Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lembar Budaya: Kopi dan Roti Penuh Kenangan

Bhagas Dani Purwoko
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Oleh:
Ahmad Fanani Mosah
Penulis Freelance Asal Kota Babat, Kabupaten Lamongan 

 

Advertisement

MESKI badan ringkih semangatnya masih gigih. Tak ketang  langkahnyapun tertatih-tatih. Itulah ibuku, Muslihah. Mengasuh aku dengan penuh amanah. Tak pernah pongah. Ia sabar tak gentar.

Hingga aku menuai sukses, berkat ibuku berpacu cari jalan akses tanpa ekses, Akankah hal itu mengikuti semangat-jejaknya RA Kartini? Jika iya, cocok saja wong  tanggal kelahirannya berfilosofi pada tokoh emansipasi perempuan Indonesia.

Secara tidak langsung kelahiran ibuku terperingati oleh khalayak ramai sebagai Hari Kartini. Sebab ibuku lahir 21 April. Tahun kelahirannya 1946. Sapaan akrabnya dari para tetangga sekitar, memberi panggilan Mbahbuk.

Advertisement

Tak jarang dengan sisa-sisa tenaganya, Hj.Muslihah ingin menikmati udara segar di luar rumah. Aku gandeng saja ke mana beliau melangkah. Kupegang erat-erat lengan ibuku. Bahkan lebih erat daripada anak TK yang menyanyikan lagu Balonku Ada Lima. Balonnya tinggal empat, mereka pegang erat-erat. Aku dudukkan ia di tempat duduk biasa ia tempati di sudut halaman rumah.

Dalam pada itu banyak orang berlalu-lalang. Sesekali mereka menyapa alakadarnya. Begitu juga Mbahbuk Muslihah beraura sumringah saling berbalas sapa kepada siapa saja. Setelah dirasa cukup, mungkin sudah capek. Lantas ibuku bengok-bengok  memanggil namaku. Pertanda minta dituntun. Kami berjalan pelan masuk ruang dan duduk di singgasana semula. Di atas meja mininya sudah aku letakkan secangkir wedang kopi kemeluk panas mongah-mongah.

“Kok sedap sekali ini kopi apa?” tanyanya begitu menghirup aroma kesukaannya.

“Kopi serbuk asli tanpa gula…” jawabku sambil mengetik naskah.

“Kalau gitu  akan aku tambahi gula jawa merah…!” balasnya sambil berusaha bangkit dari duduknya.

Advertisement
Editor : Yuan Edo Ramadhana
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Lembar Budaya: Anomali

Lembar Budaya: Anomali

Sudah hampir dua minggu terakhir ia bersama puluhan ASN lain diterjunkan ke desa-desa untuk melakukan ground check data anomali DTSEN. Biasanya ia bekerja nyaman di ruangan ber-AC Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro. Menge

Lembar Budaya: Jaga Tirta

Lembar Budaya: Jaga Tirta

Sebenarnya mantan kuwu desa itu sudah berusaha mengatur lahan-lahan mana saja yang tidak boleh diubah untuk peruntukan lain dan mendorong warganya untuk menjaga sarana fisik dengan baik. Semenjak terpilihnya kuwu yang

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Ke

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer