Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Upah Tertinggal, Daya Beli Masyarakat Bojonegoro Tergerus Inflasi

Hakam Alghivari
Penulis: Hakam Alghivari❯
Buruh tani tembakau di Kecamatan Temayang sedang mengangkut daun tembakau.
Buruh tani tembakau di Kecamatan Temayang sedang mengangkut daun tembakau.

Advertisement

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Buruh di Bojonegoro menyuarakan tuntutan kenaikan upah layak. Selain itu, buruh juga meminta agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP RTMM) Bojonegoro, Anis Yuliati, menegaskan dua tuntutan utama yang menjadi perhatian buruh saat ini, yakni jaminan tidak adanya PHK serta kenaikan upah yang lebih layak.

Advertisement

"Pertama, tidak ada PHK di Bojonegoro. Kedua, buruh harus mendapatkan upah yang layak karena Bojonegoro masih tertinggal dibanding daerah lain," ujarnya.

Berdasarkan data upah minimum kabupaten (UMK) 2026, Bojonegoro berada di angka Rp2.685.983. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tuban sebesar Rp3.229.092 dan Lamongan sebesar Rp3.196.329.

Advertisement

Di sisi lain, tekanan terhadap daya beli masyarakat dinilai semakin nyata. Data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,79 persen secara tahunan (year-on-year), dengan kenaikan harga yang didorong oleh kelompok kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, dan tembakau, serta perumahan dan energi.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bojonegoro, Endang, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan dampak dari kenaikan biaya produksi atau cost push inflation, terutama dari sektor hulu seperti tekstil, kemasan plastik, hingga material lain.

"Kenaikan di sektor hulu seperti tekstil, kemasan plastik, dan lainnya akan berdampak hingga ke harga di tingkat konsumen," jelasnya.

Menurutnya, kenaikan harga yang tidak diimbangi pertumbuhan upah berpotensi menurunkan kesejahteraan masyarakat. Terlebih, inflasi yang terjadi secara terus-menerus akan menggerus daya beli, khususnya bagi pekerja.

"Kalau inflasi terjadi terus-menerus, daya beli pasti akan tergerus dan berdampak pada kesejahteraan," tegasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Data BPS: Inflasi Agustus 2026, Harga Ponsel dan Sektor Gadget di Bojonegoro Mengalami Deflasi

Data BPS: Inflasi Agustus 2026, Harga Ponsel dan Sektor Gadget di Bojonegoro Mengalami Deflasi

Ketika sebagian besar kelompok barang dan jasa mengalami kenaikan harga, sektor informasi, komunikasi, dan jasa keuangan di Kabupaten Bojonegoro justru mencatatkan tren sebaliknya.

 1.028 Perusahaan di Jepang Bangkrut, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

1.028 Perusahaan di Jepang Bangkrut, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Badai kebangkrutan melanda Jepang! Pada Juli 2026, 1.028 perusahaan gulung tikar akibat krisis tenaga kerja, pelemahan yen, dan kolapsnya raksasa kartu kredit Z

Warga Desa Kebal Terhadap Kenaikan Dolar AS? Berikut 3 Efek Domino yang Dirasakan!

Warga Desa Kebal Terhadap Kenaikan Dolar AS? Berikut 3 Efek Domino yang Dirasakan!

Benarkah warga desa kebal dari krisis nilai tukar mata uang asing? Analisis ekonomi ini membongkar efek domino lonjakan dolar AS yang langsung memukul petani pangan dan UMKM di pelosok daerah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer