
Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro
SUBUH belum benar-benar pecah ketika Raka membuka pintu pagar rumahnya.
Langit masih menggantung gelap, hanya disisipi garis tipis cahaya di ufuk timur. Udara dingin menusuk kulit. Jalanan Desa Laraswangi lengang, hanya terdengar sesekali suara sandal jamaah masjid yang bergegas. Raka melangkah pelan. Lalu ia berhenti.
Di depan pagar, tergeletak sebuah keresek hitam. Diam. Kaku. Seolah menunggu.
Awalnya ia mengira hanya sampah yang terbawa angin malam. Tapi ada sesuatu yang ganjil. Bau itu—menusuk. Anyir. Menyelinap halus ke hidungnya, lalu menetap di dada.
Baca Juga: Lembar Budaya: Pertanyaan Keramat di Lebaran
Raka menelan ludah. Tangannya ragu, tapi akhirnya meraih plastik itu. Ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya tidak ia takutkan.
Ketika ia membuka sedikit lipatan kresek itu, waktu seolah terhenti.
Sepasang mata kosong menatapnya—kepala anjing, dengan darah yang masih segar.
Di dalamnya, terselip secarik kertas putih yang basah oleh merah. Tulisan hitam itu tampak ditekan kuat, seakan menyimpan amarah yang tak terucap:
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





