Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tuwuh Handayani Mendapat Gelar Doktor di Usia 52 Tahun

D
Penulis: Dewi Safitri❯
Tuwuh Handayani Bergelar Doktor di Usia 52 Tahun
Tuwuh Handayani Bergelar Doktor di Usia 52 Tahun

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – USIA bukan penghalang untuk terus belajar. Di usia 52 tahun, Tuwuh Handayani berhasil menuntaskan pendidikan doktor (S-3) Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan IPK 4,00, predikat cumlaude.

Kepala SD Negeri Ngambon I Bojonegoro tersebut mengaku, tekad melanjutkan studi lahir dari keinginan untuk terus mengembangkan kompetensi sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan.

Baginya, gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik. Tapi, menjadi bekal untuk menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi sekolah, guru, peserta didik, hingga pengambil kebijakan.

‘’ S-3 bagi saya merupakan bentuk komitmen untuk terus bertumbuh, berkontribusi, dan meninggalkan karya yang dapat memberikan manfaat jangka panjang,’’ ujarnya.

Perjalanan menuju gelar doktor tidak mudah. Tuwuh harus membagi waktu antara studi, pekerjaan sebagai kepala sekolah, serta tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Menyusun disertasi menjadi tantangan terbesar di tengah padatnya aktivitas.

Advertisement

Di balik perjuangannya, doa serta dukungan suami dan anak-anak menjadi kekuatan utama. Saat rasa lelah dan keinginan menyerah muncul, ia memilih beristirahat sejenak, lalu kembali melangkah. Menurutnya, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga ketekunan, kesabaran, disiplin, dan kemauan bangkit dari setiap kesulitan.

Ke depan, Tuwuh ingin terus berkontribusi melalui penelitian dan inovasi pendidikan, khususnya pengembangan sekolah berwawasan lingkungan. Hasil risetnya tentang evaluasi Program Adiwiyata dan pengembangan ekoliterasi siswa diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Perempuan tinggal di Desa/Kecamatan Ngambon tersebut berpesan, agar masyarakat tidak menjadikan usia sebagai alasan berhenti belajar. Sebab, pendidikan bukan sekadar gelar, tapi juga tentang proses menjadi pribadi yang lebih baik dan memberi manfaat lebih luas bagi sesama.

‘’Jangan menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Yang lebih penting bukan seberapa cepat kita mencapai tujuan, tetapi kemauan untuk terus melangkah,’’ pungkasnya. (ewi/msu)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Moh. Burhanudin: Kampanyekan Seni dan Budaya Lokal

Moh. Burhanudin: Kampanyekan Seni dan Budaya Lokal

BERLATAR belakang sebagai guru seni budaya sekaligus seniman, Moh. Burhanudin akrab dengan kearifan lokal dan budaya sekitar. Dari seni dan budaya, ia mengaku, jadi lebih memahami nilai-nilai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda

Nanin Meipuspa Ranie: Menjaga Ilmu Bahasa Jepang

Nanin Meipuspa Ranie: Menjaga Ilmu Bahasa Jepang

KESIBUKAN sebagai kepala sekolah tidak membuat Nanin Meipuspa Ranie meninggalkan dunia yang pernah digelutinya.

Abdul Jalil: Cinta Sastra

Abdul Jalil: Cinta Sastra

Dunia sastra dan teater menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Abdul Jalil. Pria bergelar Magister itu mengemban amanah sebagai Kepala UPT SMAN 1 Sugihwaras Bojonegoro

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer