Opini: Pendidikan Berdampak, Antara Filosofi Ki Hajar dan Realita Kurikulum

Oleh:
Choirul Anam
Ketua PAC Ansor Balen dan Operator Madrasah MI Bahrul Ulum 1 Bulu
Pagi itu, 2 Mei 2026, warung kopi kecil di pojok kampung belum sepenuhnya ramai. Tapi seperti biasa, obrolan sudah mengalir lebih dulu daripada kopi yang mengepul. Hari Pendidikan Nasional selalu punya cara sendiri untuk menyelinap ke dalam percakapan sehari-hari—kadang serius, kadang setengah bercanda, tapi tetap menggugah.
“Pendidikan itu sekarang makin ribet, ya?” celetuk Pak Darto sambil mengaduk kopi hitamnya.
Saya tersenyum. “Atau mungkin kita yang belum selesai memahami maknanya.”
Obrolan pun mengalir, dan entah bagaimana, nama Ki Hajar Dewantara ikut duduk di meja kami, meski hanya dalam ingatan dan gagasan.
Ki Hajar pernah bilang, pendidikan itu bukan sekadar mengisi kepala, tapi menuntun tumbuhnya potensi manusia. “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Kalimat itu sering kita hafal, tapi jarang kita kunyah pelan-pelan. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah proses memanusiakan manusia—bukan sekadar mencetak angka di rapor.
Di titik ini, saya jadi teringat bagaimana kita dulu belajar. Dari sekadar menghafal, memahami, sampai mencoba menerapkan. Dalam dunia pendidikan modern, ini dikenal sebagai Taksonomi Bloom. Tahapannya jelas: mulai dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis), evaluating (menilai), hingga creating (mencipta).
Masalahnya, sering kali kita berhenti di dua tahap pertama. Anak-anak kita pandai menghafal, tapi gagap ketika diminta berpikir kritis. Mereka bisa menjawab soal pilihan ganda, tapi bingung saat diminta merumuskan pertanyaan. Di sinilah pendidikan kehilangan “dampaknya”—ia menjadi rutinitas, bukan transformasi.
Pak Darto mengangguk pelan. “Berarti dari dulu sampai sekarang, yang berubah cuma nama ujiannya?”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




