Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Pendidikan Berdampak, Antara Filosofi Ki Hajar dan Realita Kurikulum

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
CALON MAHASISWA: Siswa SMA di Bojonegoro bakal melanjutkan ke perguruan tinggu, pemkab menyediakan beasiswa dari APBD 2026. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
CALON MAHASISWA: Siswa SMA di Bojonegoro bakal melanjutkan ke perguruan tinggu, pemkab menyediakan beasiswa dari APBD 2026. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Oleh:
Choirul Anam
Ketua PAC Ansor Balen dan Operator Madrasah MI Bahrul Ulum 1 Bulu

 

Advertisement

Pagi itu, 2 Mei 2026, warung kopi kecil di pojok kampung belum sepenuhnya ramai. Tapi seperti biasa, obrolan sudah mengalir lebih dulu daripada kopi yang mengepul. Hari Pendidikan Nasional selalu punya cara sendiri untuk menyelinap ke dalam percakapan sehari-hari—kadang serius, kadang setengah bercanda, tapi tetap menggugah.

“Pendidikan itu sekarang makin ribet, ya?” celetuk Pak Darto sambil mengaduk kopi hitamnya.

Saya tersenyum. “Atau mungkin kita yang belum selesai memahami maknanya.”

Advertisement

Obrolan pun mengalir, dan entah bagaimana, nama Ki Hajar Dewantara ikut duduk di meja kami, meski hanya dalam ingatan dan gagasan.

Ki Hajar pernah bilang, pendidikan itu bukan sekadar mengisi kepala, tapi menuntun tumbuhnya potensi manusia. “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Kalimat itu sering kita hafal, tapi jarang kita kunyah pelan-pelan. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah proses memanusiakan manusia—bukan sekadar mencetak angka di rapor.

Di titik ini, saya jadi teringat bagaimana kita dulu belajar. Dari sekadar menghafal, memahami, sampai mencoba menerapkan. Dalam dunia pendidikan modern, ini dikenal sebagai Taksonomi Bloom. Tahapannya jelas: mulai dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis), evaluating (menilai), hingga creating (mencipta).

Masalahnya, sering kali kita berhenti di dua tahap pertama. Anak-anak kita pandai menghafal, tapi gagap ketika diminta berpikir kritis. Mereka bisa menjawab soal pilihan ganda, tapi bingung saat diminta merumuskan pertanyaan. Di sinilah pendidikan kehilangan “dampaknya”—ia menjadi rutinitas, bukan transformasi.

Pak Darto mengangguk pelan. “Berarti dari dulu sampai sekarang, yang berubah cuma nama ujiannya?”

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Lebih dari Seribu Anak Berkebutuhan Khusus di Blora Masih Tak Sekolah

Lebih dari Seribu Anak Berkebutuhan Khusus di Blora Masih Tak Sekolah

Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Blora masih sekitar 2.900 anak. Angka tersebut turun dari data awal sebanyak 3.869 anak setelah dilakukan verifikasi dan pemadanan data.

Fenomena Pengangguran Terdidik, Ketika Gelar Sarjana Tak Menjamin Pekerjaan

Fenomena Pengangguran Terdidik, Ketika Gelar Sarjana Tak Menjamin Pekerjaan

Memiliki gelar sarjana selama ini kerap dianggap sebagai salah satu jalan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup.

Kupas Potensi Dana Abadi Daerah Bidang Pendikan Bojonegoro: Mengonversi SDA Menjadi SDM

Kupas Potensi Dana Abadi Daerah Bidang Pendikan Bojonegoro: Mengonversi SDA Menjadi SDM

Guna mewujudkan mimpi besar itu, paparan Bappeda merincikan roadmap pencapaian akumulasi pokok Dana Abadi dengan target fantastis mencapai Rp 3 Triliun pada kurun waktu 2026-2030.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer