RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sebagai Kota Migas, Teksas Wonocolo menjadi ikon fenomenal. Terletak di wilayah barat laut, tepatnya Kecamatan Kedewan. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Secara geografis didominasi dataran tinggi dan kawasan hutan. Kilang minyak tradisionalnya menjadi daya pikat tersendiri.
Potensi alam dan wisata kecamatan satu ini pun tak kalah dengan lainnya, dari pertanian jagung; peternakan sapi; agro terong, bawang merah, rambutan, alpukat, dan kebun kopi; kuliner nasi gulung dan kare ayam kluwek; hingga Geopark Teksas Wonocolo dan Agroforestri Dusun Dangilo, Desa Hargomulyo.
Camat Kedewan Mudlofir menyampaikan, bentangan alam di Kecamatan Kedewan dapat dimanfaatkan sebagai wisata unggulan. Terlebih adanya hamparan hutan dan pegunungan yang sejuk layaknya Batu dan Malang.
‘’Rencana pegiat wisata lokal dicarikan investor. DPMPTSP (dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu) seharusnya bisa memfasilitasi,’’ ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar) menentukan potensi wisata mana saja yang bisa dijadikan unggulan Bojonegoro. Tidak perlu banyak, misal lima wisata unggulan termasuk Kecamatan Kedewan
‘’Rencana kami nanti dibuat wisata terintegrasi tidak hanya satu titik. Karena ini kelemahan wisata Bojonegoro, tidak banyak pilihan sehingga wisatawan enggan berkunjung karena monowisata,’’ katanya.
Mudlofir melanjutkan, gagasan menjadikan Kecamatan Kedewan sebagai wisata terintegrasi sudah terkonsep, menggunakan hardtop untuk keliling menikmati bukit dan hutan dengan view yang memanjakan mata pengunjung. ‘’Sebenarnya hardtop dan zip sudah siap milik pokdarwis (kelompok sadar wisata). Sayangnya WC saja tidak ada apalagi kamar mandi buat wisatawan,’’ keluhnya.
Namun, lanjut dia, masih terkendala investor dan kurangnya perhatian organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Niatnya mengundang DPMPTSP dan disbudpar pascalebaran. Mengupas potensi wisata di Kecamatan Kedewan.
‘’Dukungan perhutani, pokdarwis, SDM operasional sudah oke. Tinggal dukungan investor. Nanti kita adu konsep pengembangan wisata dengan disbudpar dan DPMPTSP. Harus ada sejarah biar Bojonegoro benar-benar punya wisata tidak seperti saat ini yang hanya sebagai syarat saja,’’ sindir dia. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana