LAMONGAN, Radar Lamongan - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI melakukan eskavasi struktur batu putih di sekitar Makam Mbah Supendem, kemarin (24/6). Lokasinya berada di sebelah timur Makam Islam Kelurahan Jetis. Kegiatan eskavasi ini dijadwalkan lima hari sejak Sabtu (23/6). Struktur batu putih tersebut diduga bangunan kuno, yang masuk dalam benda cagar budaya.
Ketua Tim Survei dari BPK Wilayah XI, Muhammad Ichwan mengatakan, bahwa kegiatan eskavasi ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan survei pada Bulan Desember tahun lalu, bersama tim pemerhati budaya Lamongan.
‘’Kegiatan kami adalah kegiatan penyelamatan. Tujuannya untuk mengetahui dari indikasi struktur batu putih di punden Mbah Pendem (Supendem, Red) yang ada di kelurahan ini,’’ tutur Ichwan.
Dia berharap eskavasi ini bisa diketahui potensi struktur, denah, dan dimensinya. Pihak BPK Wilayah XI menggunakan metode arkeologi eskavasi dengan sistem grid yang dibuat kotak-kotak. Pertama 16 meter x 16 meter, yang di dalamnya per kotak ukuran 2 meter x 2 meter. Kemudian dilakukan penggalian di lokasi tersebut.
‘’Untuk penggalian, kami mengetahui beberapa sampel sampai lapis terbawah,’’ ujarnya.
Disinggung terkait usia struktur batu putih tersebut. Ichwan mengaku belum memiliki angka pasti. Harus dicari terlebih dulu referensi dari sumber skunder, terkait adanya prasasti pada strukur tersebut. Nantinya akan diambil sampel.
‘’Dari struktur tadi didapatkan batu lepas, ada yang polos dan ada yang profil,’’ imbuhnya.
Ichwan mengaku sudah mendapatkan indikasi sudut barat daya, tepian barat, dengan target bisa ditemukan denahnya terlebih dulu. ‘’Karena untuk bentuk seperti apa, perlu waktu lama,’’ katanya.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Lamongan, Supriyo menuturkan, ini merupakan tindak lanjut survey sebelumnya. Tujuannya untuk melihat potensi tentang situs peninggalan purbakala berupa struktur bangunan, yang terlihat batu di atasnya.
‘’Masih pembuktian, kita belum tahu persis hasil penggalian. Ini menunjukkan ada struktur bangunan dari masa kuno. Ini masih menjadi pertanyaan,’’ tukasnya.
Priyo, sapaan akrabnya memperkirakan, struktur bangunan diduga cagar budaya ini lebih tua dibanding pohon dan makam di atasnya (Makam Mbah Supendem). Diperkirakan usia pohonnya mencapai 500 tahunan.
‘’Karena cukup tua, apalagi di atas tumbuhan,’’ imbuhnya.
Bagi warga sekitar, Makam Mbah Supendem tak asing. Warga sekitar meyakini jika Mbah Supendem merupakan seorang ahli di bidang pertanian. Sehingga ketika hendak tanam atau panen padi, maka sejumlah warga mengadakan ziarah dan membawa tumpeng ke makam tersebut.
‘’Setiap ada kegiatan di bidang pertanian pasti ke sini,’’ tutur Dumadi, Ketua RT 02/ RW 03 Jetis Lamongan sekaligus Penasihat Paguyuban Makam Mbah Supendem.
Warga setempat juga mengajak ke sumur tua yang jaraknya sekitar 50 meter dari lokasi Makam Mbah Supendem. Selain Suwadi, salah satu warga setempat mengakui sumur ini tidak pernah kering.
‘’Meskipun kemarau panjang, tidak pernah habis airnya,’’ ujarnya. (sip/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana