Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lembar Budaya: Jaga Tirta

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Anggalih Bayu Muh Kamim

Lendhut menghiasi kakinya. Sembari tadi Pak Abimanyu hanya clingak clinguk. Palang air hanya dipandang belum jadi dibuka. Tengok kanan, liat kiri. Matanya meneropong keadaan sebelum mulai mengangkat terali besi. Jebur…….. kakinya menapak di parit. Rasanya ingin segera dialirkan air kali ke sawahnya. Memang sengaja pagi-pagi buta, dirinya langsung datang ke sawahnya. Maklum sebentar lagi sudah masa tanam. Dia mencoba mengangkat palang air. Lalu dicoba diputarnya kemudi terali besi.

Pak Abimanyu lantas membuka sumbat air ke arah sawahnya. Dirinya semakin mantap ingin segera mulai ndaud di sawahnya. Air mulai membanjiri sawahnya. Sampah-sampah yang akan masuk disaring oleh dia. Beruntung betul dia datang lebih awal. Dia menjadi tidak perlu cekcok dengan rekannya sesama petani. Kebetulan air untuk irigasi sedang sulit didapat di kampung Galarama. Warga harus saling berbagi air untuk mengairi sawah dan ladangnya. Memang tidak sedang musim kemarau, tetapi air untuk irigasi sedang sulit didapat. Sawah-sawah yang telah disulap menjadi perumahan dan bangunan lainnya lah biang dari persoalannya. Irigasi menjadi rusak karena si empunya tanah sengaja menutup saluran air di depan lahannya yang bukan lagi sawah.

Sebenarnya mantan kuwu desa itu sudah berusaha mengatur lahan-lahan mana saja yang tidak boleh diubah untuk peruntukan lain dan mendorong warganya untuk menjaga sarana fisik dengan baik. Semenjak terpilihnya kuwu yang baru keadaan desa telah berubah. Kehidupan kaum tani kurang diperhatikan. Bertani dianggap tidak akan membawa kesejahteraan oleh kuwu yang baru.

Baca Juga: Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Para kawula termasuk Pak Abimanyu sebenarnya sempat menyampaikan keluh kesahnya kepada kuwu mengenai masalah irigasi di kampung Galarama. Nyanyian-nyanyian para kawula sayangnya tidak digubris oleh kuwu dan pamong desa. Bayan kampung Galarama juga tidak bisa berbuat banyak, karena selalu terpojok dalam setiap forum rembug desa.

Para kawula membentuk kelompok taninya mandiri tanpa sepengetahuan pamong desa. Para petani juga menunjuk ulu-ulu versi warga disebabkan pamong desa yang bertugas mengurusi masalah pertanian seperti irigasi sibuk dengan urusannya sendiri. Ulu-ulu yang dibentuk kelompok tani mengatur pembagian jadwal pemakaian air untuk mengairi sawah. Setiap anggota juga diminta iuran untuk dana perawatan dan perbaikan saluran irigasi secara swadaya.

Para petani mengatur jadwal penggunaan irigasi setelah munculnya perebutan air di antara sesama warga. Sebelumnya para petani harus saling mencuri kesempatan untuk mendapatkan air untuk mengairi sawahnya. Ulu-ulu versi pemerintah desa sayangnya tidak menyadari adanya perebutan air irigasi yang memicu cekcok para kawula. Kehadiran ulu-ulu baru versi kelompok tani setidaknya mampu mencegah terjadinya perebutan air di antara warga. Setiap terjadi pelanggaran jadwal penggunaan air, ulu-ulu kelompok tani akan menjatuhkan sanksi kepada petani yang melanggar.

Sebenarnya pagi itu bukan jatah bagi Pak Abimanyu untuk mengairi sawahnya. Hasrat untuk segera memulai ndaud lah yang membuat Pak Abimanyu nekat mengambil jatah air bagi petani lain. Pak Abimanyu sudah merencanakan aksinya sejak semalam. Pak Abimanyu sudah mengumpulkan keberanian untuk datang pagi-pagi buta untuk membuka palang air. Pak Abimanyu yakin aksinya tidak akan diketahui oleh kawula lain. Sebab sawahnya berada dekat dengan palang air. Pak Abimanyu merasa warga tidak akan mencurigainya, karena dia mengairi sawahnya sebelum petani lain yang seharusnya memiliki jatah mengairi sawah belum datang.

“Lho…… Lho…….. Eeee….. eee, Cak, maksudnya apa ini kok malah kamu yang pakai ini air untuk sawahmu,” bentak Pak Rudi yang tiba-tiba datang dan kesal melihat Pak Abimanyu telah membuka palang irigasi.

“Oh, kamu to, Rud, ada apa kok datang-datang marah gitu, ini masih pagi lho. Mbok ya, jangan emosi gitu pagi-pagi.”

“Cak, gimana aku enggak marah, ini kan sekarang giliran aku pake ini air irigasi. Kok kamu itu lho yang malah pake.”

“Lha iya giliran nanti, Rud. Kan kemarin kamu udah sekarang aku dong, itu baru namanya giliran.”

“Wah…… kalau gini kamu berarti bikin perkara, Cak. Giliran itu ya ada jadwalnya. Ini jadwal aku pake irigasi ini,” Pak Rudi mencoba menenangkan diri dan memberi penjelasan.

“Lha iya, Rud, ini sudah sesuai jadwal. Ini jadwalku mulai bekerja, pokoknya jam setengah enam ceprot, aku kudu ke sawah gitu lho……”

“Cak, mbok ya jangan ngeyel. Jadwal itu maksudnya pembagian waktu pemakaian irigasi yang udah disepakati di kelompok tani. Bukan jadwal kamu mulai kerja di sawah, kalau itu urusan kamu. Sampeyan kan jatah pake irigasinya nanti siang habis jadwalnya Pak Blontang, Cak.”

“Ah…… ya enggak bisa, yang bener tu ya sesuai jadwalku, lha nanti kalau enggak pake ini irigasi terus aku ke sawah ngapain? Padahal ini udah waktunya masa tanam bentar lagi. Sebelum ndaud bibit kan sawahku butuh air ini. Ini udah pas sama jadwal tanam sama waktu kerjaku,” Pak Abimanyu kukuh dengan pendiriannya.

Baca Juga: Lembar Budaya: Nyadran (Balai Desa)

“Wah…… kalau gini gak iso, Cak. Ayo… kamu ikut aku nemuin ulu-ulu, mau tak laporin kamu. Ayo melu, pokok eeee,” Pak Rudi sudah kehabisan kesabaran dan menarik tangan Pak Abimanyu untuk diajak menyelesaikan persoalan melalui rembugan di kelompok tani.

Perebutan air di sesama petani masih terjadi, meskipun sudah ada wadah kelompok tani yang dibentuk secara mandiri. Penyelesaian secara swadaya oleh warga tidak dapat bertahan lama disebabkan sanksi yang diberikan bagi pelanggar terbatas pada teguran dan pemberian denda tidak terlalu banyak bilamana melakukan pelanggaran lebih dari dua kali.

Para pelanggar tidak pernah kapok dengan perbuatannya, karena bagi mereka yang penting sawahnya telah mendapatkan air irigasi. Pak Abimanyu termasuk petani yang sudah melakukan pelanggaran lebih dari dua kali. Para petani berani mengambil risiko untuk berebut jatah air irigasi. Bahkan terkadang mereka kongkalikong untuk tidak saling melaporkan. Bagi masyarakat desa memang saling melaporkan sebenarnya dianggap bukan bagian dari tradisi. Para kawula sebenarnya sebisa mungkin ingin menjaga guyub rukun.

Mereka tidak ingin membuat masalah satu sama lain, sebab tidak ingin memutuskan persaudaraan di antara mereka. Sebab selama ini para kawula berusaha bersatu untuk bahu membahu menyelesaikan persoalan penghidupan secara mandiri di tengah sikap acuh tak acuh dari kuwu dan pamong desa. Urusan air irigasi telah mencerabut kepaduan para kawula, mereka tidak lagi kokoh. Mereka harus saling mencuri kesempatan, agar tetap bisa mendapatkan sumber penghidupan dari bertani. Masyarakat kampung Galarama ibarat lahan gambut di musim kemarau. Dari luar terlihat tenang tak ada apa-apa, tetapi di dalamnya terdapat bara api yang menyala dan bisa membesar membakar ke permukaan. Memang pusing bukan kepalang, nasib para kawula yang harus mencari jalan keluar sendiri bagi masalah kesulitan penghidupan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kuwu #Desa #cerpen #tani #Air