
Oleh:
Mundzar Fahman
Mantan Wartawan Jawa Pos Tinggal di Bojonegoro
Ketika awal-awal setelah dilantik, Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto banyak memberikan optimisme kepada rakyat. Tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, saat ini banyak rakyat mulai pesimis. Mereka khawatir, harapan besar yang membuncah (meluap-luap) itu sulit menjadi kenyataan.
Pidato Prabowo di awal-awal menjabat sangat menggelegar. Suaranya tegas dan mantap. Isinya ngeri-ngeri sedap. Prabowo bilang akan mengejar para koruptor hingga ke Antartika sekalipun. Pidatonya berapi-api. Sering diwarnai dengan gebrak-gebrak meja. Beliau menyatakan rela mati demi NKRI. Mendengar isi pidato tersebut, mungkin banyak nitizen merinding.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, salah satu anggota Kabinet Merah Putih, langsung gercep (gerak cepat). Mungkin dia merasa mendapatkan dorongan moral dan amunisi dari sang presiden. Purbaya langsung benah-benah. Kantor Bea Cukai, perbankan, dan perpajakan dipelototi. Banyak keanehan ditemukan Purbaya di sana. Dia mulai bersih-bersih.
Banyak nitizen men-support Purbaya. Tidak pakai lama, Purbaya menjadi menteri yang sangat populer di mata sebagian besar nitizen. Setiap Purbaya muncul di publik, nitizen bertepuk tangan. Applaus panjang untuk Purbaya. Simpati nitizen terhadap Purbaya luar biasa. Tentu, juga simpati kepada pak presiden.
Baca Juga: Opini: Korupsi, Kemiskinan dan Kematian
Banyak nitizen semakin jatuh cinta kepada Purbaya. Apalagi, setelah Purbaya berani mengritik, mengobok-obok proyek Kereta Api Cepat Whoosh (Jakarta-Bandung) yang diduga di-mark up sangat tidak wajar itu. Banyak nitizen kian mengidolakan Purbaya.
Apa yang ditegaskan Prabowo dalam pidato-pidatonya, dan apa yang dilakukan Purbaya saat itu mampu menyihir banyak nitizen. Warga menaruh harapan besar bahwa Prabowo yang didukung kabinet gemuknya akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan besar warisan Jokowi. Apalagi, Kabinet Merah Putih, selain gemuk, isinya juga banyak tokoh sangat berpengalaman. Isi kabinetnya bukan kaleng-kaleng. Prabowo betul-betul memberikan optimisme baru.
Tetapi, ternyata, ibarat tanaman yang ditaruh di lahan tandus. Harapan besar itu semakin hari semakin meredup. Tumbuhan itu kian merana. Harapan besar yang sempat tumbuh itu terus mengecil. Yang muncul justru kekhawatiran, rasa pesimisme yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Pesimisme itu muncul terutama sejak Prabowo menyatakan bahwa masalah proyek kereta api cepat Whoosh akan ditanganinya langsung. Dan, ndilalah, sejak ada pernyataan Prabowo tersebut, Purbaya yang sebelumnya sangat keras menyoroti Whoosh, terkesan langsung diam. Sejak itu, Purbaya jarang muncul di publik. Dan, kalaupun muncul, Purbaya tidak lagi menyinggung Whoosh. Dia terkesan puasa bicara. Ada apa?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



