebih dari satu dekade atau sejak tahun 2015.
Dalam sehari, pihaknya mengaku melakukan pengiriman tebu ke PG KTM Lamongan dengan rata-rata terdapat lima rit kendaraan. ‘’Dari awal nanam (tebu) kirimnya ke Lamongan,’’ ujarnya.
Menurutnya, PG KTM Lamongan lebih mengutamakan kualitas dan varietas tebu yang dikirimkan petani. Selain itu, tidak terdapat persyaratan khusus lainnya dalam proses penerimaan tebu di pabrik tersebut. ‘’Di sana (KTM Lamongan) mengutamakan kualitas dan varietas tebu,’’ katanya.
Baca Juga: Petani Blora Tumpahkan Tebu di Depan PT GMM, Ancam Gelar Aksi Lanjutan ke Jakarta
Lebih lanjut, untuk harga jual tebu dihargai sekitar Rp 750 per kilogram. Namun, pendapatan petani masih harus dikurangi dengan biaya transportasi pengangkutan dari lahan menuju pabrik gula.
‘’Untuk angkutan sekitar Rp 170 ribu per ton. Memang jaraknya cukup jauh, tetapi yang penting pengirimannya lancar,’’ katanya.
Saat ini, lahan tebu yang dikelola mencapai puluhan hektare, yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tunjungan, Blora dan Jepon. Lahan yang dikelolanya memiliki potensi panen, dengan total produksi mencapai lebih dari 2 ribu ton dalam satu musim panen.
Potensi itu, dengan asumsi produktivitas tanaman diperkirakan mencapai 70 hingga 80 ton per hektare.
‘’Sekarang ada sekitar 30 hektare lahan tebu. Per hektare panennya bisa mencapai 80 ton,’’ katanya.
Saiful Zaini mengatakan, proses panen dan pengiriman tebu dilakukan secara bertahap menyesuaikan jadwal giling di pabrik gula KTM Lamongan. Atas penyesuian jadwal kirim itu, ia menjelaskan, penyelesaian tebang pada seluruh areal lahan membutuhkan waktu cukup lama.
‘’Sekitar lima bulan waktu panen yang dibutuhkan,’’ katanya. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana