
Oleh:
Khoirul Abidin
Langit malam tampak cantik seperti perempuan remaja yang siap dijemput kekasih untuk kencan pertama. Di antara gema takbir dan percik petasan, laki-laki itu memandang daun-daun mangga yang oleh angin telah dipisahkan dengan rerantingnya. Dan seketika itu, laki-laki—yang sehari-hari minim senyum—itu merasa bahagia. Ia merasa reranting itu lebih menyedihkan daripada dirinya. Namun sedetik kemudian ia merasa jijik dengan dirinya sendiri karena pemikirannya itu.
Dari kejauhan, wajah-wajah bahagia penuh kemenangan perlahan mendekat. Sambil menikmati dengung nyamuk yang terbang di sekitar telinganya, laki-laki itu merasa telah membuat kesalahan, bahwa semestinya ia rebahan di kasur kamar saja sambil mendengarkan lagu-lagu dangdut lawas atau tidur daripada menyaksikan perayaan Malam Kemenangan yang sesekali mengharuskannya tersenyum atau mengangguk untuk membalas sapaan. Bukan, ini bukan hal yang berat dan melelahkan, namun baginya semua yang tak tulus tak pernah ada harganya.
Untuk kali kesekian, ia membakar rokok meski tidak benar-benar ingin merokok. Sejenak kemudian laki-laki itu diam-diam ingin kembali menjadi seperti bocah-bocah itu; menyoncong obor, bertakbir, dan bergembira sepanjang jalan. Atau jadi remaja-remaja itu; membanggakan knalpot blong motornya, melempari perempuan-perempuan sebaya dengan petasan, dan menenggak berbotol-botol arak setelahnya.
Benar, waktu terus berjalan dan tiap peristiwa pada akhirnya jadi hanya kenangan. Keinginan itu tak pernah terjadi. Waktu yang telah lewat tak pernah kembali. Laki-laki itu ingin menangis, tetapi ia tak pernah sudi melakukan hal yang tak berarti. Apa yang kemudian ia lakukan hanyalah diam.
Menjadi dewasa ternyata tak semenyenangkan bayangan pada masa remaja. Namun menyesali apa yang telah berlalu juga tak ada gunanya.
Ia menghela napas. Pundaknya terasa demikian berat. Menurutnya, dunia orang dewasa seringkali hanya menyuguhkan hal-hal palsu dan ia tidak terlalu berbakat dalam itu.
Udara terasa menyempitkan ruang dan tiang listrik di tepi perempatan jalan terlihat bagai seseorang yang dirangkul kekosongan. Mungkin akan lebih baik jika ia melakukan perjalanan yang jauh; meninggalkan semua yang akrab, menjumpai semua yang sama sekali belum dikenal. Namun ia khawatir, jangan-jangan semua itu hanya murni dan menyenangkan pada mulanya, lalu lama-kelamaan akhirnya semua itu akan sama saja; membosankan dan penuh tipuan.
Baca Juga: Lembar Budaya: Doa Permaisuri yang Terusir
*
Ketika Lebaran akhirnya tiba, ia sibuk menyiapkan diri agar terlihat biasa; tidak menonjol, tidak pula sebaliknya. Tujuannya sederhana sekali, yaitu supaya tidak jadi bahan utama obrolan orang-orang yang nanti ia temui. Namun ia ragu rencananya ini akan berhasil. Sebab, kadang-kadang yang menjadi ketertarikan seseorang pada seseorang bukanlah penampilan, melainkan diri seseorang itu sendiri.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





