
Oleh:
Fileski W Tanjung
AKU selalu percaya bahwa pagi adalah sesuatu yang bisa digenggam, meski orang-orang di kota ini menganggapnya hanya sebagai jeda singkat sebelum deru mesin kembali mengambil alih dunia.
Keyakinan itu datang diam-diam, seperti embun yang tidak pernah meminta perhatian. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang tak disadari orang lain. Dari cara cahaya merayap pelan di sela jendela posku. Dari cara udara menyentuh kulit dengan kejujuran yang tak dimiliki siang.
Setiap hari, dari balik pos palang pintu kereta yang catnya mengelupas seperti kulit waktu yang kelelahan, aku menyaksikan pagi lahir dengan ragu-ragu. Ia tidak pernah benar-benar datang utuh, seperti seseorang yang setengah hati mencintai hidupnya sendiri. Sebagian tubuhnya tertahan oleh asap pabrik yang menggantung rendah di langit. Sebagian lagi terjebak di sela gedung-gedung tinggi yang rakus cahaya. Sisanya jatuh ke tanah, diinjak oleh langkah-langkah yang terburu-buru.
Aku berdiri di sana, seperti penjaga perbatasan antara terang dan gelap, antara harapan dan pengulangan yang melelahkan. Tanganku terbiasa mengangkat dan menurunkan palang, seolah-olah aku sedang mengatur nasib orang lain. Namun aku sendiri tidak pernah tahu ke mana hidupku bergerak. Aku hanya tahu kapan kereta datang dan kapan ia pergi. “Selebihnya, aku hanya menunggu,” bisikku suatu pagi.
Baca Juga: Lembar Budaya: Lubang Toilet
Kereta pertama melintas pukul lima lewat dua belas menit, dengan suara yang seperti doa yang terburu-buru. Dentangnya mengguncang udara, memecah kesunyian yang masih setengah utuh. Orang-orang berlarian, menyeret koper, menyelipkan kecemasan ke dalam saku mereka. Tak ada yang sempat menoleh ke langit yang sedang berusaha menjadi indah. Mereka terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan mereka sendiri tak pernah benar-benar mengerti.
Mereka lupa bahwa langit masih mencoba berbicara dengan bahasa yang lebih jujur dari angka dan jadwal. Mereka lupa bahwa bahagia tidak selalu datang dalam bentuk keberhasilan. Dan aku, yang setiap hari menyaksikan semua itu, mulai merasa bahwa hidup ini hanyalah rangkaian palang yang naik dan turun. Ia memberi jalan bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar tiba. “Seperti hidupku,” gumamku lirih.
Kekasihku, Dewi Kusuma. Ia pernah berkata kepadaku bahwa aku terlalu lama berdiri di tempat yang sama. Ia mengatakan bahwa aku telah menjadi bagian dari rutinitas yang kutonton sendiri. Katanya, dunia tidak sesederhana rel lurus yang hanya mengenal arah maju. “Kau bukan palang pintu, kau manusia,” ucapnya suatu sore. Kata-katanya menetap lebih lama dari suara kereta mana pun.
Ia selalu begitu, penuh gagasan seperti buku yang tak pernah selesai dibaca. Matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Seakan-akan ia tahu bahwa hidup ini lebih luas dari sekadar jadwal keberangkatan dan kedatangan. Suaranya seperti angin yang menyentuh bagian terdalam dari pikiranku. Ia tidak mengubah hidupku, tetapi ia menggoyahkan cara aku memandangnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





