
Karya:
Choirul Anam
PAGI itu langit Bojonegoro belum benar-benar terang ketika Arif menstarter motor dinasnya. Embun masih menempel di daun singkong pinggir jalan. Udara desa terasa dingin, bercampur bau asap kayu bakar dari dapur-dapur warga yang mulai hidup.
Di tas hitam lusuh yang menggantung di pundaknya ada setumpuk formulir DTSEN, power bank, botol minum, dan sebungkus nasi jagung pemberian istrinya.
“Jangan lupa makan,” pesan istrinya sebelum ia berangkat.
Arif hanya mengangguk.
Sudah hampir dua minggu terakhir ia bersama puluhan ASN lain diterjunkan ke desa-desa untuk melakukan ground check data anomali DTSEN. Biasanya ia bekerja nyaman di ruangan ber-AC Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro. Mengetik laporan. Rapat. Menjawab surat.
Kini ia harus keluar masuk gang sempit, melewati jalan makadam, bahkan kadang menyeberangi pematang sawah hanya demi memastikan satu data: apakah keluarga itu benar-benar miskin atau tidak.
Terdengar sederhana. Tapi kenyataannya jauh lebih rumit.
Motor Arif berhenti di depan balai desa Kedungrejo. Sudah ada beberapa ASN dari OPD lain berkumpul. Ada Bu Ratna dari Dinas Pendidikan, Pak Yudi dari PUPR, dan seorang bidan puskesmas bernama Lela dari Dinas Kesehatan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





