Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lembar Budaya: Segenggam Pagi untuk Kekasih

Bhagas Dani Purwoko
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Oleh:
Fileski W Tanjung

 

Advertisement

AKU selalu percaya bahwa pagi adalah sesuatu yang bisa digenggam, meski orang-orang di kota ini menganggapnya hanya sebagai jeda singkat sebelum deru mesin kembali mengambil alih dunia.

Keyakinan itu datang diam-diam, seperti embun yang tidak pernah meminta perhatian. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang tak disadari orang lain. Dari cara cahaya merayap pelan di sela jendela posku. Dari cara udara menyentuh kulit dengan kejujuran yang tak dimiliki siang.

Setiap hari, dari balik pos palang pintu kereta yang catnya mengelupas seperti kulit waktu yang kelelahan, aku menyaksikan pagi lahir dengan ragu-ragu. Ia tidak pernah benar-benar datang utuh, seperti seseorang yang setengah hati mencintai hidupnya sendiri. Sebagian tubuhnya tertahan oleh asap pabrik yang menggantung rendah di langit. Sebagian lagi terjebak di sela gedung-gedung tinggi yang rakus cahaya. Sisanya jatuh ke tanah, diinjak oleh langkah-langkah yang terburu-buru.

Advertisement

Aku berdiri di sana, seperti penjaga perbatasan antara terang dan gelap, antara harapan dan pengulangan yang melelahkan. Tanganku terbiasa mengangkat dan menurunkan palang, seolah-olah aku sedang mengatur nasib orang lain. Namun aku sendiri tidak pernah tahu ke mana hidupku bergerak. Aku hanya tahu kapan kereta datang dan kapan ia pergi. “Selebihnya, aku hanya menunggu,” bisikku suatu pagi.

Kereta pertama melintas pukul lima lewat dua belas menit, dengan suara yang seperti doa yang terburu-buru. Dentangnya mengguncang udara, memecah kesunyian yang masih setengah utuh. Orang-orang berlarian, menyeret koper, menyelipkan kecemasan ke dalam saku mereka. Tak ada yang sempat menoleh ke langit yang sedang berusaha menjadi indah. Mereka terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan mereka sendiri tak pernah benar-benar mengerti.

Mereka lupa bahwa langit masih mencoba berbicara dengan bahasa yang lebih jujur dari angka dan jadwal. Mereka lupa bahwa bahagia tidak selalu datang dalam bentuk keberhasilan. Dan aku, yang setiap hari menyaksikan semua itu, mulai merasa bahwa hidup ini hanyalah rangkaian palang yang naik dan turun. Ia memberi jalan bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar tiba. “Seperti hidupku,” gumamku lirih.

Kekasihku, Dewi Kusuma. Ia pernah berkata kepadaku bahwa aku terlalu lama berdiri di tempat yang sama. Ia mengatakan bahwa aku telah menjadi bagian dari rutinitas yang kutonton sendiri. Katanya, dunia tidak sesederhana rel lurus yang hanya mengenal arah maju. “Kau bukan palang pintu, kau manusia,” ucapnya suatu sore. Kata-katanya menetap lebih lama dari suara kereta mana pun.

Ia selalu begitu, penuh gagasan seperti buku yang tak pernah selesai dibaca. Matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Seakan-akan ia tahu bahwa hidup ini lebih luas dari sekadar jadwal keberangkatan dan kedatangan. Suaranya seperti angin yang menyentuh bagian terdalam dari pikiranku. Ia tidak mengubah hidupku, tetapi ia menggoyahkan cara aku memandangnya.

Advertisement
Editor : Yuan Edo Ramadhana
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Mitos atau Fakta? Tidur dengan Lampu Menyala Bisa Memengaruhi Kualitas Tidur

Mitos atau Fakta? Tidur dengan Lampu Menyala Bisa Memengaruhi Kualitas Tidur

Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan cahaya pada malam hari dapat mengganggu ritme biologis tubuh, memengaruhi produksi hormon melatonin, hingga menurunkan kualitas tidur.

Jangan Remehkan Flash Kamera, Ini Keunggulan Flash untuk Fotografi

Jangan Remehkan Flash Kamera, Ini Keunggulan Flash untuk Fotografi

Padahal, jika digunakan dengan tepat, flash dapat menjadi salah satu elemen penting dalam fotografi untuk menghasilkan foto yang lebih terang, tajam, dan memiliki karakter visual yang menarik.

3 Tanda Unik Pasanganmu Adalah Jodoh Sejati Menurut Psikologi dan Sains

3 Tanda Unik Pasanganmu Adalah Jodoh Sejati Menurut Psikologi dan Sains

Bosan bersama bukan berarti hambar! Pakar psikologi membongkar 3 tanda halus bahwa dia adalah orang yang tepat untukmu. Simak penjelasan ilmiah mengapa rasa aman jauh lebih penting daripada lonjakan dopamin

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer