
Oleh:
Anggalih Bayu Muh Kamim
Lendhut menghiasi kakinya. Sembari tadi Pak Abimanyu hanya clingak clinguk. Palang air hanya dipandang belum jadi dibuka. Tengok kanan, liat kiri. Matanya meneropong keadaan sebelum mulai mengangkat terali besi. Jebur…….. kakinya menapak di parit. Rasanya ingin segera dialirkan air kali ke sawahnya. Memang sengaja pagi-pagi buta, dirinya langsung datang ke sawahnya. Maklum sebentar lagi sudah masa tanam. Dia mencoba mengangkat palang air. Lalu dicoba diputarnya kemudi terali besi.
Pak Abimanyu lantas membuka sumbat air ke arah sawahnya. Dirinya semakin mantap ingin segera mulai ndaud di sawahnya. Air mulai membanjiri sawahnya. Sampah-sampah yang akan masuk disaring oleh dia. Beruntung betul dia datang lebih awal. Dia menjadi tidak perlu cekcok dengan rekannya sesama petani. Kebetulan air untuk irigasi sedang sulit didapat di kampung Galarama. Warga harus saling berbagi air untuk mengairi sawah dan ladangnya. Memang tidak sedang musim kemarau, tetapi air untuk irigasi sedang sulit didapat. Sawah-sawah yang telah disulap menjadi perumahan dan bangunan lainnya lah biang dari persoalannya. Irigasi menjadi rusak karena si empunya tanah sengaja menutup saluran air di depan lahannya yang bukan lagi sawah.
Sebenarnya mantan kuwu desa itu sudah berusaha mengatur lahan-lahan mana saja yang tidak boleh diubah untuk peruntukan lain dan mendorong warganya untuk menjaga sarana fisik dengan baik. Semenjak terpilihnya kuwu yang baru keadaan desa telah berubah. Kehidupan kaum tani kurang diperhatikan. Bertani dianggap tidak akan membawa kesejahteraan oleh kuwu yang baru.
Baca Juga: Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai
Para kawula termasuk Pak Abimanyu sebenarnya sempat menyampaikan keluh kesahnya kepada kuwu mengenai masalah irigasi di kampung Galarama. Nyanyian-nyanyian para kawula sayangnya tidak digubris oleh kuwu dan pamong desa. Bayan kampung Galarama juga tidak bisa berbuat banyak, karena selalu terpojok dalam setiap forum rembug desa.
Para kawula membentuk kelompok taninya mandiri tanpa sepengetahuan pamong desa. Para petani juga menunjuk ulu-ulu versi warga disebabkan pamong desa yang bertugas mengurusi masalah pertanian seperti irigasi sibuk dengan urusannya sendiri. Ulu-ulu yang dibentuk kelompok tani mengatur pembagian jadwal pemakaian air untuk mengairi sawah. Setiap anggota juga diminta iuran untuk dana perawatan dan perbaikan saluran irigasi secara swadaya.
Para petani mengatur jadwal penggunaan irigasi setelah munculnya perebutan air di antara sesama warga. Sebelumnya para petani harus saling mencuri kesempatan untuk mendapatkan air untuk mengairi sawahnya. Ulu-ulu versi pemerintah desa sayangnya tidak menyadari adanya perebutan air irigasi yang memicu cekcok para kawula. Kehadiran ulu-ulu baru versi kelompok tani setidaknya mampu mencegah terjadinya perebutan air di antara warga. Setiap terjadi pelanggaran jadwal penggunaan air, ulu-ulu kelompok tani akan menjatuhkan sanksi kepada petani yang melanggar.
Sebenarnya pagi itu bukan jatah bagi Pak Abimanyu untuk mengairi sawahnya. Hasrat untuk segera memulai ndaud lah yang membuat Pak Abimanyu nekat mengambil jatah air bagi petani lain. Pak Abimanyu sudah merencanakan aksinya sejak semalam. Pak Abimanyu sudah mengumpulkan keberanian untuk datang pagi-pagi buta untuk membuka palang air. Pak Abimanyu yakin aksinya tidak akan diketahui oleh kawula lain. Sebab sawahnya berada dekat dengan palang air. Pak Abimanyu merasa warga tidak akan mencurigainya, karena dia mengairi sawahnya sebelum petani lain yang seharusnya memiliki jatah mengairi sawah belum datang.
“Lho…… Lho…….. Eeee….. eee, Cak, maksudnya apa ini kok malah kamu yang pakai ini air untuk sawahmu,” bentak Pak Rudi yang tiba-tiba datang dan kesal melihat Pak Abimanyu telah membuka palang irigasi.
“Oh, kamu to, Rud, ada apa kok datang-datang marah gitu, ini masih pagi lho. Mbok ya, jangan emosi gitu pagi-pagi.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





