Cerpen Radar Bojonegoro: Senyum Rozali Oleh Athiful Khoiri

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:45 WIB
Ilustrasi Ainur Ochiem
Ilustrasi Ainur Ochiem


Oleh: Athiful Khoiri


“KALAU kau terus bicara pengajian, Li, perahu ini tak akan berangkat.”

Pak Nurdin mengucapkannya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memeriksa jaring, tetapi kalimat itu cukup membuat Rozali berhenti menarik tambang. Tali basah terlepas dari telapak tangannya dan jatuh di papan dermaga.

Bau solar, ikan, lumpur, dan garam memenuhi udara. Perahu-perahu kayu berderit pelan. Di ujung dermaga, muara membawa kantong plastik, popok, sisa bunga, dan serpihan sesaji ke laut.

Rozali menatap aliran keruh itu. “Saya cuma mengusulkan rapat setelah Magrib, Pak.”

Baca Juga: Lembar Budaya: Kopi dan Roti Penuh Kenangan

Pak Nurdin akhirnya menoleh. Juragan ikan itu tidak lain adalah pamannya sendiri. Suaranya keras, dan banyak nelayan berutang solar kepadanya. “Rapat, rapat. Kau baru pulang dari kota sudah merasa kampung ini harus diatur ulang.”

“Bukan diatur ulang, Pak!”

“Lalu apa?”

Rozali menghela napas. “Dijaga.”

Pak Nurdin tertawa pendek, lalu naik ke perahu. “Laut sudah menjaga kita sejak sebelum kau lahir.”

Kalimat itu mengikutinya sepanjang hari.

 

***

Tiga tahun ia merantau. Ketika pulang, laut yang diingatnya tidak lagi sama. Jaring ayahnya lebih sering mengangkat plastik daripada ikan kecil. Anak-anak tetap berenang di muara, tetapi pulang dengan kulit gatal. Saat pasang, sampah menumpuk di akar bakau yang tinggal sedikit. Namun seminggu lagi kampung akan mengadakan sedekah laut.

Tumpeng diarak, kepala kambing dibungkus kain, bunga setaman ditebar, lalu berbagai sesaji dilarungkan. Rozali tidak membenci syukur. Yang menggelisahkannya adalah rasa terima kasih yang justru meninggalkan sampah di sumber kehidupan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Anomali

Malamnya, Sunarti, ibunya, berkata sambil mengaduk sayur, “Niatmu baik, Li. Tapi orang kampung lebih mudah memaafkan ombak daripada orang yang mengusik kebiasaan, Nak!.”

Rozali tersenyum hambar. “Kalau kebiasaan itu membuat laut sakit?”

Sendok di tangan Sunarti berhenti. “Orang tidak suka dikatakan salah, Nak!.”

“Saya juga tidak ingin mengatakan mereka salah.”

“Lalu apa, Nak?”

Rozali menatap nyala kompor. “Saya ingin mereka melihat.”

 

***

Keesokan malam, balai kampung penuh. Nelayan duduk bersila, ibu-ibu berbisik, pemuda berdiri dekat pintu. Pak Nurdin duduk paling depan dengan sarung digulung sampai betis. Rozali menempelkan tiga foto di dinding, yaitu muara penuh sampah, jaring robek, dan kaki seorang bocah yang merah karena gatal.

“Kita tetap bersyukur,” katanya mengawali pembicaraan. “Tapi mungkin cara bersyukur kita perlu berubah. Doa bersama tetap ada. Kita bisa santuni anak yatim, bersihkan pantai, tanam mangrove. Tidak perlu melarungkan benda yang akhirnya kembali menjadi sampah.”

Ruangan seketika mendadak dingin.

Baca Juga: Lembar Budaya: Jaga Tirta

Pak Nurdin berdiri. “Kau sedang mengajari kami cara bersyukur?”

“Tidak, Pak!.”

“Bapakmu ikut sedekah laut sejak muda. Kakekmu juga. Sekarang kau datang membawa foto-foto dan bilang kami merusak laut?”

Rozali menelan ludah. Semua mata tertuju padanya. “Saya bilang laut sedang rusak.”

“Karena kita?”

“Karena banyak hal. Termasuk kebiasaan yang bisa kita hentikan.”

Seseorang berdeham. Pak Nurdin mendekat satu langkah. “Kau terlalu banyak sekolah, Li. Terlalu tinggi ilmumu.”

Marah naik ke tenggorokan Rozali. Ia ingin membalas dan menyebut jaring Pak Nurdin sendiri yang berkali-kali tersangkut sampah. Namun ia teringat pesan ayahnya, bahwa orang yang merasa dipermalukan akan menutup telinga sebelum kau selesai bicara. Rozali menunduk sebentar.

“Mungkin benar, Pak. Tapi saya belajar satu hal, bahwa kalau syukur membuat yang kita syukuri rusak, ada yang perlu kita pikirkan lagi.”

Pak Nurdin pergi sebelum rapat selesai.

Baca Juga: Lembar Budaya: Di Balik Tawa Mereka 

***

Sejak itu, kampung berubah terhadap Rozali. Obrolan di warung kopi mendadak putus ketika ia datang. Anak-anak tetap menyapa, tetapi segera dipanggil pulang. Yang paling berat bukan sindiran itu, melainkan keraguan yang tumbuh diam-diam dalam dirinya.

Pada beberapa malam, Rozali bertanya apakah kepulangannya justru membawa gaduh ke rumah-rumah yang sebelumnya tenteram. Ia bisa saja berhenti, kembali menjadi nelayan biasa, tertawa di warung, dan membiarkan semuanya berlangsung seperti dulu. Tetapi setiap pagi muara menjawab keraguannya dengan bau busuk dan sampah baru. Di situlah ia mengerti, bahwa diam pun sebuah pilihan, dan pilihan itu kelak akan diwariskan kepada anak-anak kampung bersama laut yang semakin lelah mereka sendiri.

Ayahnya, Djumadi, tidak membela dan tidak menyalahkan. Saat memperbaiki jaring, ia berkata, “Ombak tidak pernah menang dengan sekali datang,” ujarnya. Rozali mengangkat kepala. “Kalau kau ingin mengubah batu, datanglah berkali-kali. Jangan dengan marah.”

Maka Rozali berhenti berdebat. Ia mengagguk, kemudian mengajak pemuda membersihkan pantai tanpa spanduk. Ia meminta ibu-ibu memasak untuk anak yatim. Ia mencari bibit mangrove. Mereka menamainya Festival Syukur Laut tanpa memaksa siapa pun ikut. H-1, hanya sebelas pemuda yang bersedia.

“Kalau besok yang datang cuma kita?” tanya Habib, sahabatnya.

Rozali menatap karung-karung kosong untuk sampah. “Ya kita kerjakan sebelas orang.”

“Pak Nurdin bisa marah.”

Baca Juga: Lembar Budaya: Segenggam Pagi untuk Kekasih

“Biar.”

Itu jawaban paling beraninya selama sebulan.

Pagi itu, langit menggantung rendah. Angin dari utara kasar. Warga berkumpul membawa tumpeng, bunga, dan sesaji. Sebelas pemuda berdiri dengan karung dan bibit mangrove. Dua cara bersyukur berhadapan di pantai yang sama.

Pak Nurdin memegang mikrofon. “Sebelum perahu berangkat, kita lakukan seperti biasa.”

Rozali maju. “Pak, beri saya lima menit.”

“Tidak ada lagi rapat,” jawabnya ketus.

“Bukan rapat, Pak.”

Pak Nurdin menatapnya lama. “Lima menit.”

Rozali berdiri menghadap warga. Jantungnya berdebar keras. “Bapak-Ibu, saya tidak ingin menghapus ingatan kita. Saya cuma takut suatu hari anak-anak kita mewarisi upacara tentang laut, tetapi tidak lagi mewarisi lautnya.”

Beberapa kepala terangkat.

“Syukur bukan hanya apa yang kita lepaskan. Syukur juga apa yang kita jaga.”

Belum sempat ia meneruskan, jeritan pecah dari arah muara.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kresek Hitam di Pintu Subuh

“Raka! Raka hanyut!”

Seorang bocah berkaus kuning terseret arus. Tubuh kecilnya timbul-tenggelam di antara plastik dan reranting. Orang-orang berlari, tetapi arus pasang kuat. Rozali segera melompat. Air keruh menutup kepala. Dingin menusuk dada. Ia berenang memotong arus, meraih tangan bocah itu, gagal, lalu mencoba lagi. Sebuah kantong plastik membelit kakinya. Ia menendang keras.

“Pegang saya!”

Raka meraih lehernya dalam panik. Rozali hampir ikut tenggelam. Pak Nurdin berteriak dari tepi. Baru saat itulah Rozali sadar, bahwa Raka adalah cucu lelaki satu-satunya Pak Nurdin.

Ia memutar tubuh, membiarkan arus mendorong mereka ke sisi berlumpur. Tangannya menyentuh akar bakau. Ia berpegangan, mengangkat Raka, lalu warga menarik mereka. Raka batuk keras. Air keluar dari mulutnya. Pak Nurdin berlutut dan memeluk cucunya. Tidak seorang pun bicara. Di kaki mereka, plastik yang membelit Rozali tergeletak bersama bunga layu dan kain sesaji. Pak Nurdin menatapnya lama. Lalu ia berdiri, mengambil mikrofon yang tergeletak di pasir.

“Saya yang salah.”

Warga saling pandang. Pak Nurdin mengusap wajah. Suaranya melunak. “Bukan karena menjaga tradisi. Saya salah karena mengira menjaga tradisi berarti tidak boleh mengubah apa pun.”

Ia menatap Rozali lekat-lekat. “Sedekah laut tetap ada. Tapi mulai hari ini, tidak ada yang kita buang ke laut.”

Tumpeng dibagikan. Kepala kambing yang semula akan dilarungkan dimasak untuk makan bersama. Bunga ditabur di makam leluhur, bukan ke tepi muara. Warga mengambil karung dan mengikuti para pemuda menyisir pantai.

Baca Juga: Lembar Budaya: Sastrawan Tua

Menjelang sore, muara berbeda. Tidak bersih sepenuhnya, tetapi untuk pertama kalinya orang-orang memandang sampah sebagai sesuatu yang harus diangkat, bukan pemandangan biasa. Pak Nurdin menanam bibit mangrove pertama. Raka jongkok di sampingnya.

“Kenapa ditanam, Mbah?”

Pak Nurdin menekan lumpur di sekitar batang kecil itu. “Supaya nanti kamu masih punya laut.”

Rozali mendengarnya dari kejauhan. Ia tersenyum. Ayahnya mendekat dan menepuk bahunya. “Kau menang?” Rozali menggeleng. “Tidak ada yang kalah, Pak.”

Doa bersama digelar di masjid. Tidak ada sorak kemenangan, tidak ada orang yang dipermalukan. Hanya aamiin yang panjang dan ombak dari kejauhan.

Setelah semua pulang, Rozali berjalan ke pantai. Di muara, bibit mangrove berdiri kecil, rapuh, hampir tak berarti dibanding laut.

Pak Nurdin menyusul.

“Li.”

Rozali menoleh. Pamannya tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul. “Dulu waktu kau kecil, kau hampir hanyut di muara ini. Kau ingat?”

Rozali terdiam. Ia samar-samar ingat seseorang menariknya dari air. Pak Nurdin menunjuk dirinya sendiri. “Saya yang menyelamatkanmu.”

Rozali menatap pamannya. “Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?”

Baca Juga: Lembar Budaya: Sabda di Atas Bukit

“Karena tidak penting siapa yang menarik siapa.” Pak Nurdin memandang mangrove yang baru ditanam. “Yang penting, jangan biarkan orang tenggelam ketika tanganmu bisa menjangkau.”

Ia lalu berjalan pulang. Rozali berdiri di tepi air. Baru malam itu ia memahami bahwa dakwah mungkin memang seperti menyelamatkan orang dari arus, yang tidak cukup berteriak dari daratan, tidak perlu sibuk membuktikan siapa paling benar. Kadang seseorang harus turun, basah, bahkan ditolak, agar orang lain melihat bahwa sebuah tangan datang bukan untuk menghakimi, melainkan menolong.

Di belakangnya, kampung kembali sunyi. Di depannya, laut bergerak dalam gelap. Dan di antara keduanya, sebelas bibit mangrove menahan lumpur dengan akar yang belum kuat, seperti perubahan yang baru dimulai, kecil, rapuh, tetapi hidup dan tumbuh.

Lamongan, 8 Agustus 2026

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
limbah laut muara Sampah laut mangrove