
Oleh:
Dina Febri Yanti
Jam istirahat kedua di SMP Negeri 8 Timur selalu penuh dengan keramaian. Siswa berlarian ke kantin, berkerumun di koridor, atau bermain bola di lapangan. Namun, ada satu tempat yang selalu sepi. Taman belakang sekolah yang terletak di ujung paling dalam kompleks bangunan. Pohon-pohon tinggi menjulang tinggi, menutupi sebagian besar sinar matahari, membuat tempat itu terasa sejuk namun juga sedikit menyeramkan. Beberapa siswa bahkan bilang ada hantu yang menghuni taman itu, sehingga semakin jarang ada yang berani mendekati.
Rara, seorang siswi kelas VIII yang pendiam dan suka menggambar, seringkali berlindung di taman itu saat merasa tertekan. Hari ini, dia lagi duduk di bangku tua yang terletak di pojok taman, sedang menggaris bawahi gambar karakter komik yang sedang dia buat. Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki yang berat menghampirinya. Dia mengangkat kepala dan melihat tiga siswa kelas IX yang dikenal sebagai kelompok yang suka membully teman sekelasnya, Dika, Rio, dan Sinta.
"Hai, gadis pendiam," ujar Dika dengan nada yang menyakitkan. "Apa kamu lagi menggambar omong kosong di sini?"
Rara segera menutup buku gambarnya dan mencoba berdiri, tapi Rio cepat menghalangi jalannya. "Jangan tergesa-gesa pergi dong. Kami mau lihat hasil karyamu." kata Rio, sambil tersenyum sinis.
Tanpa izin, Sinta meraih buku gambar dari tangan Rara dan mulai membukanya. "Wah, gambarannya jelek banget ya." Ujarnya dengan suara keras sehingga menarik perhatian beberapa siswa yang lewat. "Kayaknya kamu tidak punya bakat sama sekali untuk menggambar."
Baca Juga: Lembar Budaya: Segenggam Pagi untuk Kekasih
Rara merasa wajahnya menjadi panas karena malu dan marah. Dia mencoba mengambil kembali buku gambarnya, tapi Dika menepuk pundaknya dengan kekuatan yang cukup membuatnya terjatuh ke tanah. "Jangan sok cuek, ya" kata Dika. "Kamu harus tahu tempatnya sebagai siswa baru yang tidak punya teman."
Setelah itu, kelompok Dika meninggalkan Rara sendirian di taman, tertawa terbahak-bahak. Rara menangis diam-diam sambil mengumpulkan lembaran gambar yang terjatuh ke tanah. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah lagi datang ke taman itu. Namun, dia tidak menyadari bahwa ini hanya awal dari masalah yang akan datang.
Sejak kejadian di taman itu, kehidupan Rara di sekolah menjadi semakin menyakitkan. Kelompok Dika selalu mencari kesempatan untuk menyakitinya, baik dengan kata-kata yang menyakitkan maupun tindakan kecil yang membuatnya merasa tidak nyaman. Mereka seringkali menyebarkan rumor buruk tentangnya di sekolah, sehingga banyak siswa yang mulai menghindarinya. Bahkan beberapa teman sekelasnya yang tadinya baik padanya juga tidak berani lagi dekat dengannya karena takut menjadi target selanjutnya. Rara merasa sangat kesepian dan tertekan. Dia tidak berani memberitahu orang tuanya atau gurunya karena takut akan balasan dari kelompok Dika. Dia juga merasa malu karena dianggap lemah dan tidak berdaya. Malam-malam dia seringkali menangis dalam diam, bertanya-tanya mengapa dia harus mengalami hal seperti ini.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





