Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ingin Mengintip Dokumen Epstein Files, Namun Malas Membaca? Bisa Pakai Jmail, Begini Caranya

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 4 Februari 2026 | 17:43 WIB
(Twitter Riley Walz)
(Twitter Riley Walz)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pengungkapan rekam jejak kriminal pebisnis Amerika Serikat, Jeffrey Epstein sepanjang hayatnya membuat masyarakat dunia geger sekaligus penasaran. Pasalnya banyak tokoh dunia dan lokasi yang masuk dalam jerat lingkar kejahatan seksual yang dipimpinnya, sehingga membuka mata publik akan seram dan kejinya perbuatan elit global.

Sejak November 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyetujui lepasnya segel investigasi dan barang bukti kasus kejahatan yang dilakukan oleh Epstein melalui UU Transparansi Berkas Epstein (Epstein Files Transparency Act). Kebetulan, Trump sebagai mantan pebisnis juga banyak disebut dalam berkas-berkas tersebut, dan transparansi kasus terebut juga merupakan salah satu janji kampanyenya pada 2024 lalu.

Saat ini, Departemen Adhyaksa Amerika Serikat (Department of Justice, DoJ) telah membuka segel Berkas Epstein hingga mencakup 12 bab, dengan pembukaan terbaru untuk publik dilakukan pada Senin (2/2) yang mencakup bab 9 hingga 12. Semua berkas yang telah ditampilkan ke hadapan publik dapat diakses secara resmi melalui Pustaka Epstein (Epstein Library) milik departemen tersebut, yang dapat diakses melalui link berikut ini.

Namun bagi mereka yang ingin menelaah isi berkas tersebut, tentu sangat melelahkan bila harus membuka berkas satu per satu. Untungnya, dua orang programmer punya ide untuk memudahkan publik membaca isi korespondensi antara Epstein dengan para tokoh dunia yang terjerat dalam kasus tersebut.

Beberapa hari setelah Berkas Epstein dilepas ke publik, seorang perancang perangkat lunak, Riley Walz dan kawannya yang bekerja di bidang kecerdasan buatan (AI), Luke Igel membuat website bernama Jmail. Anda tidak salah baca, Jmail merupakan pelesetan dari Google Mail alias Gmail, dan memang sengaja dibuat demikian karena mayoritas korespondensi Epstein terjadi melalui surel Gmail miliknya semasa hidup.

Melalui Jmail, Walz dan Igel menyajikan korespondensi Epstein dengan tampilan mirip kotak masuk Gmail seolah-olah pengguna merupakan Epstein sendiri, sesuai berkas yang diterbitkan oleh DoJ dan Komite Pengawasan AS (House Oversight Committee, HOC). Secara garis besar, Jmail menyajikan email yang dikirim dan diterima oleh Epstein, serta mengungkap tokoh-tokoh yang sering berhubungan dengannya.

Ada beberapa email dari dan untuk Epstein yang membahas tentang Indonesia dan Bali, terutama dalam kasus belanja online dan bisnis perhotelan. (Tangkapan Layar)
Ada beberapa email dari dan untuk Epstein yang membahas tentang Indonesia dan Bali, terutama dalam kasus belanja online dan bisnis perhotelan. (Tangkapan Layar)

Sama seperti Gmail, Jmail juga menyediakan kolom pencarian untuk mencari korespondensi tertentu. Misal ingin mencari korespondensi dengan Bill Gates dan Elon Musk, atau mencari email yang menyinggung tentang Indonesia atau Bali, langsung dapat ditampilkan.

Jmail dapat diakses melalui link berikut ini. Seiring waktu, selain korespondensi email, Walz dan berbagai kontributor lain juga menyusun barang bukti tindak kejahatan Epstein dalam berbagai bentuk laman parodi yang lain. Misal foto-foto dapat dilihat dalam fitur Jphotos dan Jacebook, dugaan perdagangan manusia berkedok belanja online dapat dilihat melalui fitur Jamazon, dan dokumen barang bukti asli dapat diunduh melalui Jdrive. Bahkan kini sistem AI dapat membantu membahas isi dokumen barang bukti tersebut, dengan nama Jemini alih-alih Gemini.

Menurut Igel, selain lebih mudah dan enak dibaca, dirinya dan Walz sengaja membuat laman kotak masuk tiruan tersebut karena barang bukti yang diterbitkan oleh DoJ dan HOC memiliki kualitas kurang baik, sehingga sulit dibaca. Penyebabnya, kedua badan pemerintah tersebut perlu mencetak ulang email agar dapat ditempatkan dalam bentuk dokumen kertas.

“Email di dalam dokumen susah dibaca. Rasanya bakal lebih terasa dampaknya kalau tangkapan layar email langsung disajikan, namun yang kita peroleh adalah hasil scan dokumen dalam kualitas rendah. Sehingga perlu meyakinkan diri lebih dalam kalau yang kita lihat aslinya email,” jelas Igel dalam wawancaranya bersama Wired.com November lalu.

Namun sebaliknya, menyulap berkas dokumen cetak menjadi konten internet cukup mudah bagi Walz dan Igel, dan keduanya hanya butuh waktu kurang dari sehari untuk merilis karya mereka. Tentu seiring dengan makin banyaknya barang bukti yang dipublikasikan, mereka juga menggandeng sesama programmer untuk membantu mereka.

“Pertama-tama, kamin mengubah kembali format dokumen dari dokumen cetak menjadi susunan format email. Kemudian dari situ, kami mengunggah dokumen dalam tampilan mirip Gmail,” papar Igel.

Hingga saat ini, Jmail merangkum lebih dari 11 ribu email korespondensi Epstein dan para tangan kanannya sejak 2009 hingga 2019, ketika Epstein diduga meninggal akibat gantung diri di dalam penjara. Menurut Walz, seluruh email dan foto tersebut dirangkum dari total tiga juta dokumen.

 “Saat ini, kelompok kami berjumlah sepuluh orang sedang bekerja menambahkan data sebesar 300 GB ke dalam website,” jelas Walz melalui media sosial pribadinya pada minggu lalu (31/1). (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#amerika serikat #Google Mail #gmail #donald trump #indonesia #dokumen #berkas Epstein #bill gates #Barang Bukti #kejahatan #email #jeffrey epstein #surel #Epstein Files #kriminal #berkas #Epstein