Oleh:
Ahmad Farid Yahya
Kepalanya terus berdenyut sejak semalam. Seorang dosen menghubunginya dan nyaris memaksanya datang keesokan hari. Ia telah memasuki semester 14 dan harus segera menyelesaikan skripsi sebelum sistem memblokirnya dari universitas. DO.
Ia datang ke kampus sesuai permintaan sang dosen. Di sepanjang jalan memasuki kampus, ia merasakan banyak hal berubah. Taman kampus yang lebih asri, kursi-kursi taman yang terbuat dari besi, dan bangunan kantin yang sudah tak lagi ia kenali.
Ia melihat segerombol mahasiswa tua dan gondrong berjalan santai sambil merokok. Dalam hatinya, mahasiswa-mahasiswa senior, keren sekali. Sejenak ia tersentak seolah gagal memahami waktu. Bukankah ia telah semester 14? Itu artinya ia lebih tua dari mereka. Ia kemudian melanjutkan niatnya menemui dosen yang semalam menghubunginya, dosen pembimbingnya.
Lama ia menunggu dosen pembimbingnya, tak kunjung terlihat. Beberapa kali ia mengetuk pintu ruangannya, sama, tak ada sahutan. Hasrat buang air besar menggoyahkannya. Ia memutuskan, jika pada ketukan ketiga tak ada sahutan juga, ia akan menyempatkan ke toilet terlebih dahulu. Dan setelah pintu diketuk, menguluk salam lagi, persis seperti dugaan, tak ada jawaban. Ia memutuskan pergi.
Baca Juga: Lembar Budaya: Algoritma dan Secangkir Kopi
Dalam tahun-tahun yang mengombang-ambingkannya, banyak hal telah berubah. Gedung-gedung di kampus telah berbeda. Bahkan tata letak ruang dosen telah diganti. Dosen yang dulu dosen biasa kini telah menjadi Kaprodi, dan yang dulu Kaprodi kini telah naik menjadi Dekan, serta yang dulu Dekan kini telah menjabat Direktur Pascasarjana.
Ia berjalan menuju lokasi toilet yang dulu biasa ia gunakan. Akan tetapi, jalan menuju ke sana seolah jalan yang asing. Penuh sampah bangunan seperti balok kayu, kursi rusak, dan serpihan-serpihan meja. Ia tetap ke sana sebab toilet itulah yang telah biasa dalam benaknya.
Ia membuka pintu toilet yang sepertinya tak pernah digunakan. Agak sulit, tetapi dengan sedikit usaha akhirnya ia bisa membukanya. Hal yang ia khawatirkan adalah air di dalamnya. Apakah saluran air di sana masih normal, atau telah rusak. Setelah ia membuka keran air, beruntungnya keran air masih berfungsi normal. Meski air di dalam bak sangat kotor, lantai tergenang air karena saluran pembuangan tersumbat, ia tetap memutuskan membuang hajatnya di sana.
Ia menggantung tasnya pada gantungan yang ada. Melepas sepatu, baju, kaos dalam, celana, celana dalam, dan mencantolkannya. Ia duduk di toilet. Mengeluarkan hajat. Memandang ke barang-barangnya yang bergantungan. Tiba-tiba ia jadi melankolis.
Ia teringat semasa kecil. Hidupnya tak pernah pusing memikirkan bagaimana masalah harus dirumuskan. Ia tak pernah kelimpungan berpikir bagaimana cara mencari makan. Ia tinggal berlari, tertawa, dan bahagia. Ia masih begitu ingat ketika ia kecil, sewaktu mengaji TPQ di tengah siang yang begitu panas, beberapa temannya izin ke belakang lalu mencelupkan kopyahnya pada bak wudu dan memakai kopyah tersebut lantas merasakan adem yang luar biasa. Tak cukup dengan kopyah, beberapa temannya memasukkan kepalanya utuh. Ia pun melakukan hal yang sama. Memasukkan kopyah. Kemudian mencelupkan kepalanya ke dalam bak wudu, secara utuh. Tetapi karena terlalu dalam, tubuhnya ikut tercebur, secara penuh, ke dalam bak wudu. Ia basah kuyup. Ia panik dan segera mentas, keluar dari bak wudu. Ia takut Pak Kiai melihatnya.
Seorang temannya datang—sepertinya juga izin ke belakang untuk mencelupkan kopyahnya—dan ia pun bilang pada temannya itu untuk minta bawakan tas dan barang-barangnya sepulang mengaji nanti. Sementara ia sendiri kabur, pulang ke rumah, sebab pakaiannya telah basah kuyup. Lamunannya buyar ketika menyadari bahwa temannya yang membawakan tasnya tersebut kini telah meninggal.
Selesai berak, ia memencet tombol siram. Akan tetapi, tombol tersebut tak berfungsi. Ia menyiramnya secara manual. Usaha ini jauh lebih lama dan sulit dari yang ia bayangkan. Tai itu lama berputar-putar, dan berkali-kali siraman sampai akhirnya terkulai menyerah jatuh ke dalam dan menghilang. Air itu berputar-putar di dalam lubang toilet. Kesadarannya juga berputar-putar. Ia kebingungan dengan waktu, dan ruang, yang memerangkap manusia. Ia lesu. Beberapa detik terdiam memandang air yang berputar di lubang toilet. Di lubang itu, ia melihat rangsangan yang tiba-tiba. Ia ingin mencelupkan kepalanya ke dalam lubang toilet itu. Barangkali akan sama ademnya seperti puluhan tahun lalu. Kesadarannya nyaris tak penuh. Ia melakukannya.
Ia memasuki dunia yang sama sekali lain. Ia melihat masa kecil seorang perempuan, dan perempuan itu adalah ia sendiri. Ia berlari, tertawa, dan bahagia. Ia masih begitu ingat ketika ia kecil, sewaktu mengaji TPQ di tengah siang yang begitu panas, beberapa temannya izin ke belakang lalu mencelupkan kerudungnya pada bak wudu dan memakai kerudung tersebut lantas merasakan adem yang luar biasa. Tak cukup dengan kerudung, beberapa temannya memasukkan kepalanya utuh. Ia pun melakukan hal yang sama. Memasukkan kerudung. Kemudian mencelupkan kepalanya ke dalam bak wudu, secara utuh. Tetapi karena terlalu dalam, tubuhnya ikut tercebur, secara penuh, ke dalam bak wudu. Ia basah kuyup. Ia panik dan segera mentas, keluar dari bak wudu. Ia takut Pak Kiai melihatnya.
Baca Juga: Lembar Budaya: Kresek Hitam di Pintu Subuh
Seorang temannya datang—sepertinya juga izin ke belakang untuk mencelupkan kerudungnya—dan ia pun bilang pada temannya itu untuk minta bawakan tas dan barang-barangnya sepulang mengaji nanti. Sementara ia sendiri kabur, pulang ke rumah, sebab pakaiannya telah basah kuyup. Lamunannya buyar ketika menyadari bahwa temannya yang membawakan tasnya tersebut kini telah meninggal.
Ia tergeragap dan mentas dari genangan lubang toilet. Napasnya tersengal. Rasanya seperti bertahun-tahun menjalani hidup yang asing. Ia bangkit berdiri. Kemudian memandang lubang toilet sekali lagi dan merasakan hal yang absurd. Ia membasuh muka dan hendak keluar sesegera mungkin karena teringat dengan dosen pembimbingnya. Ia merasa ada yang berkerak di sela-sela bokongnya. Ia merogohnya tetapi tangannya menyenggol bokong lebih dari biasanya. Kemudian ia membersihkan kerak kotoran yang telah kering tersebut. Keras sekali rasanya.
Ia terheran ketika memandang ke bawah. Dadanya menyembul. Bulat dan ranum. Ia segera merogoh alat vitalnya. Seperti ada yang hilang. Ia terbengong. Ia tersesat antara kenyataan dan mimpi, mimpi dan kenyataan. Ia mengambil barang-barangnya: sepatu, baju, kutang, rok, dan celana dalam. Ia memakainya segera.
Ia keluar dari toilet yang baginya asing. Seolah ia pernah melihat seseorang begitu akrab dengan lokasi ini, tetapi seperti bukan dirinya, tetapi seperti dirinya sendiri. Ia berjalan dengan susah payah sebab kursi-kursi rusak begitu banyak dan barang-barang sampah bangunan lebih banyak dari ingatan atau mimpinya terakhir kali.
Ia menuju ke ruang dosen tetapi tak ditemukannya nama dosennya pada pintu ruang yang menurutnya ruang dosennya. Ia menoleh ke sekeliling dan menemukan nama dosen pembimbingnya pada pintu yang lain. Tetapi di atas nama dosennya tertera: Direktur Pascasarjana. Ia bingung tetapi meneruskan langkah juga, dan mengetuknya. Hanya sekali ketukan dan pintu terbuka.
Pintu dibuka dan dosen pembimbingnya berdiri mematung. Ia melihat sang dosen dengan perawakan dan tampilan yang begitu aneh. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dan di mulutnya menempel masker. Barangkali flu, pikirnya.
Setelah beberapa detik saling diam, sang dosen mulai memarahinya habis-habisan. "Ke mana saja kau?! Disuruh segera mengerjakan skripsi dan membereskan kuliah, disuruh ke kampus bilangnya 'iya', malah hilang. Bertahun-tahun tak bisa dihubungi, tak ada yang tahu ke mana. Terus ke sini mau apa? Kamu sudah di-D.O. Kuliahmu habis. Selesai."
Ia sendiri yang kini berdiri mematung dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Pikirnya ia baru semalam dihubungi dosen untuk datang ke kampus dan ia datang tepat waktu, hanya telat barangkali 15 menit karena ke toilet. Akan tetapi, pikirannya itu sendiri perlahan demi perlahan juga mulai diragukannya. Ia menunduk. Tak bisa memandang dosennya yang masih mengomelnya. Dalam tundukannya itu, ia melihat dada yang ia rasa lebih berisi daripada biasanya.
Ia kemudian keluar ruangan setelah dosennya memarahinya bahkan dengan istilah-istilah yang asing di telinganya. Ia gagal paham. Ia kebingungan. Ia memutuskan untuk pulang.
Baca Juga: Lembar Budaya: Pertanyaan Keramat di Lebaran
Dalam perjalanan menuju tempat kendaraannya diparkir, ia melihat kampus yang sepi tanpa satupun mahasiswa. Ia merasa aneh sebab ingatannya mengatakan, tadi saat ia berangkat, kampus ini ramai oleh mahasiswa. Ia pun sampai di tempat parkir yang hanya terisi beberapa kendaraan saja. Ia melihat kendaraannya penuh debu seperti telah lama tidak digunakan. Ia membersihkannya. Ia kemudian duduk sejenak di atas kendaraannya dan menghela napas panjang seolah ini hari yang begitu melelahkan.
Ia membuka ponsel yang ada di tasnya. Ponselnya mati. Ia menyalakannya dan melihat begitu banyak pemberitahuan yang muncul. Ia membuka media sosial dan setiap unggahan mengabarkan hal yang sama, dengan istilah-istilah yang juga diucapkan oleh dosennya tadi: pandemi, covid-19, corona, PSBB, vaksin. Ia tak tahu semua hal itu.
Ia semakin pusing, kebingungan, dan semakin meragukan segala hal. Mana yang nyata dan mana yang mimpi. Ia hendak pulang tetapi kemudian bertanya-tanya. Pulang ke mana. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana