Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Haji, Antara Panggilan Langit dan Realitas Bumi

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
HAJI 2026: Jemaah haji Indonesia menerima uang saku sebesar 750 Riyal.
HAJI 2026: Jemaah haji Indonesia menerima uang saku sebesar 750 Riyal.

Advertisement

 

Oleh:
SUPRAPTO ESTEDE
Dosen STIE Cendekia Bojonegoro

 

Advertisement

Setiap musim haji tiba, kita selalu disuguhi pemandangan yang sama: wajah-wajah haru, pelukan yang tak ingin dilepas, serta doa-doa yang mengalir di antara langkah kaki yang perlahan menuju keberangkatan. Ada yang tersenyum, ada yang menangis, dan hampir semuanya membawa satu rasa yang sama: merasa dipanggil.

Namun di balik suasana sakral itu, tersimpan realitas yang tidak sederhana. Ibadah haji hari ini tidak hanya berdiri sebagai perjalanan spiritual. Ia juga bersinggungan dengan sistem, antrean panjang, biaya besar, dan dinamika sosial yang kompleks. Di titik inilah, haji berada di antara dua kutub: panggilan langit dan realitas bumi.

Di Indonesia, daftar tunggu haji bisa mencapai puluhan tahun. Tidak sedikit orang yang mendaftar di usia produktif, baru berangkat ketika rambut sudah memutih, bahkan ada yang tidak sempat berangkat karena kematian lebih dahulu datang. Maka pertanyaannya cukup menggugah: apakah panggilan itu benar-benar datang dari langit semata, atau juga ditentukan oleh sistem yang kita bangun di bumi?

Secara teologis, haji diwajibkan bagi mereka yang mampu. Namun makna “mampu” kerap direduksi menjadi sekadar kemampuan finansial. Padahal dalam kenyataannya, ada dimensi lain yang tidak kalah menentukan, yaitu: akses, kesempatan, dan keadilan distribusi. Ketika seseorang bisa berangkat berkali-kali melalui jalur khusus, sementara yang lain harus menunggu seumur hidup, kita dihadapkan pada sebuah dilema etis yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lebih jauh lagi, fenomena haji juga tidak lepas dari konstruksi sosial. Gelar “Haji” atau “Hajah” di masyarakat kita memiliki bobot simbolik yang kuat. Ia di samping penanda ibadah, juga status sosial. Tidak jarang, identitas ini lebih menonjol di ruang publik dibandingkan transformasi akhlak yang seharusnya menyertainya. Kita pun dipaksa bertanya: apakah haji telah menjadi perjalanan pulang menuju Tuhan, atau justru perjalanan naik kelas dalam struktur sosial?

Di sisi lain, modernitas juga membawa wajah baru dalam pelaksanaan haji. Fasilitas yang semakin beragam, paket layanan yang semakin eksklusif, hingga kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai penyelenggara, menunjukkan bahwa haji kini juga menjadi bagian dari sebuah “industri”. Di satu sisi, ini memudahkan jamaah. Namun di sisi lain, ia berpotensi mengikis nilai kesederhanaan yang menjadi ruh dari ibadah itu sendiri.

Padahal, esensi haji tidak pernah berubah. Ia adalah perjalanan menanggalkan atribut duniawi: pakaian dijadikan seragam, status dilebur, dan manusia berdiri setara di hadapan Tuhannya. Di Arafah misalnya, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua larut dalam satu kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya lemah dan membutuhkan ampunan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Imbas Kecelakaan Dua Kloter di Jabal Magnet, Jemaah Haji Indonesia Dilarang Ziarah dan City Tour Sebelum ke Armuzna

Imbas Kecelakaan Dua Kloter di Jabal Magnet, Jemaah Haji Indonesia Dilarang Ziarah dan City Tour Sebelum ke Armuzna

Larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kemenhaj RI Nomor S-88/BN/2026. Sesuai edaran tersebut, jemaah haji dilarang melakukan ziarah dan city tour sebelum tiba di Armuzna untuk melaksanakan puncak ibadah haji

1.741 Jemaah Haji Bojonegoro Berangkat Menuju Tanah Suci

1.741 Jemaah Haji Bojonegoro Berangkat Menuju Tanah Suci

Sebanyak 1.741 jemaah haji asal Kabupaten Bojonegoro diberangkatkan menuju Tanah Suci pada Jumat (1/5) dini hari dari Pendopo Malowopati. Dalam momen tersebut, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengingatkan jemaah untuk

Simak Jadwal Wukuf Arafah 2026 dan Rangkaian Puncak Ibadah Haji 1447 H

Simak Jadwal Wukuf Arafah 2026 dan Rangkaian Puncak Ibadah Haji 1447 H

Jangan sampai terlewat! Cek jadwal Wukuf Arafah 2026, rincian hari tasyrik, dan panduan puncak haji 1447 H berdasarkan dokumen resmi Kemenhaj RI untuk jemaah Indonesia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer