Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

M. Nurkhozim • Sabtu, 16 Mei 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Ahmad Zaini
Ketua Lesbumi PCNU Babat, Guru di SMK Negeri 1 Lamongan dan SMA Mambaul Ulum Pucuk

 

Rembulan tergantung sendiri malam hari. Cahayanya putih berseri. Ia ketinggalan bintang-bintang yang lebih dulu undur diri. Purnama tak berlama-lama lagi. Dia pun segera menyembunyikan dirinya di balik rerimbunan tanaman perdu sebelum matahari muncul.

Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Kehidupan makhluk ada batasnya. Demikian juga tugasnya. Suatu saat akan menemui masa purna yang harus rela ditinggalkan.

“Dia belum meninggal. Dia masih hidup,” racau Hanafi yang hingga kini belum sadar sepenuhnya  lantaran kiainya meninggal dunia.

Baca Juga: Lembar Budaya: Di Balik Tawa Mereka

Hanafi seorang santri. Dia bertahun-tahun menimba ilmu pada Kiai Hasan. Dia belajar mulai dari nol. Sejak dia belum mengenal huruf hijaiyah, belum hafal dan memahami kata-kata hikmah dan kalimat nasihat tentang keagamaan dan kehidupan. Sekarang dia sudah sangat mengerti tentang ilmu agama dan ilmu hakikat hidup. Hanafi menganggap Kiai Hasan sebagai sosok yang mumpuni. Sosok yang sempurna dalam keilmuan. Sosok yang tidak bisa tergantikan oleh lainnya. Sosok yang tidak lekang oleh waktu dan tak akan tergusur oleh peradaban.

“Sadar, Han. Kiai Hasan manusia biasa. Semua manusia ini akan sampai pada batas waktu kehidupan. Akan meninggalkan dunia ini,” kata Lukman yang mencoba menyadarkan Hanafi yang masih berada di bawah alam sadar.

“Dia itu hidup selamanya,” kata Hanafi lagi dalam kondisi mata yang masih tertutup.

“Buka matamu. Lihatlah sekeliling. Kita ini di dunia fana. Semua akan kembali padaNya,” tegas Lukman sembari membuka paksa mata Hanafi.

“Dia hidup. Dia hidup,” ucap Hanafi yang kemudian seluruh anggota tubuhnya lunglai di lantai kamar pesantren.

Lukman dibantu teman-temannya segera membopong tubuh Hanafi. Dia meletakkan tubuh kerempeng tersebut ke atas dipan bambu buah karyanya sendiri. Hanafi masih belum percaya atas meninggalnya Kiai Hasan yang dianggapnya tiba-tiba. Padahal, selama ini Hanafi sering menyampaikan kepada santri-santri lain bahwa kematian merupakan keniscayaan. Semua yang hidup pasti akan mengalami kematian. Ibarat dalam bangunan rumah, kematian adalah pintu. Semua yang ada dalam rumah itu pasti akan melewatinya.

Hanafi memang santri paling senior di pesantren ini. Dia sering dipercaya Kiai Hasan untuk menggantikannya membaca kitab salaf. Dia dianggap sebagai santri yang layak dan bisa sebagai badal bila Kiai Hasan berhalangan mengajar mengaji. Semua santri mengakui dan memaklumi kehebatannya karena Hanafi diberi jadwal khusus oleh Kiai Hasan untuk mengaji atau belajar sendiri di ndalem kiai. Makanya, dia memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal membaca dan memahami kitab-kitab salaf dibandingkan santri-santri lainnya.

“Han, Hanafi! Sadar, Han! Itu banyak tamu yang bertakziyah ingin menemuimu,” kata Lukman sambil mengguncang-guncang tubuh Hanafi yang masih tak berdaya.

Baca Juga: Lembar Budaya: Segenggam Pagi untuk Kekasih

Selama ini juga Hanafilah yang mendapingi Kiai Hasan bila mendapat undangan pengajian keluar desa. Tak heran bila masyarakat menganggap Hanafi sebagai asisten pribadi Kiai Hasan. Masyarakat yang mengenal Kiai Hasan, juga dapat dipastikan mengenal Hanafi. Para tamu ingin mengetahui banyak keluhan kesehatan atau sakit yang diderita kiai. Hanafi pasti tahu semuanya. Namun, apalah daya. Semua tamu belum mendapatkan informasi itu lantaran hingga kini jiwa Hanafi masih terpukul atas kepergian sang kiai.

“Kiai masih ada. Kiai maasih hidup,” racau Hanafi.

“Tolong ambilkan air,” pinta Lukman pada santri lain yang ada di sampingnya. Santri yang lebih muda usianya itu segera mengambilkan air tanpa menanyakan guna dan manfaatnya.

Segayung air diletakkan di sebelah kepala Hanafi. Tangan kanan Lukman dicelupkan ke dalam gayung. Perlahan Lukman berkali-kali mengusapkan air tersebut ke wajah Hanafi disertai doa-doa. Tak berselang lama, Hanafi bangkit kemudian mengibaskan butiran-butiran air yang masih menempel di wajahnya.

Astaghfirullahaladzim! Di mana aku ini? Kiai bagaimana?” tanya Hanafi setelah siuman.

Lukman dan ketiga temannya yang sejak tadi mengurus Hanafi berdiri mematung. Mereka tak berani menjawab langsung karena khawatir Hanafi akan syok lagi.

“Apa yang kauketahui tentang kiai selama kau berada di bawah alam sadar?” tanya Lukman pada Hanafi yang baru saja menemukan dirinya sendiri.

Hanafi duduk sambil menyembunyikan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah-wajah yang berada di sekelilingnya. Dia belum menjawab pertanyaan Lukman sahabat karibnya selama di pesantren ini. Dia masih mengingat-ingat kejadian yang baru dilihatnya di bawah alam sadar.

“Kiai Hasan masih hidup,” katanya.

“Semua orang yang berdiri mengelilingimu ini baru datang dari tanah makam. Mereka baru selesai mengikuti proses pemakaman kiai. Kamu masih bersikukuh mengatakan bahwa kiai masih hidup. Berarti kamu mengingkari hukum Allah. Hukum bahwa semua manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian. Suatu saat ajal pasti menjemputnya. Kiai Hasan telah tiada dan baru saja dimakamkan.”

“Tidak. Aku melihat sendiri. Kiai masih hidup. Beliau hanya pindah alam,” kata Hanafi yang masih bersikukuh memegang keyakinannya.

“Yang kamu katakan memang benar. Kiai hanya pindam alam. Namun, yang kamu maksud itu bukan kiai secara jasadi, melainkan ruhnya,” bantah Lukman.

Baca Juga: Lembar Budaya: Lubang Toilet

“Benar, kan? Kiai masih hidup?”

“Benar. Tapi ruhnya.”

“Bukan. Itu kiai,” kata Hanafi dengan mata melotot seperti mau melompat keluar.

Lukman menyadari keyakinan yang dipegang oleh Hanafi. Memang orang alim atau orang berilmu hakikatnya tidak bisa mati. Jasadnya memang mati, namun ilmu dan ajarannya masih bisa memberi manfaat terhadap orang-orang sekeliling. Nyawa memang telah lepas dari raga. Akan tetapi, ilmu yang diajarkan kepada murid-murid dan warga masyarakat membuatnya seperti masih hidup di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, orang yang tidak berilmu. Meskipun dia masih hidup, hakikatnya orang itu sudah mati.

“Aku melihat kiai punya dua sayap berbulu putih seperti kapas. Wajahnya bercahaya seperti purnama. Beliau terbang sambil melemparkan senyum ke arahku. Kiai kemudian duduk di antara gumpalan mega putih. Kursinya seperti kursi raja. Di sekeliling ada puluhan bahkan ratusan bidadari yang berlomba-lomba menawarkan pelayanan dengan berbagai kenikmatan kepada kiai. Mereka membawa berbagai jenis hidangan di meja putih seperti lempengan Mutiara.”

Subhanallah, benar yang kauceritakan?” tanya Lukman dengan suara yang agak parau. Mulutnya bergetar dengan gigi-gigi gemeretak saling berbenturan.

“Sangat benar,” jawab singkat Hanafi.

Lukman sesenggukan. Dia tersedu dalam tangis haru dan harapan. Lukman berharap yang dikisahkan oleh Hanafi dari pengalaman spiritual di bawah alam sadarnya menjadi kenyataan. Kiai pindah alam. Kiai beristirahat menunggu hari kebangkitan dengan ditemani ratusan bidadari sebagai jelmaan amal kebaikan yang dilakukan selama hidupnya.

Semua orang yang berada di sekeliling Hanafi tertegun. Mereka seperti terhipnotis dengan tuturan Hanafi. Mereka berlinang air mata karena larut dalam haru bahagia. Puluhan pohon mangga pun merasakan demikian. Daun-daunnya tengadah memohonkan Rahmat dan ampunan kepada Allah buat kiai anutannya. Demikian juga ikan-ikan yang berada di empang sebelah pesantren. Aneka makhluk air itu memanjatkan doa buat almarhaum.

Baca Juga: Lembar Budaya: Algoritma dan Secangkir Kopi

***

Para dzurriyyat atau keluarga besar Kiai Hasan menggelar doa bersama selama tujuh hari di halaman pesantren. Mereka memberi kesempatan kepada semua warga turut mendoakan almarhum Kiai Hasan selama tujuh hari berturut-turut. Para remaja, dewasa, hingga yang renta turut hadir dalam acara kirim doa. Mereka hadir dengan hati ikhlas. Mereka hadir atas kemauan sendiri tanpa menunggu undangan lisan atau tulisan dari keluaga Kiai Hasan. Mereka ingin mendapatkan berkah dari Allah atas luberan kebaikan yang dimiliki oleh Kiai Hasan.

Hanafi sebagai santri senior dipercaya oleh keluarga ndalem. Dia mengatur acara doa bersama dari malam pertama sampai malam ketujuh. Sosok sebagai orang kepercayaan Kiai Hasan mendekat ke beberapa sosok yang dinilai pantas mengisi acara. Gus Syam sebagai putra kedua kiai diberi tugas memimpin istighotsah dan tahlil. Gus Iyut menantu kedua kiai mendapat tugas sebagai pembaca surat Yasin, dan yang terakhir Gus Ban sebagai putra sulung mendapat tugas memimpin doa.

Setiap malam doa bersama di pesantren dihadiri ratusan warga. Selain dari warga sekitar pesantren, mereka juga datang dari berbagai penjuru desa yang pernah mengundang Kiai Hasan untuk berceramah. Para santri Kiai Hasan yang sudah memangku pesantren di daerah masing-masing juga menyempatkan hadir dalam acara tersebut. Mereka bersama membacakan doa dengan khusuk buat almarhum Kiai Hasan.

Malam terakhir atau malam ketujuh cuaca agak berbeda. Setelah asar hujan sempat menyambangi halaman pesantren. Hanafi sempat gusar. Dia khawatir halaman akan becek. Syukurlah hujan tidak terlalu lebat dan hanya sebentar. Halaman pesantren tidak terlalu bermasalah. Air hujan hanya menempel di ujung rerunputan di sekeliling halaman. Masih banyak bagian halaman yang bisa diduduki oleh hadirin.

Ratusan bahkan bisa diperkiran mencapai seribu orang memadati halaman pesantren. Mereka berasal dari berbagai penjuru desa. Satu tujuan mereka hadir di halaman pesantren. Turut mendoakan almarhum Kiai Hasan yang telah meninggalkan mereka pada tujuh hari yang lalu. Ribuan untai doa mereka panjatkan kepada Allah. Pahalanya dihadiahkan kepada ruh kiai yang selama ini membina dan mengarahkan mereka ke jalan yang diridhoi Allah. Semoga almarhum Kiai Hasan senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah subhanu wataala.

Hanafi mendongakkan wajah. Matanya menatap langit. Rembulan yang bergantung sendiri sinarnya putih seperti kapas. Jutaan bintang bertaburan mengitari rembulan. Hanafi yakin jutaan bintang itu merupakan jelmaan kenikmatan Kiai Hasan yang dikirim para santri dan warga melalui doa-doa yang mereka panjatkan selama tujuh hari. Hati Hanafi tenang dalam suasana khidmat di halaman pesantren. Doa-doa itu akan terus mengalir sepanjang masa buat sang kiai.  (*)

Lamongan, 9 Mei 2026

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kiai #cerpen #keagamaan #ilmu #doa