Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lembar Budaya: Anomali

Bhagas Dani Purwoko
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Karya:
Choirul Anam

 

Advertisement

PAGI itu langit Bojonegoro belum benar-benar terang ketika Arif menstarter motor dinasnya. Embun masih menempel di daun singkong pinggir jalan. Udara desa terasa dingin, bercampur bau asap kayu bakar dari dapur-dapur warga yang mulai hidup.

Di tas hitam lusuh yang menggantung di pundaknya ada setumpuk formulir DTSEN, power bank, botol minum, dan sebungkus nasi jagung pemberian istrinya.

“Jangan lupa makan,” pesan istrinya sebelum ia berangkat.

Advertisement

Arif hanya mengangguk.

Sudah hampir dua minggu terakhir ia bersama puluhan ASN lain diterjunkan ke desa-desa untuk melakukan ground check data anomali DTSEN. Biasanya ia bekerja nyaman di ruangan ber-AC Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro. Mengetik laporan. Rapat. Menjawab surat.

Kini ia harus keluar masuk gang sempit, melewati jalan makadam, bahkan kadang menyeberangi pematang sawah hanya demi memastikan satu data: apakah keluarga itu benar-benar miskin atau tidak.

Terdengar sederhana. Tapi kenyataannya jauh lebih rumit.

Motor Arif berhenti di depan balai desa Kedungrejo. Sudah ada beberapa ASN dari OPD lain berkumpul. Ada Bu Ratna dari Dinas Pendidikan, Pak Yudi dari PUPR, dan seorang bidan puskesmas bernama Lela dari Dinas Kesehatan.

Advertisement
Editor : Yuan Edo Ramadhana
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Lembar Budaya: Jaga Tirta

Lembar Budaya: Jaga Tirta

Sebenarnya mantan kuwu desa itu sudah berusaha mengatur lahan-lahan mana saja yang tidak boleh diubah untuk peruntukan lain dan mendorong warganya untuk menjaga sarana fisik dengan baik. Semenjak terpilihnya kuwu yang

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Ke

Lembar Budaya: Nyadran (Balai Desa)

Lembar Budaya: Nyadran (Balai Desa)

Malam itu rapat di balai desa tegang. Diskusi antara kepala desa plus aparaturnya serta tokoh-tokoh masyarakat seperti suasana perang. Adu argumentasi silih berganti. Suara adu mulut dengan nada semakin meninggi. Menjadi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer