Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Padel, Tenis Versi Mini Kesukaan Pemuda Indonesia

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 6 Juli 2025 | 02:39 WIB
(Dok. Red Bull)
(Dok. Red Bull)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dewasa ini, selain berbagai bentuk olahraga yang lebih dulu populer seperti lari, bersepeda dan futsal, banyak kegiatan olahraga santai yang makin digemari oleh kalangan pemuda dan dewasa muda Indonesia, terutama di kalangan menengah keatas. Sekilas olahraga ini mirip tenis, namun cara bermainnya cukup berbeda.

Olahraga tersebut adalah padel, yang mulai dikenal di berbagai belahan dunia pasca pandemi Covid-19. Berbeda dengan tenis, squash dan badminton yang berasal dari Inggris, padel berasal dari Meksiko.

Padel diperkirakan diciptakan pada tahun 1969 oleh Enrique Corcueara, pengusaha asal kota Acapulco. Alkisah, Enrique punya lapangan squash di rumahnya, namun suatu hari dia ingin bermain tenis, yang membutuhkan net dan lapangan yang lebih luas.

Sebagai catatan, dalam pertandingan squash, net diganti dengan dinding untuk memantulkan bola ke arah lawan. Selain itu, para pemain sama-sama menghadap ke arah dinding tersebut.

Ide Enrique berhasil, namun karena squash menggunakan dinding solid, tidak ada yang dapat menonton pertandingan padel. Sehingga seiring waktu dinding tersebut diganti dengan kaca, agar penonton bisa melihat permainan padel.

Seiring waktu, padel disebarkan ke luar Meksiko oleh dua orang, yakni kawan Enrique, Alfonso Hohenlohe-Langenburg dari Spanyol, dan teman Alfonso, Julio Menditeguy dari Argentina. Namun kepopuleran pade baru terasa pada era pandemi dan pasca pandemi.

Padel dimainkan dalam lapangan berukuran 10 x 20 meter dengan dinding kaca atau besi, kurang lebih seperempat lapangan tenis. Selain itu, permukaan lapangan dapat terbuat dari kayu, beton atau rumput artifisial. Kurang lebih, padel bisa dikatakan sebagai futsal-nya tenis karena sama-sama lebih kecil dan dimainkan dalam ruangan.

Sama seperti tenis, padel menggunakan net untuk memisah area bermain dua kubu, dengan tinggi 33 centimeter. Berbeda dengan tenis, padel lebih populer dimainkan dalam nomor ganda.

Peralatan yang digunakan untuk bermain padel sama seperti tenis, yakni menggunakan raket dan bola. Namun raket untuk padel tidak menggunakan senar, tetapi menggunakan permukaan solid dengan isian busa atau plastik.

 Baca Juga: Lari Malam Hari: Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kualitas Tidur

Cara bermain padel juga serupa dengan tenis, namun ada beberapa perbedaan dalam teknik dan peraturan bermain. Servis wajib dilakukan underhand atau dari bawah, dan wajib ke arah diagonal atau miring, tidak seperti tenis dan bulutangkis yang bisa langsung lurus.

Namun sama seperti tenis dan tenis meja, bola operan boleh dipukul di atas kepala, dan idealnya memantul sekali di lapangan sebelum dapat dipukul lawan. Jika bola tidak dapat dipukul balik dan memantul dua kali, maka pemain mendapatkan skor, namun jika bola memantul ke dinding setelah pantulan pertama, bola dapat dikembalikan sebelum mendarat ke lapangan.

Selain itu, sama seperti tenis dan tenis meja, lawan mendapat skor jika servis tidak memantul ke tanah. Skor juga diberikan ke lawan apabila bola mengenai net atau langsung mengarah ke dinding.

Akhirnya, peraturan skor padel sama seperti tenis. Padel dimainkan dalam tiga atau lima set, dengan peraturan skor 15-30-45-game. Satu set dapat dimenangkan jika pemain lebih dulu mencetak enam game.

Jika dua kubu sama-sama mencapai skor 40, maka perlu dua kali skor ekstra untuk memenangkan satu game. Namun dalam pertandingan profesional dewasa ini, terkadang hanya perlu satu skor untuk merebut satu game. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#santai #olahraga padel #Tenis #olahraga #padel #squash #badminton #tenis meja #meksiko