
Oleh:
Ahmad Zaini
Ketua Lesbumi PCNU Babat, Guru di SMK Negeri 1 Lamongan dan SMA Mambaul Ulum Pucuk
Rembulan tergantung sendiri malam hari. Cahayanya putih berseri. Ia ketinggalan bintang-bintang yang lebih dulu undur diri. Purnama tak berlama-lama lagi. Dia pun segera menyembunyikan dirinya di balik rerimbunan tanaman perdu sebelum matahari muncul.
Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Kehidupan makhluk ada batasnya. Demikian juga tugasnya. Suatu saat akan menemui masa purna yang harus rela ditinggalkan.
“Dia belum meninggal. Dia masih hidup,” racau Hanafi yang hingga kini belum sadar sepenuhnya lantaran kiainya meninggal dunia.
Baca Juga: Lembar Budaya: Di Balik Tawa Mereka
Hanafi seorang santri. Dia bertahun-tahun menimba ilmu pada Kiai Hasan. Dia belajar mulai dari nol. Sejak dia belum mengenal huruf hijaiyah, belum hafal dan memahami kata-kata hikmah dan kalimat nasihat tentang keagamaan dan kehidupan. Sekarang dia sudah sangat mengerti tentang ilmu agama dan ilmu hakikat hidup. Hanafi menganggap Kiai Hasan sebagai sosok yang mumpuni. Sosok yang sempurna dalam keilmuan. Sosok yang tidak bisa tergantikan oleh lainnya. Sosok yang tidak lekang oleh waktu dan tak akan tergusur oleh peradaban.
“Sadar, Han. Kiai Hasan manusia biasa. Semua manusia ini akan sampai pada batas waktu kehidupan. Akan meninggalkan dunia ini,” kata Lukman yang mencoba menyadarkan Hanafi yang masih berada di bawah alam sadar.
“Dia itu hidup selamanya,” kata Hanafi lagi dalam kondisi mata yang masih tertutup.
“Buka matamu. Lihatlah sekeliling. Kita ini di dunia fana. Semua akan kembali padaNya,” tegas Lukman sembari membuka paksa mata Hanafi.
“Dia hidup. Dia hidup,” ucap Hanafi yang kemudian seluruh anggota tubuhnya lunglai di lantai kamar pesantren.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




