RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Waduk Grobogan atau juga bisa disebut Waduk Bendo adalah sebuah wisata berbasis permainan air dan juga tempat refreshing hingga kafe yang berada di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Bojonegoro.
Wisata ini sendiri dibuka oleh inisiatif para pemuda desa dan dibantu dengan pemerintah desa sekitar tahun 2017-2018 dengan memanfaatkan sebuah waduk yang terdapat di sekitar desa. Wisata Grobogan sempat ramai pada tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19 dengan berbagai macam wahana.
Di antaranya perahu bebek, rumah apung, ATV, dan berbagai wahana serta spot foto yang menarik. Bahkan, sempat mendapatkan sebuah bantunan dari Provinsi Jawa Timur. Dan, dari pihak pokdarwis setempat memanfaatkan bantuan tersebut dengan membangun kafe atap langit di sekitar waduk yang buka malam hari.
Namun, dimulai dengan adanya wabah Covid-19 tersebut, Wisata Waduk Grobogan mulai mengalami penurunan sedikit demi sedikit. Menurut Kepala Desa (Kades) Bendo Bambang Caroko, wisata tersebut saat pandemi Covid-19 masih tergolong lumayan jumlah pengunjungnya.
Namun, pada akhirnya wisata tersebut juga mengalami penurunan pengunjung dan berakhir sepi. ’’Tapi waktu Covid itu masih lumayan, pemasukan total itu belum pemasukan kotor itu hampir Rp 100 juta per tahun untuk waktu itu. Berjalanannya waktu juga kurang pengelolaan. Akhirnya, terjadilah sepi pengunjung. Pengurusnya juga tidak mau di sana tidak ada yang ngerumat (mengurus, Red),” ujarnya.
Pria berusia 54 tahun tersebut juga percaya bila ada yang mau mengurus wisata tersebut pasti akan bangkit lagi dan ramai. Selain itu, Bambang juga memiliki sebuah rencana ke depannya yang dimaksudkan untuk membangkitkan lagi potensi wisata yang terbengkalai tersebut dengan berkoordinasi kepada pemuda-pemuda desa untuk kembali mengurus dan mengelola Wisata Waduk Grobogan.
’’Kemarin juga saya sudah koordinasi dengan teman-teman karang taruna, BUMDes sudah kami buatkan, tapi memang masih belum berjalan. Karena memang pengelolaan waduk itu biayanya tinggi. Soalnya, mulai dari awal lagi,” tambahnya.
Selain itu, hambatan lain dari pembangunan wisata tersebut, selain biaya tinggi, Wisata Waduk Grobogan bukan merupakan asset pemerintah desa. Namun, dimiliki pemerintah pusat yakni Solo Valley. Sehingga, membuat pemerintah desa kesusahan untuk pengembangan dan menganggarkan penambahan-penambahan wisata yang ada di sekitar sana.
Bambang Caroko juga memiliki harapan Wisata Waduk Grobogan ada yang mengelola hingga bisa booming dan ramai lagi. Karena wisata ini juga bisa sebagai penambah pendapatan masyarakat dan tentunya desa. Selain itu, juga sebagai sarana branding desa meulalui wsiata yang ada di Desa Bendo.
’’Mudah-mudahan anak-anak muda mau bergerak peduli terhadap wisata yang ada di Desa Bendo,” pungkasnya. (naw/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana